Iklan

Iklan

,

Izman Latif: Mari Jadikan Tahun Baru Hijriah Momentum Memelihara Semangat Hijrah

Tim Redaksi
Minggu, 21 Juni 2026, 05:57 WIB Last Updated 2026-06-20T22:57:43Z

 


YOGYAKARTA – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Izman Latif, mengajak umat Islam menjadikan Tahun Baru 1448 Hijriah sebagai momentum untuk memperkuat semangat hijrah menuju kehidupan yang lebih baik.


Ajakan tersebut disampaikan dalam khutbah Jumat di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan, Jumat (19/6/2026).


Mengawali khutbahnya, Izman Latif mengingatkan jamaah tentang firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan bahwa jumlah bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, di antaranya terdapat empat bulan haram yang memiliki kemuliaan khusus.


Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa pengaturan waktu merupakan bagian dari ketetapan Allah sejak penciptaan langit dan bumi. Dari ketetapan itu, manusia mengenal dua sistem kalender yang digunakan hingga saat ini, yaitu kalender syamsiah dan kalender qamariah.


Ia menjelaskan bahwa kalender syamsiah didasarkan pada peredaran bumi mengelilingi matahari dan digunakan secara luas di dunia internasional. Kalender ini dikenal sebagai kalender Masehi karena perhitungan tahunnya dikaitkan dengan kelahiran Nabi Isa a.s. Adapun kalender qamariah didasarkan pada peredaran bulan dan menjadi dasar penanggalan Hijriah yang dimulai dari bulan Muharram hingga Zulhijah.


“Keduanya dalam satu tahun berjumlah dua belas bulan sebagaimana firman Allah,” ujarnya.


Izman menegaskan bahwa penyebutan kalender Hijriah sebagai kalender Islam tidak berarti kalender Masehi merupakan kalender non-Islam. Menurutnya, kedua sistem tersebut sama-sama berlandaskan sunnatullah karena mengikuti keteraturan benda-benda langit yang tunduk sepenuhnya kepada hukum Allah.


Ia kemudian mengutip Surah Yasin ayat 40 yang menjelaskan bahwa matahari dan bulan bergerak pada garis edar masing-masing tanpa saling mendahului. Keteraturan kosmis tersebut menjadi dasar perhitungan waktu yang digunakan manusia dalam berbagai aktivitas, termasuk pelaksanaan ibadah.


Dalam penjelasannya, ia menerangkan bahwa jadwal salat sehari-hari lebih banyak mengikuti perhitungan syamsiah berdasarkan posisi bumi terhadap matahari. Karena itu, waktu Zuhur pada tanggal tertentu relatif tetap dari tahun ke tahun. Sebaliknya, kalender qamariah terus bergeser terhadap kalender syamsiah sehingga waktu pelaksanaan puasa Ramadan maupun hari-hari besar Islam berubah setiap tahun.


“Karena itu kedua sistem kalender tersebut tetap kita gunakan secara bersama-sama,” katanya.


Pada bagian utama khutbahnya, Izman mengajak jamaah merenungkan makna penetapan peristiwa hijrah Nabi Muhammad saw. sebagai titik awal kalender Islam. Menurutnya, pemilihan hijrah sebagai awal penanggalan Hijriah bukanlah tanpa alasan.


Ia menjelaskan bahwa terdapat banyak peristiwa besar dalam kehidupan Rasulullah saw., seperti kelahiran, pengangkatan sebagai nabi, kemenangan dalam Perang Badar, maupun Fathu Makkah. Namun para sahabat memilih peristiwa hijrah sebagai awal kalender Islam karena peristiwa itu menjadi titik strategis perkembangan dakwah dan peradaban Islam.


“Hijrah dianggap sebagai titik awal perkembangan Islam,” ujarnya.


Untuk menguatkan pandangannya, ia mengutip Surah Al-Baqarah ayat 218 yang menempatkan hijrah sejajar dengan iman dan jihad. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah adalah mereka yang mengharapkan rahmat Allah.


Menurutnya, kedudukan hijrah yang disejajarkan dengan iman dan jihad menunjukkan betapa pentingnya nilai hijrah dalam kehidupan seorang Muslim.


Ia juga mengutip hadis Rasulullah Saw yang menjelaskan bahwa seorang muhajir adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah. Selain itu, ia mengingatkan hadis masyhur tentang niat yang diriwayatkan Imam Bukhari, bahwa nilai sebuah hijrah sangat ditentukan oleh tujuan dan niat pelakunya.


“Barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Namun siapa yang berhijrah karena urusan dunia, maka ia mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya,” jelasnya.


Dari pemaknaan tersebut, Izman mengajak seluruh jamaah menjadikan pergantian tahun Hijriah sebagai sarana evaluasi diri. Hijrah, menurutnya, bukan semata perpindahan tempat, tetapi perubahan menuju kualitas hidup yang lebih baik.


“Hijrah dari yang tidak baik menjadi baik. Hijrah dari yang baik menjadi lebih baik,” tegasnya.


Ia menambahkan bahwa makna hijrah yang paling sederhana adalah menjadi pribadi yang senantiasa memperbaiki diri dengan meninggalkan berbagai larangan Allah. Semangat itu, menurutnya, sejalan dengan harapan bagi para jamaah haji yang baru kembali dari Tanah Suci agar memperoleh predikat haji mabrur.


Pada khutbah kedua, Izman mengajak jamaah bersyukur karena sebagian besar jamaah haji Indonesia tahun ini telah kembali ke tanah air dengan selamat. Ia mendoakan agar seluruh jamaah memperoleh kemabruran haji, karena tidak ada balasan bagi haji mabrur selain surga.


Menutup khutbahnya, ia mengingatkan sebuah ungkapan yang populer di kalangan umat Islam, bahwa orang yang hari ini lebih baik daripada kemarin termasuk golongan yang beruntung, orang yang hari ini sama dengan kemarin termasuk golongan yang merugi, sedangkan orang yang hari ini lebih buruk daripada kemarin termasuk golongan yang celaka.


Karena itu, memasuki Tahun Baru 1448 Hijriah, ia mengajak seluruh umat Islam untuk terus memelihara semangat perubahan dan perbaikan diri.


“Semoga dengan masuk tahun baru Hijriah ini kita benar-benar dapat berhijrah menjadi lebih baik dibandingkan tahun-tahun yang lalu,” pungkasnya.***