
BANDUNG -- Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), 1 Ramadan 1447 H jatuh pada 18 Februari 2026. Artinya, umat Islam kini berada di ambang bulan suci Ramadan. Momentum ini seharusnya tidak dilewati begitu saja, sebab Islam telah mengajarkan adanya fase persiapan sebelum memasuki Ramadan.
Salah satu bentuk persiapan yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban.
Bulan Sya’ban menempati posisi strategis dalam kalender ibadah. Bulan ini berada di antara Rajab dan Ramadan. Dalam beberapa riwayat, Rasulullah Saw secara nyata menunjukkan perhatian khusus terhadap bulan ini, terutama dengan memperbanyak puasa.
Di antara dalil paling kuat tentang puasa Sya’ban adalah hadis riwayat Imam al-Bukhari dan Muslim dari Ummul Mukminin Aisyah ra. Hadis tersebut berbunyi:
“Dari Siti Aisyah ra berkata: “Rasulullah berpuasa hingga kami menyangka Ia berbuka, dan berbuka hingga kami menyangka Ia tidak berpuasa dan aku tidak pernah melihat Rasul menyempurnakan puasanya satu bulan penuh kecuali di bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat Rasul memperbanyak puasanya daripada berpuasa di bulan Sya’ban”.
Hadis ini dengan jelas menunjukkan bahwa meskipun Rasulullah Saw tidak berpuasa penuh selama sebulan selain Ramadan, intensitas puasa beliau di bulan Sya’ban sangat tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.
Keterangan tersebut dikuatkan oleh hadis riwayat Imam an-Nasa’i yang juga berasal dari Aisyah ra. Hadis tersebut berbunyi:
“Salah seorang dari kami biasa meninggalkan puasa di bulan Ramadan, lalu tidak mampu mengqadhanya hingga masuk bulan Sya’ban. Dan Rasulullah Saw tidak pernah berpuasa di bulan mana pun sebagaimana beliau berpuasa di bulan Sya’ban. Beliau berpuasa hampir seluruh bulan itu, bahkan seakan-akan beliau berpuasa semuanya.”
Dua hadis di atas memberikan gambaran yang sekilas tampak berbeda, namun sesungguhnya saling melengkapi. Rasulullah Saw terkadang berpuasa hampir sebulan penuh di bulan Sya’ban, dan di waktu lain tidak menyempurnakannya, tetapi tetap memperbanyak puasa secara signifikan. Para ulama kemudian mengompromikan (jam’u wa at-taufiq) dua riwayat ini sehingga menghasilkan pemahaman yang utuh.
Dari sini dapat disimpulkan dua hal penting. Pertama, seorang muslim dibolehkan untuk berpuasa hampir atau satu bulan penuh di bulan Sya’ban, selama tidak meniatkannya sebagai puasa wajib dan tetap menjaga keseimbangan fisik.
Kedua, jika tidak mampu berpuasa sebulan penuh, maka memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban sudah sangat bernilai, Misalnya, puasa Senin–Kamis, Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah), atau bahkan puasa Dawud bagi yang sanggup.
Oleh karena itu, mari jadikan bulan Sya’ban sebagai bulan pemanasan ruhani, agar kita benar-benar siap memasuki Ramadan sebagai bulan puncak ibadah dan penghambaan kepada Allah SWT.***(ILM)

