Iklan

Iklan

,

Rahmah El Yunusiyah: Pahlawan Nasional dengan Semangat Berkemajuan

Tim Redaksi
Kamis, 29 Januari 2026, 15:49 WIB Last Updated 2026-01-30T01:16:06Z


Oleh: Titis Rasendriya Putri*


BANDUNG -- Tepat pada 10 November 2025, Rahmah El Yunusiyah diangkat sebagai Pahlawan Nasional sesuai dengan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 116/TK Tahun 2025 yang ditetapkan oleh Presiden Prabowo. Penghargaan ini diberikan sebagai pengakuan atas dedikasi luar biasanya di bidang pendidikan Islam, khususnya dalam memperjuangkan akses pendidikan bagi perempuan.


Sosok Rahmah El Yunusiyah menjadi semakin bersinar karena warisannya yaitu Perguruan Diniyah Puteri di Padang Panjang, sekolah perempuan pertama di Indonesia yang menggabungkan pendidikan agama dan akademik. Melalui lembaga ini, Rahmah ingin mencetak generasi muslimah yang mencintai ilmu, berakhlak mulia, dan berani berkontribusi dalam masyarakat.


Siapakah Rahmah El Yunusiyah?


Rahmah El Yunusiyah lahir pada 26 Oktober 1900 dengan nama lengkap Syekhah Hajjah Rangkayo Rahmah El Yunusiyah. Ia dikenal luas sebagai tokoh pembaru pendidikan Islam dan juga pejuang kemerdekaan. Sebagai salah satu perempuan terpenting dari Minangkabau, Rahmah memberikan kontribusi besar dalam memajukan pendidikan dan menguatkan peran perempuan.


Namanya diabadikan dalam sejarah sebagai pendiri Diniyah Puteri, lembaga pendidikan Islam khusus perempuan pertama di Indonesia. Berawal dari sebuah sekolah sederhana, Diniyah Puteri berkembang menjadi institusi besar dengan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, hingga sekolah tinggi.


Perkembangan ini mencerminkan betapa jauh pandangan Rahmah mengenai pentingnya pendidikan bagi perempuan. Melalui dedikasinya yang panjang, Rahmah El Yunusiyah menjadi teladan keteguhan dan keberanian perempuan Indonesia.


Mengutip dari laman detik.com, Rahmah El Yunusiyyah lahir dari keluarga ulama. Ayahnya adalah Syaikh Muhammad Yunus, sementara kakaknya, Zainudin Labay El Yunusy, dikenal sebagai pendiri Diniyah School. Rahmah sendiri memulai pendidikan formalnya di sekolah yang didirikan kakaknya tersebut.


Sebagai murid yang cerdas dan kritis, Rahmah merasa tidak sepenuhnya nyaman dengan sistem koedukasi (belajar campur) di sekolah itu. Ia melihat siswi perempuan sering kesulitan menyampaikan pendapat karena jumlah mereka jauh lebih sedikit, dan hampir semua guru adalah laki-laki. Diskusi kelas pun lebih didominasi oleh siswa laki-laki.


Berangkat dari keprihatinan ini, Rahmah bersama tiga sahabatnya, mendirikan kelompok belajar tersendiri. Mereka belajar langsung kepada para ulama besar seperti Syaikh Muhammad Jamil Jambek, sebuah langkah yang sangat berani dan tidak umum bagi perempuan Minangkabau pada masa itu.


Dorongan kuat untuk memajukan perempuan membuat Rahmah mendirikan Diniyah School Putri atau Madrasah Diniyah lil Banat pada 1 November 1923 di Masjid Pasar Usang. Pada angkatan pertama, sekolah ini berhasil menarik 71 murid, sebagian besar merupakan ibu-ibu muda. Visi Rahmah sangat jelas yaitu membentuk perempuan yang berjiwa Islam, menjadi ibu pendidik yang cakap, serta mampu bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat dan bangsa.


Keteguhan Rahmah terlihat dari sikapnya menjaga kemandirian sekolah. Ia menolak bantuan dari pemerintah kolonial Belanda, partai politik, maupun organisasi keagamaan lain. Bahkan, ia memilih bercerai dari suaminya, H. Bahaudin Latief, karena perbedaan tujuan hidup. Ketika suaminya ingin fokus pada dunia politik, Rahmah justru ingin sepenuhnya membangun pendidikan perempuan.


Rahmah El Yunusiyah dikenal sebagai tokoh yang teguh, berilmu, dan berdedikasi tinggi dalam memajukan pendidikan Islam, khususnya bagi perempuan. Karena keilmuannya yang mendalam serta perannya sebagai pemimpin pendidikan, ia dianugerahi gelar “Syekhah”, sebuah gelar terhormat yang sangat jarang diberikan kepada perempuan. Gelar ini menjadi bukti bahwa perjuangan dan pemikiran Rahmah diakui tidak hanya di lingkungan masyarakatnya, tetapi juga di dunia keilmuan Islam.


Warisan perjuangannya paling nyata terlihat pada Diniyah Puteri, lembaga pendidikan yang ia dirikan dan bangun dengan penuh pengorbanan. Hingga saat ini, Diniyah Puteri tetap menjadi contoh bagaimana pendidikan dapat mengubah kehidupan perempuan. Sekolah ini melahirkan banyak perempuan berilmu, mandiri, dan berperan aktif dalam masyarakat.


Melalui Diniyah Puteri, nama Rahmah El Yunusiyah terus hidup. Visi, keberanian, dan keteguhannya menjadi inspirasi bagi generasi perempuan Indonesia untuk terus belajar, berkembang, dan mengambil peran penting dalam membangun bangsa.


*Mahasiswa Ilkom UNISA Yogyakarta dan Jurnalis Magang Suara ‘Aisyiyah.