Iklan

Iklan

,

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Raajiun Muhammad Samsudin Wafat, Muhammadiyah Kehilangan Kader Terbaiknya

Redaksi
Kamis, 12 Februari 2026, 14:09 WIB Last Updated 2026-02-12T07:09:58Z


YOGYAKARTA, Muhammadiyahgoodnews.id – 
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya salah satu kader terbaik Muhammad Samsudin, Wakil Ketua V Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang selama ini dikenal tangguh, amanah, dan penuh semangat pengabdian.


“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah, kami menyampaikan duka cita yang mendalam. Muhammadiyah kehilangan kader tangguh yang selama ini mengabdikan diri sepenuh hati untuk persyarikatan,” ujar Haedar pada Kamis (12/2/2026).


Menurut Haedar, almarhum merupakan sosok kader yang selalu siap menerima amanah, termasuk tugas-tugas berat yang tidak semua orang bersedia menjalaninya. Setiap penugasan diterima dengan penuh tanggung jawab dan dijalani dengan kesungguhan.


“Beliau adalah kader tangguh. Setiap tugas berat selalu diterima dengan baik dan penuh amanah. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah mundur dari tanggung jawab,” ungkapnya.


Haedar mengenang, almarhum pernah ditugaskan menjadi rektor sekaligus memimpin Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) di Kuningan beberapa tahun silam. Pada masa itu, akses menuju daerah tersebut masih terbatas dan belum didukung infrastruktur jalan tol seperti sekarang.


“Ketika itu belum ada jalan tol, akses perjalanan tidak mudah. Tetapi semua dijalani dengan sabar dan gigih. Itulah karakter kader Muhammadiyah sejati,” jelas Haedar.


Tak hanya dikenal sebagai sosok pekerja keras, almarhum juga memiliki pribadi yang hangat dan menggembirakan. Sifat penggembira itu, menurut Haedar, menjadi energi positif bagi lingkungan sekitarnya.


“Beliau sosok yang gembira, berjiwa penggembira. Kehadirannya membuat orang merasa nyaman dan senang. Dalam berorganisasi, suasana kebersamaan seperti itu sangat penting,” tuturnya.


Haedar menegaskan bahwa keteladanan almarhum menjadi pelajaran berharga bagi kader-kader Muhammadiyah, khususnya dalam hal loyalitas, kesabaran, dan kesediaan mengemban amanah di mana pun ditempatkan.


“Kita kehilangan fisiknya, tetapi semangat pengabdiannya harus terus hidup dalam gerak Muhammadiyah,” tegasnya.


Haedar mendoakan agar almarhum husnul khatimah dan segala amal pengabdiannya diterima oleh Allah SWT.


“Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, mengampuni segala khilafnya, serta menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya. Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan dan kekuatan,” pungkas Haedar.***