Iklan

Iklan

,

Iklan

Dari Orkes Melajoe ke Dangdut

Redaksi
Senin, 25 April 2022, 00:10 WIB Last Updated 2022-09-02T11:24:24Z

PERJALANAN dangdut dalam jelajah dunia musik Indonesia sangat panjang. Sejak zaman “Welanda” kelompok musik dinamai “orkas Melayu”. Dikatakan Melayu,karena memang untuk membedakan dengan grup-grup music yang umumnya dimainkan orang-orang Belanda atau kulit putih lainnya.

Alat musiknya pun berbeda dengan musik dangdut saat ini. Di samping gitar elektrik, bass betot, harmonika dan akordeon. Para penyanyinya pun berpakaian sangat sopan. Rambut disanggul atau dipangkas pendek, memakai rok sebatas bawah dengkul Demikian pula penyanyi lelakinya, berambut pendek ala Calipso, terkadang memakai celana pendek.

Nama-nama orkes Melayu di Cirebon, seperti Candrabuana (Jamblang) dan Dendang Permata (Arjawinangun) sangat popular untuk mendampingi penyanyi laki-laki Mustari, Zamroh, Mersi Marsita dan lain-lain.

Dangdut – Musik modern Indonesia yang dikategorikan sebagai musik pop. Kelahiran musik dangdut tak bisa lepas dari perkembangan musik Melayu di tahun 1960an. Saat itu musik Melayu dinaman sebagai “Orkes Melayu.”

Namun lantaran bunyi tepukan gendang lebih dominan dengan irama dang dan dut-nya, maka masyarakat menyebutnya sebagai “musik dangdut.” Musik dangdut mulai memasuki era kejayaannya pada awal tahun 1980an.

Saat itu musisi dan penyanyi dangdut R.H. Oma Irama mampu mengaransir musik ini secara modern. Beberapa lagunya yang terkenal di antaranya, Penasaran, Darah Muda, Begadang dan ratusan lagu lainnya.
Dangdut ternyata sangat berpengaruh terhadap kesenian di daerah Cirebon. Kesenian tarling, jaipong, gambus bahkan genjring akrobat terbawa irama dangdut dalam berbagai pergelarannya. Kini hampir seluruh lagu-lagu Cirebonan diwarnai irama ini. Lagu-lagu yang semula disebut “tarling dangdut” kini secara konsekuen oleh pelakunya dinyatakan sebagai “dangdut Cirebonan.”

Salah satu karakteristik yang kuat dari musik dangdut adalah “pemberontakan”nya itu sendiri. Hampir tak ada bentuk musik lainnya yang bisa mengubah-ubah warnanya secepat dangdut.

Ia bisa menjadi dangdut, kosidah, rock, jaipong, tarling, bahkan dalam irama kesenian tradisional semacam wayang kulit sekalipun. Musik (pop) rock misalnya, tak bisa masuk dalam wilayah gamelan wayang kulit, jaipongan apalagi sintrenan. Tapi dangdut, bisa.

Dangdut, sebagaimana watak orang Melayu (Indonesia, Malaysia, Brunei dan Singapura) bisa bersifat lentur dalam menerima pembaruan-pembaruan. Ia bukan tergolong bentuk musik yang kaku dan tunduk pada pakem.

Dangdut bahkan bisa dibawakan ke arena mana saja, termasuk saat melakukan “obrog sahur” di bulan puasa atau tabuhan ala kadarnya ketika iseng-iseng menyanyi sambil menunggu guru pengajar datang ke kelas.

Namun dangdut bisa diurai asal usulnya sebagai musik (pop) Melayu yang berawal dari campuran Arab, India dan Cina, yang kemudian diramu dengan berbagai musik lainnya, baik domestik maupun asing, sehingga menjadi dangdut yang sekarang.

Masih ingat di tahun 1960an, ketika lagu “Fatwa Pujangga” begitu populer di blantika Orkes Melayu di Tanah Air. Keindahan musik, syair dan harmonisasi vocal penyanyinya begitu menyentuh siapa pun yang mendengarnya.Hindu, Islam dan Indonesia berpengaruh dalam bentuk musik di Malaysia. Sebagai contoh, wayang kulit, yang berasal dari Jawa pada abad ke-13 Masehi, dan saat ini sangat lazim ditemukan di negara bagian Kelantan.

Instrumen musik Malaysia termasuk gendang yang khas, yang ada paling sedikit 14 macam, gong dan instrumen perkusi lainnya dibuat dari bahan-bahan lokal seperti bambu – kertuk dan pertuang - dan batok kelapa; serta beragam instrumen tiup, termasuk flute. Ensembel dan orchestra, instrumen ini dimainkan pada upacara-upacara khusus.

Bentuk musik Cina, termasuk opera Cina, pada pada akhir-akhir ini masuk ke Malaysia; walaupun kalangan muda Malaysia keturunan Cina sedikit memberi perhatian pada bentuk musik seperti itu. (Encarta® Reference Library 2003).

Namanya pun belum lagi “dangdut” saat itu, namun “Orkes Melayu”. Sebutan “dangdut” baru dikenal pada era tahun 1970an. Nama orkes – sebagai kelengkapan dari musik Melayu - jelas diambil dari ensemble music yang dimainkan secara kolektif. Namun dimainkan dengan wajah Melayu. Ini sekadar untuk membedakan dengan musik ensembel atau orchestra klasik pada simponi Mozart maupun Beethoven yang terkenal itu.

Terlalu asing rupanya orang-orang Melayu saat itu untuk menikmati simponi Beethoven maupun Mozart. Di sinilah kreatifnya orang Melayu. Penggemarnya membentang dari Kualalumpur, Serawak. Brunei Darussalam, Jakarta hingga Merauke.

Keindahan musik Melayu bisa diraba dari harmonisasi antara Tuhan, alam dan manusia. Seirama dengan musik pop lainnya – di luar Melayu – sesungguhnya memuat ketiga unsur tadi. Antara Tuhan, alam dan manusia menyatu, baik dalam musik, syair maupun penyanyinya.

Tak ada lagu dengan syair “jorok” atau nyeleneh pada masa itu. Hampir semua lagu diciptakan dengan pakem Melayu yang penuh disiplin pada kata-kata, irama dan kesopanan. Lagu-lagu seperti “Keagungan Tuhan”, “Kunang-kunang”, “Bulan Purnama” dan sejenisnya adalah pantulan ketiga unsur tadi.

Rhoma Irama dan Elvy Sukaesih

(sumber:https://www.republika.co.id)


Tahun 1970an, lagu-lagu irama Melayu didongkrak karya-karya Rhoma Irama. Salah satunya adalah “Begadang”, hit yang mampu menerobos celah-celah kalangan elite yang semula menganggap dangdut sebagai musik “kampungan.” Pada era ini Rhoma Irama pun tampil menggebrak dan menantang eksistensi musik rock dalam berebut massa.

Ternyata penggemar musik rock menyusut, setelah lagu-lagu dangdut lainnya, seperti “Darah Muda” dan “Penasaran”, kembali menggebrak blantika musik Melayu. Pusat iramanya terletak pada permainan gendang yang kreatif. Namun bunyi sentakan “dang” dan “dut” tak bisa dilepaskan ketika musik ini diwarnai apa pun.

Dari terobosan ini akhirnya Rhoma Irama digelari “Raja Dangdut” oleh penggemarnya. Sementara Elvi Sukaesih, pedangdut yang sejak awal berduet dengan Rhoma Irama mendapat gelar “Ratu Dangdut.”

Di sinilah dangdut mengalami sekularisasi. Tari-tarian yang mengiringi pada masa Orkes Melalyu ditampilkan dengan gerak dan pakaian sangat sopan sesuai tradisi Melayu, berusaha lepas dari akarnya. Menjadi musik panggung yang meraksasa dengan puluhan ribu penggemar yang berjingkrak tak beraturan di lapangan luas.

Dangdut pada akhirnya digiring pada pertunjukan-pertunjukan terbuka ketimbang musik ruangan yang hanya bisa dinikmati penonton yang terbatas. Ia mirip musik rock yang dipertunjukkan secara terbuka di berbagai kota besar Amerika. Atau seperti kelompok The Beatles yang mempertunjukkan kebolehannya di kota-kota Eropa dan Amerika. (NMN)***

Iklan