Iklan

Iklan

,

Ramadan bagi Warga Sunda, Dikdik Dahlan Lukman: Bulan Penguatan Silaturahim

Redaksi
Kamis, 12 Februari 2026, 14:24 WIB Last Updated 2026-02-12T07:24:57Z


BANDUNG, Muhammadiyahgoodnews.id
– Kepala LPPAIK UM Bandung sekaligus Wakil Ketua PWM Jawa Barat Dikdik Dahlan Lukman mengatakan bahwa asal-usul nama “Sunda” memiliki arti bersih atau terang.


Menurutnya, identitas kultural masyarakat Sunda yang dikenal someah (ramah) dan religius berpadu harmonis dengan ajaran Islam sehingga melahirkan tradisi yang sarat makna spiritual.


Hal tersebut disampaikannya dalam Program Gerakan Subuh Mengaji yang tayang pada Selasa (10/02/2026). Dalam pemaparannya, Dikdik menekankan bahwa kedatangan Ramadan selalu disambut dengan penuh kegembiraan oleh masyarakat Sunda.


Dia menyebut bahwa kearifan lokal tidak bertentangan dengan syariat. Namun, menjadi media untuk memperkuat nilai-nilai keislaman di tengah kehidupan sosial.


Dikdik menjelaskan bahwa dalam kalender Sunda, bulan Syakban dikenal dengan sebutan Rewah, yang berasal dari kata arwah. Pada bulan ini, masyarakat memiliki sejumlah tradisi sebagai bentuk persiapan menyambut Ramadan.


”Salah satunya adalah nyekar atau nadran, yakni ziarah ke makam keluarga sekaligus gotong royong membersihkan area pemakaman sebagai wujud penghormatan kepada leluhur,” ujar Dikdik.


Selain itu, tradisi bersih-bersih rumah dan tempat ibadah juga menjadi kebiasaan yang mengakar. Masjid dan musala dibersihkan secara bersama-sama, karpet dan mukena dicuci massal, mencerminkan semangat kolektif dalam menyambut bulan suci.


Ada pula tradisi munggahan, yang berasal dari kata unggah atau naik, bermakna meningkatkan kesiapan mental dan mempererat solidaritas melalui makan bersama keluarga besar sebelum memasuki Ramadan.


Tradisi lainnya adalah munjungan atau nyorog, yakni saling mengantar makanan kepada orang tua atau tetangga sebagai bentuk penghormatan dan sedekah.


Masyarakat juga mengenal kuramas, mandi besar sebagai simbol pembersihan diri secara lahiriah sebelum menjalani ibadah puasa. Menurut Dikdik, rangkaian tradisi ini mengandung pesan spiritual agar umat Islam memasuki Ramadan dengan hati dan jiwa yang bersih.


“Memasuki bulan Ramadan, sejumlah kebiasaan khas masyarakat Sunda tetap dijalankan. Ngabuburit menjadi momen menunggu waktu berbuka puasa dengan kegiatan positif.


Di pesantren dan masjid, tradisi ngaji pasaran digelar dengan mengkaji kitab kuning tertentu secara intensif dari awal hingga akhir Ramadan, memperdalam pemahaman keagamaan secara sistematis,” imbuh Dikdik.


Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, masyarakat melaksanakan lilikuran, yakni memperingati malam-malam ganjil seperti malam ke-21 dan ke-23 untuk meraih keutamaan lailatul qadar.


Selain itu, tabuhan dulag atau bedug juga masih digunakan sebagai penanda waktu sahur, tarawih, ataupun menjelang Idul Fitri, menjadi simbol syiar Islam yang lekat dengan budaya lokal.


Pada akhir kajiannya, Dikdik membagikan sejumlah pepatah Sunda sebagai nasihat filosofis dalam menjaga kualitas puasa. “Letah leuwih seukeut batan peso” mengingatkan agar menjaga ucapan dari gibah dan fitnah.


“Panon nu lalawora, hate nu cilaka” mengajarkan pentingnya menjaga pandangan. Sedangkan “Hadé ku niat, goréng ku pamér” menekankan keikhlasan dan menjauhi riya.


Dia menegaskan, budaya Sunda tidak mengubah syariat Islam. Namun, menjadi instrumen dakwah yang memperindah pelaksanaan ibadah dan mempererat silaturahmi antarwarga. Termasuk melalui tradisi munggahan dan munjungan yang sarat nilai edukasi bagi generasi muda.***(FA)