Iklan

Iklan

,

Sarung dan Ramadhan

Tim Redaksi
Jumat, 27 Februari 2026, 05:57 WIB Last Updated 2026-02-26T23:54:32Z
Oleh: Muhammad Arham 

Ramadhan selalu datang membawa suasana yang khas. Masjid lebih ramai, mushaf lebih sering dibuka, dan ada satu benda sederhana yang terasa begitu lekat dengan bulan ini: sarung. Ia bukan sekadar kain yang dililitkan di pinggang, tetapi simbol kesederhanaan, kesiapan, dan kedekatan seorang hamba dengan Rabb-nya.

Sarung dan Ramadhan memiliki keterkaitan yang unik. Ketika adzan Isya berkumandang, orang-orang bergegas ke masjid dengan sarungnya untuk tarawih. Saat sahur, sarung menjadi penghangat di sepertiga malam. Ketika i’tikaf, sarung menjadi teman setia di atas sajadah. Ia menyertai qiyam, tilawah, dan doa-doa panjang penuh harap.

Secara manfaat, sarung mengajarkan kesederhanaan. Ramadhan memangkas gengsi dan kemewahan; semua berdiri sejajar dalam shaf. Dengan sarung, kita diingatkan bahwa kemuliaan bukan pada pakaian mahal, tetapi pada takwa. Sarung juga memberi kenyamanan dan fleksibilitas dalam ibadah. Mudah dipakai, memudahkan duduk bersila saat kajian, atau berdiam lama dalam sujud.

Namun ada aspek lain yang lebih dalam. Sarung adalah identitas kultural umat Islam di banyak negeri, termasuk Indonesia. Ia menyatukan tradisi dan spiritualitas. Ketika anak kecil pertama kali diajak tarawih memakai sarung, itu bukan hanya soal pakaian, tapi proses pewarisan nilai. Dari ayah ke anak, dari generasi ke generasi, Ramadhan menjadi ruang pendidikan iman.

Di era media sosial, sarung dan Ramadhan juga memiliki pesan tersendiri. Jangan sampai sarung hanya menjadi simbol yang dipamerkan dalam foto, sementara ruh ibadahnya kosong. Gunakan momentum Ramadhan bukan hanya untuk terlihat religius, tetapi untuk benar-benar memperbaiki diri. Biarlah sarung membungkus tubuh, dan takwa membungkus hati.

Ramadhan adalah madrasah pengendalian diri. Sarung seakan menjadi “seragam” kesiap-siagaan ibadah. Setiap kali kita memakainya, niatkan: ini bukan sekadar tradisi, tetapi tanda bahwa saya siap berdiri lebih lama, sujud lebih khusyuk, dan memperbaiki akhlak lebih serius.

Allaahu a'lam wabaarakallaah

Selamat berpuasa, semoga Allah SWT menerima puasa dan seluruh ibadah ramadhan kita serta tetap berharap diberikan  hidayah, rahmat, berkah, ampunan, rezki, kesehatan, keselamatan, kesuksesan, dan kebahagiaan dunia-akhirat.