Iklan

QuranMu

Iklan

QuranMu
,

Manisnya Persaudaraan NU dan Muhammadiyah

Tim Redaksi
Sabtu, 11 April 2026, 08:21 WIB Last Updated 2026-04-11T03:41:23Z

Oleh: Eddy Aqdhiwijaya, Filantropis dan Pegiat Studi Humaniora, Keagamaan dan Kepemudaan


JAKARTA — Judul dalam tulisan sederhana ini, adalah upaya untuk mengajak kita menoleh sejenak ke belakang—bukan untuk terjebak dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk menjemput kembali kebijaksanaan yang mungkin sempat tertutup debu sejarah.


Selama ini, narasi yang berkembang di akar rumput terkadang terlalu bising oleh perdebatan furu’iyah yang tak berujung. Kita sering lupa bahwa di balik perbedaan teknis, terdapat akar sejarah yang satu, guru-guru yang sama, dan cita-cita yang sebangun yaitu menjaga agama dan merawat bangsa.


Kita perlu menelusuri kembali jejak-jejak harmoni yang telah diletakkan oleh para pendahulu kita, kita ingat tentang bagaimana KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari pernah berbagi bilik santri di bawah asuhan guru yang sama di Makkah. Pada akhir abad ke-19, keduanya menimba ilmu kepada guru yang sama, yaitu Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, seorang imam besar di Masjidil Haram. Karena belajar di bawah asuhan guru yang sama, mereka memiliki sanad ilmu yang bertemu di satu titik.


Di masa muda, mereka tidak hanya berbagi kitab, tetapi juga berbagi gagasan tentang bagaimana membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan dan kebodohan. Sebuah ikatan spiritual yang lebih kuat dari sekadar organisasi.


Meskipun mereka memimpin dua organisasi besar yang sering dianggap berseberangan secara tradisi, secara personal mereka sangat akrab. KH. Hasyim Asy’ari yang lebih muda (lahir 1871) memanggil KH. Ahmad Dahlan dengan sebutan “Mas” (Kakak). Dan KH. Ahmad Dahlan (lahir 1868) memanggil KH. Hasyim dengan sebutan “Adi” (Adik).


Panggilan ini menunjukkan ikatan emosional layaknya saudara kandung, bukan sekadar hubungan antartokoh agama.


Persaudaraan mereka adalah bukti bahwa perbedaan pendapat dalam masalah furu’iyah (cabang agama) seperti jumlah rakaat tarawih atau doa qunut, atau metode penentuan Ramadan dan Hari Raya, sama sekali tidak mengurangi rasa hormat. Mereka menunjukkan bahwa musuh bersama adalah ketidaktahuan dan penjajahan, bukan saudara seiman yang berbeda pilihan organisasi.


Disudut lain, kita bisa lihat bahwa kehadiran NU dan Muhammadiyah sampai dengan detik ini pun bukan sedang bertanding dan bersaing, melainkan sedang berbagi peran. Satu merawat tradisi dan akar rumput, yang lain memplopori modernitas dan sistem sosial.


Bagi generasi sekarang, seperti Gen Milenial, Gen Z dan Gen Alpha kehadiran NU dan Muhammadiyah menjadi kado untuk masa depan mereka, agar tidak mudah terprovokasi oleh narasi perpecahan di media sosial. Persaudaraan ini adalah warisan mahal yang harus dijaga keberlangsungannya.


Penulis menyadari bahwa pandangan dalam tulisan ini barulah sebuah pintu kecil menuju luasnya cakrawala pemikiran kedua organisasi besar ini. Namun, dari lubuk hati terdalam, penulis berharap isi didalamnya mampu mendinginkan suasana, menjernihkan pikiran, dan yang terpenting, menghangatkan kembali hati kita sebagai sesama saudara sebangsa dan seiman. Mari kita menengok kembali, agar kita tahu ke mana harus melangkah.***


Mau nonton versi video-nya yuk ah ditonton di bawah ini: