Relawan Muhammadiyah memberikan bantuan oksigen kepada warga yang terpapar kabut asap kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah. (Foto: muhammadiyah.or.id)
PALANGKA RAYA — Langit Kalimantan Tengah berubah jingga pekat dalam beberapa pekan terakhir. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas membuat kualitas udara di sejumlah wilayah masuk kategori tidak sehat, sementara warga hanya punya sedikit pilihan selain bertahan di dalam rumah. Di tengah situasi itu, satu ruangan sederhana di Kompleks Perguruan Muhammadiyah menjadi tempat sebagian warga bisa kembali bernapas lega.
Ruangan itu adalah Rumah Singgah Oksigen yang didirikan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama Lazismu Kalimantan Tengah. Berlokasi di Jalan RTA Milono KM 1,5, Palangka Raya, fasilitas ini beroperasi setiap hari pukul 08.00–16.00 WIB, terbuka gratis bagi siapa pun yang mengalami gangguan pernapasan akibat asap.
"Rumah Oksigen di Kalimantan Tengah beroperasi mulai pukul 08.00–16.00 WIB," ujar Ketua Lazismu Kalimantan Tengah, Muhammad Fitriani.
Hingga akhir Agustus 2026, Rumah Oksigen tersebut tercatat telah melayani 53 penerima manfaat. Angkanya terus bertambah seiring memburuknya kualitas udara — sebuah indikator sederhana bahwa asap bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan persoalan kesehatan yang nyata.
Suasana Rumah Singgah Oksigen yang dikelola MDMC dan Lazismu Kalimantan Tengah di Palangka Raya. (Foto: muhammadiyah.or.id)
74 Ribu Hektare Terbakar, 5 Juta Warga Terdampak
Skala bencana asap kali ini tidak kecil. Luas lahan yang terbakar tercatat mencapai 74.640,61 hektare, dengan lebih dari 5 juta warga terdampak sebarannya. Kualitas udara di beberapa daerah Kalimantan bahkan sempat dinyatakan berada pada situasi berbahaya menurut Indeks Standar Pencemaran Udara.
Menghadapi kondisi tersebut, Pos Koordinasi (Poskor) Muhammadiyah Kalimantan Tengah menerjunkan sedikitnya 115 relawan dengan pembagian tugas yang jelas: 10 orang untuk pemadaman, 60 orang tenaga medis, 30 orang logistik, dan 15 orang di Poskor.
Layanan yang diberikan pun tidak berhenti pada Rumah Oksigen. Muhammadiyah juga mengoperasikan mobil oksigen keliling, membuka layanan kesehatan lapangan, membagikan masker kepada warga, serta menyalurkan bantuan nutrisi disertai edukasi kesehatan.
Siaga hingga 21 September
Poskor Muhammadiyah Kalimantan Tengah dipimpin Inayati Muharini, sementara koordinasi kebencanaan di tingkat wilayah dijalankan Ketua Lembaga Resiliensi Bencana/MDMC Kalimantan Tengah, Heru Setiawan. Sesuai rencana, seluruh operasi tanggap darurat ini akan berjalan hingga 21 September 2026 — atau lebih lama bila kondisi udara belum membaik.
Karhutla adalah bencana yang berulang hampir setiap musim kemarau, dan dampaknya paling berat justru dirasakan kelompok paling rentan: bayi, balita, ibu hamil, penderita gangguan pernapasan, dan lansia. Bagi mereka, sebuah ruangan berpendingin dengan tabung oksigen dan tenaga medis yang siaga bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar.
Di situlah letak makna kehadiran Rumah Oksigen ini: bukan menyelesaikan akar persoalan karhutla, tetapi memastikan tidak ada warga yang harus menanggung sesak napas sendirian sambil menunggu langit kembali biru. (*)
Sumber: muhammadiyah.or.id, Lazismu, Republika, Google News


