Tafsir At-Tanwir, Perspektif Ulama dan Akademisi Muhammadiyah tentang Makna Al-Quran

Notification

×

Iklan

Iklan

Tafsir At-Tanwir, Perspektif Ulama dan Akademisi Muhammadiyah tentang Makna Al-Quran

Senin, 17 Januari 2022 | 22:55 WIB Last Updated 2022-09-02T14:24:44Z

Kajian tafsir Al-Quran di internal Muhammadiyah bukanlah tradisi seumur jagung. Geliat menulis dan mengkaji tafisr telah ada sejak organisasi ini didirikan K.H. Ahmad Dahlan pada 1912.

Namun sepanjang sejarah Muhammadiyah, karya tafsir yang lahir didominasi oleh karya pribadi bukan kelembagaan. Misalnya, Buya Hamka yang menulis Tafsir Al-Azhar pada 1960-an atau Iskandar Idris pada 1934 menulis Tafsir Hibarna.

Dalam Muktamar satu abad Muhammadiyah di Yogyakarta pada 2010, PP Muhammadiyah mengamanahkan Majelis Tarjih dan Tajdid untuk menyusun karya tafsir utuh 30 juz.

Pada Juli 2015, Tafsir at-Tanwir diterbitkan dalam bentuk yang masih mentah (pre-launch edition). Setelah tanfidz dari PP Muhammadiyah, pada Mei 2016 Tafsir At-Tanwir Jilid 1 diterbitkan pertama kali oleh Suara Muhammadiyah.

Proyek penulisan tafsir ini akan diterbitkan dalam 30 jilid, satu volume berisi 1 juz penafsiran, sesuai dengan urutan yang terdapat dalam mushaf Al-Quran.

Para penulis Tafsir at-Tanwir merupakan barisan para akademisi yang bernaung di Muhammadiyah. Mereka telah lama bergelut di berbagai rumpun studi Islam yang setidaknya hal tersebut menguatkan reputasi, otoritas, dan kelegalan menafsirkan kalam-kalam ilahi.

Artinya, tafsir ini akan diarahkan untuk memberikan pemahaman yang lebih kompleks dan mendalam tentang persoalan yang dibahas dengan memadukan berbagai pengetahuan yang dimiliki oleh tim mufasir.

Tafsir At-Tanwir yang bercorak tahlili cum maudhui ini juga bukanlah kompilasi terhadap kitab-kitab tafsir yang ada, melainkan memiliki manhaj tersendiri. Meski demikian, tafsir ini tidak mengabaikan cara kerja tafsir klasik, seperti merujuk kepada Al-Quran, hadis, dan ijtihad mufasir yang lain.

Bahkan hal yang unik ialah tafsir ini merujuk sejumlah pakar filsafat, bahasa, ekonomi, sains, dan lain-lain yang tidak hanya berbahasa Arab, tetapi bahasa Inggris. Ragam rujukan ini merepresentasikan komitmen yang kuat dalam menafsirkan Al-Quran dengan cara pandang Islam berkemajuan.

Setidaknya, ada empat etos yang hendak dikembangkan oleh Tafsir at-Tanwir. Pertama, etos ibadah, yakni membangkitkan ibadah spiritual sekaligus sosial.

Kedua, etos ekonomi, yakni hendaknya menjadikan manusia berdisiplin, menghormati waktu, bertanggung jawab, bekerja profesional, tidak menjadi manusia yang merugi, dan lain-lain.

Ketiga, etos sosial, yakni menyemarakkan infak, sedekah, zakat, hibah, wakaf, dan lain-lain dengan berprinsip kepedulian dan pemberdayaan sosial. Keempat, etos keilmuan, yakni menggairahkan kembali wacana keilmuan di antara kaum beriman.

Sesuai dengan namanya, At-Tanwir diharapkan menjadi oase yang mencerahkan, mengiringi agenda pencerahan yang menjadi fokus Muhammadiyah di abad kedua.

Proyek menggarap Tafsir At-Tanwir lengkap 30 juz ini dicanangkan akan selesai pada 2027 mendatang sebagai kado 1 abad berdirinya Majelis Tarjih dan Tajdid. Sejak 2018 hingga saat ini, Tafsir At-Tanwir menjadi bahasan tema bersambung “Pengajian Tarjih” pada setiap Rabu malam.