Berbagai Cerita Kondisi Muslim di Francis: dalam Perspektif Muslim Indonesia (PCIM)

Notification

×

Iklan

Iklan

Berbagai Cerita Kondisi Muslim di Francis: dalam Perspektif Muslim Indonesia (PCIM)

Sabtu, 23 April 2022 | 16:54 WIB Last Updated 2022-09-02T14:22:54Z

Andar Wibowo, penasehat PCIM, memaparkan  tidak saja muslim di Francis yang dibatasi oleh pemerintah dalam penggunaan atribut atau simbol keagamaan. agama lain pun sama, dilarang memakai simbol keagamaan. Karena konstitusi negara Francis memisahkan antara agama dengan kehidupan sosial politik.

Demikian dijelaskannya saat dialog santai bersama teman-teman kita yang bermukim di Francis Sabtu (16/4). Seminar yang dilakukan secara virtual yang diadakan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam & Kemuhammadiyahan, UM Bandung. 

Selain Andar Wibowo, juga dilengkapi pemaparan para pengurus PCIM Francis, Dr. Deni  (Ketua) serta bendahara PCIM, Mohammad Fahri Kholid. Mereka para mahasiswa doktoral yang aktif dalam PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) Di Francis.

Ini terkait pengalaman historis bangsa Francis yang mengalami berabad-abad peperangan antar agama (sekte) dalam Kristen Katolik dan Protestan. Rupanya pengalaman ini membekas membuat trauma bangsa Francis. Dari latar historis demikian, kita bisa faham pemerinta Francis tetap memberikan kebebasan beragama (sebagai wilayah private), namun dibatasi dalam ekpresi secara luas dalan konteks sosial politik.


Selain memberi ruang untuk perkembangan agama di atas, problem kehidupan keagaman di Francis, tampaknya karena persoalan sosial ekonomi dan politik. terutama setelah masuknya banyak imigran muslim dari Afrika Utara, Aljazair dan lainnya (bekas koloni Francis). Terutama setelah tahun 1960-1970an, perkembangan kaum imigran yang terus bertambah dan menguasai banyak sektor sosial ekonomi. rupanya kecemburuan sosial ini menjadi tantangan bagi Muslim dan masyarakat pribumi Francis.

Pemerintah Francis, dalam hal ini lembaga pendidikan (universitas) di Francis terbuka untuk bekerjasama dengan kampus-kampus di tanah air. Terutama riset-riset yang menarik dan memiliki irisan kepentingan dengan universitas di Francis, seperti riset-riset sains teknologi.

Program kerjasama dengan UM Bandung berpeluang, terutama riset dengan program studi Teknologi Pangan Halal. Itu berpeluang karena kebetulan menjadi perhatian pula bagi masyarakat Muslim di Francis.

Demikian yang disarikan dari acara yang bertema besar," Islam & Muhammadiyah di 5 Benua"