In Memoriam KH. Ayat Dimyati: Guru, Orangtua dan Teman Diskusi

Notification

×

Iklan

Iklan

In Memoriam KH. Ayat Dimyati: Guru, Orangtua dan Teman Diskusi

Minggu, 25 September 2022 | 16:39 WIB Last Updated 2022-10-02T10:46:27Z


Oleh: Sopaat Rahmat Selamet,
Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung.
 
Dimyati. Mungkin itu nama aslinya. Maklum orang Sunda, panggilan masa kecilnya biasa dipanggil mudahnya,”yat” atau ayat. Jadilah populer Ayat Dimyati. Entah benar seperti itu atau tidak? itu hanya perkiraan saja terkait nama panggilan beliau.

Setidaknya panggilan “ayat” bagi teman-temannya tidak asing. Daripada panggilan Dimyati. Saya pun jadi teringat kepada salahsatu teman dekatnya di masa remaja. Ya, masa-masa Muallim Ayat Dimyati menimba ilmu di Pendidikan Guru Agama (PGA) Muhammadiyah. Lembaga pendidikan yang berada di jantung kota pusat pergerakan Muhammadiyah di Jawa Barat.

Kebetulan teman dekat Muallim Ayat–saya akrab menyebutnya Pa Ayat–itu adalah abang saya sendiri, allhohu yarham. Kalau pulang dari kota Bandung ke kampung, dulu alm Saudaraku itu sering kali bertanya, "kumaha kabarna si Ayat?”

Saya pun tersentak kaget. Ko abangku songong banget ke Pa Ayat manggilnya,”Si Ayat”.

Lama kelaman akhirnya tahu. Itu panggilan teman sepermainan semasa sekolahnya, teman sekelasnya di PGAM. Ternyata bukan songong, tapi panggilan itu penanda betapa ada keakraban di antara dua sahabat semasa remaja, masa sekolahnya.

Ada karakter yang sama dua orang yang saya kagumi ini, hidupnya santun dan bersahaja. Selalu berupaya bijak dan bersikap baik kepada siapapun. Dan selalu berusaha menyapa duluan. Selain sama-sama alumni PGAM di Garut.

Bedanya alm abangku meneruskan studi ke kota Jogya. Abangku di mataku merupakan kader Muhammadiyah yang intelektual, aktivis konseptor dan organisatoir-administatif juga.

Sedangkan pak Ayat memilih lanjut kuliahnya di Kota Bandung–dan sempat menjalani takhasus Tafsir Hadits di Majma al-Buhuts di Universitas Al-Azhar. Sehingga lebih tampak berperan sebagai ulama, muallim sehingga sering kami panggil Kyai–artinya sosok yang dihormati dimuliakan karena keluasan keilmuannya dan akhlaknya yang mulia.

Sama dengan al-mukarom. Pak Ayat pun selain sebagai Ketua PD Muhammadiyah kota Bandung dan Ketua PWM Jabar, beliau pun aktif sebagai anggota MUI Jawa Barat (Majelis Fatwa).

Sosok Pecinta Ilmu


Pak Ayat di mataku merupakan orang aneh - dalam pengertian langka dan positif. Sosok manusia yang mencirikan pecinta ilmu.

Seringkali saya berpapasan dengan beliau di bis Damri dari kampus (IAIN, kini UIN kampus 1) menuju pusat kota. Kadang berpapasan berbarengan di bis saat beliau menuju rumahnya di bilangan Cikaso. Kadang sama-sama bertujuan ke Sancang, tempat aktivitas ber-Muhammadiyah.

Di bis Damri itu, setiap duduk kebetulan selalu berdekatan dan beliau selalu mengajak berbincang. Uniknya beliau suka bertanya, "At, apakah lagi kondisi badan fit?”

“Ya, pak alhamdulillah sae sehat.” Saya pun surti. Kalau beliau bertanya itu karena akan mengajak berbincang hak-hak yang “berat”.

Jadilah dalam bis itu obrolan yang bukan sekedar penghias bibir. Tapi semacam dialog, diskusi atau bahkan share ilmu pengetahuan. Obrolan pun berlanjut larut.

Kebetulan sejak kecil, saya pun suka ngobrol atau bahkan lebih banyak menimba ilmu dengan ngobrol atau berbincang-bincang dengan sosok tokoh di kampung halaman pun, seperti dengan ayahku sendiri atau pun dengan abang serta pamanku yang ustadz di kampungku.

Obrolan dengan pak Ayat, bisa bertema keilmuan. Bicara tafsir terkait makna musyrik, yang begitu mendalam. Sampai pula mengerucut terhadap konsep pemikiran tauhid ilmu–yang waktu itu sedang proses dibukukan.

Tak pernah sekalipun membicarakan persoalan kepentingan, politik dalam arti politik pragmatis. Tapi lebih kepada etika, keimanan dan mengambil ibrah dalam peristiwa atau kehidupan. Mungkin merasa ada kesamaan dalam tradisi literasi, membaca dan kajian yang mempertemukan keakraban saya dengan pak Ayat.

Ini pula yang mengingatkan saya pada sosok pak Ayat sekitar 14 tahun lalu. Saat saya masih aktif semacam “mengelola” anak-anak mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di DPD, Sancang. Saya menyampaikan semacam kajian keilmuan bagi kami, bersama adik-adik angkatan di ortom.

Keakraban dengan pak Ayat berlanjut, dimana pun bertemu beliau. Sering kali pula pulang bareng di angkutan umum, sama sepanjang perjalanan mengajak obrolan yang punya makna.

Sempat saya pun bertanya,” Pak, kenapa lebih suka pakai mobil umum? kan bapa sudah mengayuh ke sepuh?”

Jawabnya,” bapak sengaja, dengan berkendaraan seperti ini bisa berinteraksi dengan orang lain. belajar memahami realitas sosial, betapa banyak pelajaran dalam kehidupan ini dari masyarakat kecil.”

Saya pun mengerti..selain untuk kesehatan, seringkali kalau mengisi pengajian subuh dari rumahnya beliau berjalan kaki ke kantor Muhammadiyah, dari Cikaso ke Sancang. Atau dari Cikaso ke Antapani.

Rendah Hati dan Memberi Solusi


Beliau sosok ayahanda, yang mengayomi. Sikapnya rendah hati, tawadhu, dan terbuka dalam berdialog. Padahal apalah saya ini, anak muda yang mungkin sebaya dengan salahsatu anak sulungnya. Pantaslah pula kalau dalam sebuah status anak-anak IMM ada yang menyebutkan sosok yang humble.

Ya, saya setuju. Bukan sekedar kedalaman ilmu atau kealimannya. Pak Ayat dimataku sosok yang humble atau akrab–meskipun ku akui jarang berkeliling ke sekre belakang kantor tempat kami, anak-anak IMM. Meskipun secara fisik ada keterbatasan, namun pikiran dan hatinya untuk kader tidak diragukan perhatiannya.

Pak Ayat, bukan saja sebagai guru yang ibarat teko yang menuangkan air ilmu ke dalam secangkir gelas setiap ada kesempatan bertemu. Sekitar belasan tahun lalu, saat saya mendapatkan musibah ujian kesulitan hidup.

Gamang, galau, dan merasa tertekan dalam hidup. Sosok ayahanda pak Ayat, dengan bijaksana mengingatkan saya pada latihan membangun kesadaran diri.

Beliau mengajarkan proses menguatkan jiwa. ya, beliau mengajarkan supaya saya mendawamkan atau mewiridkan asma ul-husna setiap ba’da solat.

Secara tidak langsung, pak Ayat pun mengajarkan bersikap baik dan jangan berburuk sangka pada sesama. Belajar membiarkan menyikapi keburukan, bahkan kedengkian orang dengan tetap bersikap baik dan mendoakan kebaikan.

Bukan itu saja. Ketika studi saya mengalami kendala keuangan. Tanpa diketahui orang lain, beliau memberikan saya sejumlah uang yang besar untuk ukuran saya; supaya saya manfaatkan untuk kepentingan studi.

Di saat itu beliau hanya sosok pak Ayat tanpa jabatan apa-apa, karena jadi dosen hampir menjelang pensiun.

Saat saya bilang, "Mau melakukan pinjaman untuk nanti bayarannya saya cicil, dari hasil kerjaan saya.” Beliau cukup mengatakan,” pakai saja, gak usah dikembalikan. Kalau ada punya uang, nanti bersedekah saja..salurkan saja ke Muhammadiyah.”

Wal hasil dalam proses studi saya, meraih gelar magister, terselip kontribusi nyata beliau. Bisa disebut pak Ayat jadi sponsor beasiswa pribadi saya–meskipun tidak sepenuhnya.

Selain dimensi bayani dan burhani–dalam transfer ilmu. Pak Ayat tanpa saya sadari saat itu–baru nyadar kemudian setelahnya–seolah sedang mengajari pula tentang makna dimensi Irfani dalam proses kehidupan.

Berkali-kali beliau menyampaikan pelajaran yang diselipkan lewat kisah, cerita yang dialaminya atau pun yang dialami anggota keluarganya. Yang setelah direnungi ternyata beliau seolah secara tak langsung sedang mengajarkan proses tahapan-tahapan hidup ini, semacam bagian dari proses menjalani suluk (perjalanan batin).

Ada kisah-kisah yang kadang sulit dimengerti kalau hanya mengandalkan kerangka berpikir metode ilmiah, otak positivistik belaka. Seolah-olah beliau mengingatkan pada pelajaran hidup, bahwa hidup ini ada dimensi lahir dan batin. Ada dimensi material yang serba terbatas oleh fisik alamiah natural, tapi juga ada supra-natural.

Dan itulah pembuktian adanya kekuasaan Tuhan Allah swt. Antara fisik dengan non fisik seolah melebur. dalam penglihatan zahir, fisik atau jasad yang dipandang seolah mata menggunakan alat kaca pembesar yang menerobos kulit,daging, tulang hingga ke dalam sel-sel yang lama kelamaan seolah pudar dan menghilang menembus batas pandangan mata.

Itulah yang berkali-kali beliau sampaikan dalam memandang sesuatu yang bersifat material (zahir).

Kehilangan


Bagi saya, kepergian pak Ayat dipanggil menghadap sang maha pencipta adalah kehilangan sekali. Merasa masygul juga. Kenapa tidak sempat menengok di saat sakitnya–sebelum ke rumahsakit.

Seakan gak tega, kalau menengok ke rumahnya, beliau justru butuh istirahat karena kabar dari putranya–yang juga teman dekat kini–kalau ada yang nengok malah beliau selalu mengajak bicara; padahal fisiknya butuh istirahat.

Niat menjenguk ke rumah sakit beberapa hari lalu belum kesampaian–karena sayapun mesti terapy badan; tiba-tiba tadi siang jam 13.44 saya dapat kabar via telepon dari salahsatu putranya, kalau beliau sudah kembali sekitar pukul 12.

Saya bukan kehilangan sekedar sosok pribadi, tetapi kehilangan karena beliau adalah figur ayahanda, orangtua, guru, sekaligus model orang yang khusyu dalam berpikir kuat dalam keilmuan agama sekaligus teladan dalam perbuatan baik. 

Sosok yang santun, lembut dalam bertutur dan bersikap. Tetapi pula bisa bersikap cukup tegas dalam hal-hal tertentu.

Selamat jalan bertemu Tuhan pak Ayat. Kepergian mu mengingatkan kami, betapa butuhnya kami pada sosok orang yang pecinta ilmu. Cara Hilangnya ilmu atau dicabutnya ilmu diantaranya dengan dipanggilnya kalangan ulama, muallim.

Kalau tidak diwariskan berkesinambungan, tentu kami akan jadi umat atau orang-orang yang seperti berjalan meraba-raba tanpa panduan cahaya di kegelapan. Ulama adalah warosatul anbiya.

Salahsatunya adalah dirimu, pak. Semoga Allah mengampuni kekhilapanmu–sebagai manusia biasa–serta menerima amal bakti sepanjang hayatnya.

Mudah-mudahan kami yang masih ada, terutama yang muda-muda bisa mengambil pelajaran. Untuk berbenah dan meneladani karakter beliau yang sangat mencintai ilmu dan berupaya menyebarluaskannya.

Salahsatu bentuk menghormati beliau adalah senantiasa menghidupkan kajian keilmuan serta berupaya mengamalkannya.