Pasrah Total Pada Allah

Notification

×

Iklan

Iklan

Pasrah Total Pada Allah

Jumat, 16 September 2022 | 10:37 WIB Last Updated 2022-09-21T07:06:08Z


Oleh: Prof KH. Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari saripati berasal dari tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani (yang tersimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik.” (QS Al-Mu’minun: 12-14).


Seandainya kita mengingat tentang asal mula manusia diciptakan, tentu sudah sewajarnya kita berucap syukur tak terkira pada Sang Pencipta, Allah Swt. Manusia hanyalah makhluk yang berasal dari tanah, yang hina dina. Karenanya, tidaklah pantas kalau kita menyombongkan diri di muka bumi karena kesombongan itu hanya milik Allah. 


Kepasrahan juga memiliki korelasi dengan sikap manusia terhadap takdir Allah. Perlu kita ketahui, Allah menciptakan setiap peristiwa demi kehidupan mukmin di hari kemudian, orang-orang yang beriman akan hidup dalam kepasrahan tulus terhadap apa yang sudah ditetapkan-Nya. 


Dunia ini dihiasi dengan berbagai macam ujian sebagai pembuktian mana di antara hamba-Nya yang beriman. Kebanyakan manusia hanya menunjukkan kepasrahan kepada Allah manakala mendapatkan nikmat. Namun, ketika ditimpa musibah atau peristiwa yang kurang menyenangkan, tiba-tiba kita ingkar, dan kehilangan kepasrahan pada Allah. 


Allah Swt., berfirman, “Dan sungguh, apabila Kami merasakan kepada manusia suatu rahmat dari Kami, dia menyambutnya dengan gembira, tetapi jika mereka ditimpa kesusahan karena perbuatan tangan mereka sendiri (niscaya mereka ingkar). Sungguh, manusia itu sangat ingkar (kepada nikmat).” (QS Asy-Syura: 48). 


Ayat di atas menggambarkan sikap manusia dalam menghadapi setiap cobaan dan nikmat. Manusia yang memiliki keimanan sempurna, ia betul-betul memahami ayat berikut, “Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS Al-Anbiya: 35)


Orang-orang yang beriman akan mengambil sikap pasrah terhadap setiap peristiwa, baik itu sesuatu yang menyenangkan maupun menyusahkan. Karena mereka tahu pasti bahwa ada pelajaran dalam setiap kejadian, ada hikmah dalam setiap musibah. 


Meskipun didera dengan berbagai macam cobaan hidup, mereka tidak akan pernah berkurang dalam kepasrahannya kepada Allah. Pemahaman bahwa sesuatu yang tampak baik di hadapan manusia belum tentu baik pula di hadapan Allah, demikian juga sebaliknya, hal ini menjadi dasar paling kuat untuk mengambil sikap pasrah pada setiap ketentuan Allah.


Manusia tidak pernah tahu apa yang Allah rencanakan. Mungkin saja di balik sebuah peristiwa buruk itu ada kebaikan yang menyertainya. Kemampuan manusia dalam berpikir itu sangat terbatas, sedangkan musibah sesungguhnya ada di luar logika manusia. 


Lantas, apa lagi yang bisa diharapkan oleh manusia selain memasrahkan diri kepada kebijaksanaan Allah? 


Ada berbagai manfaat positif yang bisa kita peroleh dari sikap pasrah kepada Allah. Kemuliaan yang tampak pada diri seseorang pada hakikatnya merupakan buah kepasrahan diri kepada Allah. Seseorang yang memiliki totalitas kepasrahan tidak akan bergantung pada selain Allah. Hanya kepada Allah lah ia bergantung dan berserah diri. 


Ketika menghadapi suatu masalah dan merasa dirinya tak mampu menyelesaikan masalah itu sendirian, maka ia akan menyerahkan urusan tersebut pada orang yang mampu menyelesaikannya. 


Apabila hal ini dipercayakan pada orang yang cukup memiliki kapasitas, maka penyerahan masalah tersebut akan memberikan hasil yang lebih baik. Sama halnya ketika manusia berhadapan dengan persoalan hidup dan menyadari akan keterbatasannya, maka ia akan memasrahkan diri kepada Allah. 


Dia (Allah) lah yang memiliki kekuatan tak terbatas, Allah pula yang lebih mengetahui segala sesuatunya. Menurut ahli psikologi, tingkat kepasrahan diri kepada Tuhan menjadi modal utama untuk menggapai ketenangan hidup dan menghilangkan depresi yang sering dialami manusia. Karena itu, percaya penuh terhadap Allah dapat menghilangkan kecemasan dan kegelisahan. 


Ketika berbahagia, ia tidak terlalu berbangga dan ketika kebahagiaan itu lenyap ia pun tidak terlalu gelisah dan bersedih hati. Dengan demikian, ia akan terjauhkan dari depresi dan penyakit fisik (psikosamatik) yang merupakan akibat dari kondisi jiwa seseorang. 


Dalam kehidupan para Nabi, kepasrahan total kepada Allah menjadi metode paling efektif untuk menghadapi setiap masalah. Manusia yang senantiasa pasrah kepada Allah akan timbul energi positif dalam dirinya sehingga akan memiliki motivasi untuk mencapai tujuan hidupnya. 


Mereka akan memahami bahwa segala peristiwa yang dialami pasti ada kebaikan di dalamnya. Dengan demikian mereka akan terlepas dari sesuatu yang tidak berguna, pantang berputus asa, dan terus berupaya untuk mendapatkan apa yang diinginkan.


Setiap hari kita seringkali diuji dengan kesabaran. Adakah kita boleh ber­sabar bila berdepan dengan ragam anak-anak tatkala badan kita terlalu letih, bolehkah kita bersabar bila dimarahi, atau tahankah hati kita bila pulangnya suami ke rumah dalam keadaan yang marah-marah tanpa kita ketahui puncak yang sebenarnya. 


Dan, kita akan menghadapi seribu satu macam masalah yang menggugat kesabaran kita dalam mengendalikan urusan seharian. Memanglah untuk menyebut perkataan sabar itu adalah mudah, tetapi untuk mempraktikkannya amatlah payah. 


Tetapi bagi orang yang ingin mencapai darjat yang tinggi di sisi Allah, walau terpaksa menderita, mereka sanggup melakukannya. Sebab, mereka tahu bala bencana yang menimpa mereka boleh menghapuskan dosa-dosa yang lalu di samping mereka yang mendapat pahala yang tinggi di sisi Allah. 


Rasulullah SAW juga pernah bersabda, “Barangsiapa yang dapat bersabar terhadap bala bencana yang menimpa, maka dicatat baginya tiga ratus darjat. Yang manajarak jauh antara dua darjat seperti jauh antara langit dan bumi.” (Alhadis). 


Allah Swt., berfirman dalam Al-Quran, “Barangsiapa bertawakal kepada Allah, ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 49). 


Dengan berpasrah diri pada Allah, kita akan memiliki hati dan kemandirian yang kuat dalam mengambil keputusan. Dengan berpasrah diri kepada Allah, segala urusan materi dan maknawi akan teratur. Kita akan menjalani kehidupan pada jalan yang benar, tanpa keraguan, tanpa kegelisahan, tanpa kekhawatiran yang berlebihan. 


Kita percaya sepenuhnya bahwa Allah sudah mengatur setiap hal dengan sempurna. Dan yang terpenting, kita akan menyadari bahwa sebaik-baiknya rencana kita, masih jauh lebih baik dengan rencana Allah untuk kita. 


Digubah dari buku karya Prof Dadang Kahmad berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014).