Peran, Pesan dan Ruh Pergerakan Mubaligh Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Peran, Pesan dan Ruh Pergerakan Mubaligh Muhammadiyah

Sabtu, 10 September 2022 | 11:40 WIB Last Updated 2022-09-10T12:23:08Z

 


"Jangan seperti orang baru dapat berpencak atau silat. Ada daun jatuh saja mau dipencaksilati."

Itulah pesan Pak AR Fachrudiin, Ketua PP Muhammadiyah terlama sepanjang sejarah, untuk para mubalig Muhammadiyah.

Pesan Pak AR ini terekam dalam buku tipis yang berjudul "Mubaligh Muhammadiyah: Chusus Untuk Mubalighin dan Mubalighat Muhammadijah".

Pesan ini merupakan peringatan kepada para mubalig Muhammadiyah agar selalu "empan-papan". Tahu apa yang harus dan tidak harus ditabligkan.

Selain pesan di atas, ada puluhan pesan lain yang terekam dalam buku sederhana itu. Pada intinya untuk menjadi Muhammadiyah itu sederhana, tetapi juga berat. Ringan tetapi tidak boleh diringankan atau disepelekan.

Walaupun dibukukan pada 1971, pesan-pesan Pak AR pada buku itu tampaknya masih banyak yang relevan untuk saat ini.

Mungkin karena semua pesan Pak AR ini berangkat dari pengalaman dan pengetahuan ketabligan beliau yang memang tidak dapat diragukan.

Ruh gerakan


Dari rekam jejak pelayanannya kepada umat, Pak AR memang banyak menaruh perhatian kepada urusan ketabligan dan kemubaligan.

Bagi Pak AR, ruh utama gerakan Muhammadiyah ada pada urusan tablig. Pada para mubalignya.

Menurut Pak AR, semua pimpinan, pegawai amal usaha, warga, dan anggota Muhammadiyah harus mau dan mampu menjadi mubalig Muhammadiyah.

Dalam konsep gerakan jamaah dan dakwah jamaah, misalnya, di situ disebut anggota Muhammadiyah pada dasarnya harus menjadi inti jamaah dari jamaah yang beragam di lingkungan masing-masing.

Dalam banyak tulisan Pak AR (dan juga para pimpinan Muhammadiyah yang lain seperti Yunus Anies ataupun H Fachruddin) disebut sering mengingatkan agar tidak tergesa-gesa menjadi anggota Muhammadiyah.

Kalau kita baca ulang formulir pendaftaran sebagai anggota Muhammadiyah, syarat menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sederhana.

Salah satunya bersedia menjadi teladan utama bagi umat Islam. Beramal dan mencapai tujuan Muhammadiyah. Melaksanakan/mendukung usaha Muhammadiyah.


Soal pembinaan


Sudah barang tentu kesediaan itu tidak akan terjadi secara seketika saat kita mendapatkan kartu anggota Muhammadiyah.

Untuk itu, pembinaan terhadap anggota dan simpatisan Muhammadiyah menjadi suatu keniscayaan yang tidak perlu diperdebatkan.

Pembinaan rutin dan terus-menerus terhadap anggota dan simpatisan Muhammadiyah ini mustahil dilaksanakan tanpa adanya mubalig Muhammadiyah.

Pada masa awal Muhammadiyah, mubalig Muhammadiyah juga sering disebut sebagai guru tablig.

Guru yang bertablig, bukan guru yang menunggu kedatangan para murid. Bukan guru yang mau mengajar kalau ada murid yang mendaftarkan diri, melainkan jemput bola.

Membuat jamaah dan mendampingi jamaahnya dalam berproses meningkatkan kualitas diri.

Dalam tataran konsep, Muhammadiyah sudah mempunyai model dakwah komunitas dengan basis gerakan jamaah dan dakwah jamaah.

Secara garis besar, konsep ini masih sangat relevan, hanya perlu modifikasi kecil untuk dapat dikembangkan.

Misalnya dengan menyinergikan amal usaha dalam pengembangan dakwah komunitas.

Untuk menegaskan arti penting mubalih bagi gerakan Muhammadiyah, pasal 6-9 Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah secara jelas mewajibkan adanya korps mubalig Muhammadiyah pada setiao PCM, PDM, dan PWM.

Selain itu, mewajibkan juga adanya program kursus atau pembinaan bagi para mubalig Muhammadiyah secara rutin. Minimal satu kali dalam satu bulan di setiap PCM, PDM, ataupun PWM.

Sementara di setiap PRM juga diwajibkan adanya program pembinaan untuk anggota dan masyarakat lewat pengajian yang keduanya mempunyai penekanan yang berbeda.


Hal yang penting


Sekali lagi, mubaligh dan pembinaan serta pencetakan mubaligh Muhammadiyah merupakan hal yang sangat penting dalam Muhammadiyah.

Mubalih di sini bukan sekedar mubaligh panggilan atau mubaligh temporer yang hanya dicetak menjelang datangnya Ramadhan.

Namun, mubaligh Muhammadiyah yang membumi, yang manjing ajur-ajer, menyatu dengan warga, dan menjadi generator munculnya energit positif bagi wara masyarakat.

Bukan mubalig yang malah memusuhi dan menjauhi masyarakat. Apalagi mubalih yang malam menjauhkan Muhammadiyah dari warga masyarakat dengan sikapnya yang tidak empan-papan. Seperti anak TK yang baru belajar silat, semua orang ditantang pencak.***

______

Sumber: Majalah SM edisi 15

Editor: Feri A