Prof Mu'ti dan Selera Guyon Khas Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Prof Mu'ti dan Selera Guyon Khas Muhammadiyah

Minggu, 11 September 2022 | 09:13 WIB Last Updated 2022-09-11T02:16:19Z

 


Kesan umum, orang-orang Muhammadiyah adalah orang yang kurang bisa untuk diajak guyon. Mereka dianggap kurang ngopi dan nongkrong karena terlalu sibuk dengan urusan-urusan administratif yang terkesan kaku.


Karena itu, kalau aktif di persyarikatan Muhammadiyah siap-siaplah disebut "Ih Seram". Ini terjadi karena menjadi lucu di Muhammadiyah seakan sebuah anomali. 


Kaum lucu di Muhammadiyah bisa dikatakan sebagai kelompok minoritas. Sebab, jarang sekali ceramah ustadz atau tokoh Muhammadiyah yang sarat dengan lelucon.


Namun ada pengecualian bagi Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah. Meski bergelar profesor dan berada di pucuk PP Muhammadiyah sebagai orang kedua setelah Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, Mas Mu’ti dalam setiap ceramah pasti ada ‘gerrr’-nya yang khas Muhammadiyin.


Guyonan Mas Mu’ti itu selalu dinanti jamaah di berbagai daerah di tanah air. Oleh karena itu, melalui Penerbit IBTimes.ID bekerjasama dengan Sekretariat Kantor PP Muhammadiyah Jakarta menerbitkan buku bertajuk “Guyon Maton: Lucu Bermutu Ala Muhammadiyin”.


“Ia adalah sosok akademisi, seorang guru besar yang mengajar di kampus, dan biasa di forum-forum ilmiah seperti seminar atau kuliah umum. Ia juga seorang mubaligh, penceramah ulung di masyarakat perkotaan maupun pedesaan.” tutur Azaki Khoirudin, Founder IBTime.


Azaki menuturkan, materi-materi ceramah yang berat dan cenderung serius sebagaimana yang terjadi di pengajian-pengajian Muhammadiyah, oleh Mas Mu’ti dibawakan dengan renyah dan humor yang spontan. 


“Menariknya, ia juga seorang penulis buku, artikel populer di media massa. Semua peran tersebut dimainkan oleh “Bapak Muhammadiyah Garis Lucu” dengan gaya yang renyah dan humor yang spontan. Hal itulah yang membuat Bapak MGL ini selalu dinanti jamaah di berbagai daerah di tanah air,” ujarnya.


Buku tersebut berisi 54 cerita-cerita lucu yang pernah disampaikan oleh Prof. Abdul Mu’ti di berbagai kesempatan ceramah ilmiah, pengajian dan media sosial seperti instagram, twitter, dan facebook. 


Angka 54 ini istimewa, karena disesuaikan dengan usia Abdul Mu’ti yang pada 2022 berusia 54 tahun. 


Pak AR dan Guyon Bermutu Muhammadiyah

 

Menurut Mas Mu'ti, Pak AR begitu lekat di hati warga Muhammadiyah, umat dan masyarakat karena keulamaan, kesederhanaan, dan yang khas kelucuannya. Mu'ti mengatakan ceramah-ceramah Pak AR mencerahkan dan menyenangkan.


Karena itu, mantan Ketua Badan Standar Pendidikan (BSNP) itu menulis buku untuk merekam jejak kelucuan yang selama ini dia posting di medsos atau disampaikan dalam berbagai ceramah, sehingga menampilkan sisi lain Muhammadiyah. 


Buku tersebut disusun atas permintaan pengikutnya di Instagram, Twitter, maupun Facebook. Semula ragu karena cerita-cerita itu dia anggap biasa saja, tapi akhirnya Mu'ti diyakinkan untuk menulis cerita-cerita itu.


"Melucu itu manusiawi. Lucu adalah salah satu ciri manusia. Meluculah agar tetap menjadi manusia dan tidak kehilangan sifat kemanusiaan. Melucu adalah cara berkomunikasi yang mudah, murah, dan meriah. Seringlah melucu agar hari bungah dan wajah semringah. Melucu adalah cara mudah membangun persahabatan," kata Abdul Mu'ti.


Stigma Orang Muhammadiyah Tidak Bisa Bercanda


Bertempat di Aula Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Prof Abdul Mu’ti meluncurkan buku "Guyon Maton: Lucu Bermutu ala Muhammadiyah", Jumat (9/9/2022).


Dalam peluncuran buku ini, hadir langsung Duta Besar RI untuk Lebanon, Hajriyanto Y Thohari, Duta Besar Ukraina untuk Indonesia, Vasyl Hamianin, Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi, perwakilan DPP PIKI, Pendeta Victor Rembeth, perwakilan KWI, Romo Benny Susetyo, anggota DPR RI, Ahmad Basarah, beserta Angkatan Muda Muhammadiyah.


Berterima kasih kepada semua pihak yang terlibat, Mu’ti menjelaskan bahwa humor-humor bukanlah sesuatu yang tabu karena secara antropologis, humor itu bagian dari menggembirakan diri sendiri dan orang lain dan terkadang humor juga bisa menjadi alat perlawanan atau kritik.


“Semua ini kalau kita akrab, tulus, tidak bermaksud merendahkan satu sama lain insyaallah bercanda kita diterima dengan yang lain,” imbuhnya.


Sementara itu, tokoh KWI, Romo Benny Susetyo menyebut Abdul Mu’ti adalah sosok yang dikenal humoris oleh banyak kalangan, termasuk di kalangan umat Katolik dan Kristiani bahkan sampai di forum internasional. 


“Kalau kita baca, lelucon dia itu tidak sekadar membuat kita tertawa, tapi juga membuat hati terguncang, membuat orang berefleksi dan mempertobatkan orang,” kata Romo Benny.


Sumber: muhammadiyah.or.id