Betulkah Keutamaan Merayakan Maulid Nabi Berasal dari Hadis Palsu? Ini Jawabannya

Notification

×

Iklan

Iklan

Betulkah Keutamaan Merayakan Maulid Nabi Berasal dari Hadis Palsu? Ini Jawabannya

Sabtu, 15 Oktober 2022 | 16:37 WIB Last Updated 2022-10-15T09:37:25Z


YOGYAKARTA
— Dalam kitab Madarij al-Suud ila Iktisai al-Burud karya Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani (w. 1314 H/ 1897) memuat hadis tentang keutamaan merayakan Maulid Nabi Saw.


Kitab tersebut merupakan syarah atas teks Aqd al-Jauhar fi Maulid al-Nabi al-Azhar atau Kitab Barzanji karya Syaikh Jafar al-Barzanji (w. 1117 H/ 1705 M).


Di Indonesia, terutama di lingkungan pesantren-pesantren tradisional, baik kitab karya Imam Nawawi al-Bantani maupun Imam al-Barzanji ini begitu populer, terutama tiap kali menjelang perayaan Maulid Nabi tanggal 12 Rabiul Awwal.


“Syaikh Nawawi al Bantani ini adalah ulama asal Indonesia tetapi menetapnya di Arab. Banyak karya-karya beliau yang dijadikan sebagai rujukan, terutama di negara kita, bahkan dikaji di pesantren-pesantren,” tutur Atiyatul Ulya dalam Pengajian PP Muhammadiyah pada Jumat (14/10/2022).

 

Dalam kitab Madarij al-Suud, Imam Nawawi al-Bantani menulis hadis tentang keutamaan merayakan Maulid Nabi sbb: Nabi Saw bersabda: “Barang siapa mengagungkan hari kelahiranku, niscaya aku akan memberi syafaat kepadanya kelak pada Hari Kiamat. Dan barang siapa mendermakan satu dirham di dalam menghormati kelahiranku, maka seakan-akan dia telah mendermakan satu gunung emas di jalan Allah”.


Dosen Ilmu Hadis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini mengungkapkan bahwa redaksi hadis di atas tidak termuat dalam kitab-kitab induk hadis.


Dengan kata lain, hadis tentang keutamaan merayakan Maulid Nabi ini tidak ditemukan dalam kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan At-Tirmidzi, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah. Bahkan tidak terdapat pula dalam Musnad Ahmad, Al Muwaththa’ Imam Malik dan Sunan Ad Darimi.


“Kalau kita lacak dengan menggunakan takhrij hadis, riwayat ini tidak ditemukan satu pun dalam kitab induk hadis apapun. Karena tidak ditemukan, maka dalam kajian ilmu hadis biasanya ini masuk dalam kategori indikator hadis palsu,” ujar Atiyah.


Sumber: muhammadiyah.or.id