Haedar Nashir: Nilai Pendidikan Muhammadiyah ialah Jangkar Hadapi Ombak Peradaban

Notification

×

Iklan

Iklan

Haedar Nashir: Nilai Pendidikan Muhammadiyah ialah Jangkar Hadapi Ombak Peradaban

Kamis, 06 Oktober 2022 | 16:02 WIB Last Updated 2022-10-06T09:02:11Z


Muhammadiyah menjadi pelopor dunia pendidikan modern di Indonesia, sebagai Islam yang Berkemajuan, Muhammadiyah terus menempatkan diri dalam kepeloporan tersebut.


Tidak cukup melahirkan dan membesarkan ratusan perguruan tinggi secara ‘konvensional’, Muhammadiyah kembali mempelopori berdirinya Model Perguruan Tinggi Swasta Pembelajaran Jarak Jauh (PTS PJJ), melalui Universitas Siber Muhammadiyah (SiberMu).


Meski lembaga pendidikannya selalu kompatibel dengan modernitas, tetapi menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, lembaga pendidikan Muhammadiyah dalam model apapun tetap tidak terlepas dari nilai atau value utamanya.


Sebagai gerakan keislaman, tentu nilai yang ditanamkan pada setiap lembaga pendidikan Muhammadiyah adalah Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Menurut Haedar, nilai ini akan menjadi jangkar yang kokoh kala menghadapi ombak besar peradaban.


“Nilai-nilai luhur yang menjadi jiwa kita, orientasi Tindakan kita yang dalam kehidupan kita tentu valuenya adalah agama, bagi kita muslim adalah islam,” ungkap Haedar, Rabu (5/10/2022) di acara Launching Kampus Virtual SiberMu.


Guru Besar Sosiologi ini menegaskan, bahwa keberadaan lembaga pendidikan Muhammadiyah dengan segala modelnya merupakan usaha yang tidak terpisahkan untuk menjadikan Islam sebagai nilai utama sebagai pemandu manusia dalam kehidupan.


Nilai AIK yang menjadi fondasi di lembaga pendidikan Muhammadiyah akan berfungsi sebagai guidance manusia ketika menjalankan fungsinya sebagai khalifah dalam menilai salah dengan buruk, pantas dengan tidak pantas. Petunjuk benar untuk memilih itu hanya ditemukan dalam agama.


“Sampai dunia ini kiamat, agama tetap penting, maka Jangan sampai dunia baru ini mereduksi agama karena membawa nilai-nilai sekuler yang radikal ekstrim.” tutur Haedar.


Sebagai bangsa Indonesia, nilai tersebut tentu dikolaborasikan dengan nilai luhur bangsa dan Pancasila. Kolaborasi antara nilai AIK yang Berkemajuan, nilai luhur bangsa dan Pancasila diharapkan mampu mencerdaskan bangsa, memajukannya, membuat bangsa semakin beradab, dan menjadikan bangsa yang terbaik.


Selain itu, penguatan nilai di lembaga pendidikan Muhammadiyah juga untuk menjaga peradaban bangsa agar terhindar dari kejatuhan. Dalam pengamatannya, kejatuhan suatu bangsa bermula dari hilangnya nilai dalam kehidupan manusia.


Haedar menjelaskan, keislaman di Muhammadiyah tidak dipahami secara pragmatis. Melainkan secara menyeluruh baik dalam aspek bayani, burhani maupun irfani. Pemahaman komprehensif itu dimaksudkan agar tidak terjadi reduksi, bias dan pemahaman yang sempit.


“Artinya di era sekarang pun jangan berhenti belajar, para mubaligh yang ahli agama, jangan berkutat pada pikiranya sendiri. Gunakan dunia metaverse ini untuk kepentingan dakwah yang mencerahkan, mencerdaskan, menyelamatkan kehidupan, alam semesta,” tandasnya.


Sumber: muhammadiyah.or.id