Idealita dan Realita Kepribadian Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Idealita dan Realita Kepribadian Muhammadiyah

Jumat, 14 Oktober 2022 | 16:01 WIB Last Updated 2022-10-15T04:23:47Z


Oleh: Ace Somantri,
Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) 


Populasi penduduk dunia terus bertambah. Tak bisa dipungkiri pertumbuhan ini menjadi beban bagi sebuah negara manakala hidupnya ditanggung oleh pemerintah. Apalagi bila populasi penduduk terjadi di sebuah negara berkembang atau negara ketiga. 


Pendapatan asli negara tidak seimbang dengan jumlah warga yang harus ditanggung dan dijamin kebutuhan hidupnya seperti pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial. 


Muhamamdiyah sebagai elemen bangsa dan negara, warganya juga sebagai warga negara Indonesia. Mereka paham agama Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah sahih yang dirumuskan dan dikembangkan berdasarkan realitas kehidupan masyarakat. 


Konsep dasar inilah yang disebut Islam berkemajuan sebagai ideologi murni Muhammadiyah, baik yang termaktub dalam rumusan kepribadian Muhammadiyah, Khittah Muhamamdiyah serta tatacara ibadah praktis dalam himpunan putusan tarjih, sekaligus tuntutan dan pedoman hidup Islami bagi warga Muhamamdiyah yang telah diterbitkan menjadi buku. 


Begitu lengkap dan mendekati sempurna rancang bangun serta kontruksi bermuhammadiyah bagi para warga persyarikatan Muhammadiyah. Pemahaman warga Muhammadiyah terhadap karakter bermuhammadiyah tidak hanya difahami secara tekstual-normatif, yang akhirnya implementasinya jadi bias dan sangat mungkin terjadi ambigu. 


Dakwah amar makruf, berorientasi pada dua pendekatan tajdid. Pertama pendekatan ke dalam (sentrifental) umat Islam yang menekankan pembaharuan berpikir dan beramal lebih up to date sesuai kebutuhan praktis-solutif, tidak berselancar pada pemahaman Islam yang kakuk, rigid, dan ekslusif.


Kedua, pendekatan ke luar (sentrifugal) umat Islam, dimana mereka pun adalah sama-sama makhluk Allah Ta'ala. Dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mendapatkan wawasan keislaman sebagai wujud rahmat di alam semesta, berharap mereka menilai dan menganggap Islam adalah ajaran yang penuh kasih sayang dan melayani pada sesama, hingga hatinya terpanggil untuk mengikuti ajaran Islam. 


Pendekatan aplikatif kepribadian Muhammadiyah bagi umat Islam yakni memberikan pememahaman rasional, logis dan praktis. Pun sama dengan Muhammadiyah, harus memiliki pola dan kerangka praktis dengan tahap keteladanan warga dan pimpinan persyarikatan Muhammadiyah. 


Usahakan untuk dihindari prilaku warga Muhammadiyah yang mempertontonkan ke-Aku-an sebagai warga paling taat kepada manhaj Muhammadiyah, sementara akhlaknya kurang dan tidak layak untuk dijadikan referensi yang dapat diikuti oleh warga dan di luar warga Muhammadiyah. 


Kepribadian yang diharapkan sebenarnya dalam aplikasinya sederhana, selain bertutur kata santun dan beradab yang paling dikedepankan ketegasan implementatif kaidah-kaidah persyarikatan yang disepakati. Juga hindari kesan, institusi persyarikatan membuat aturan dan kebijakan namun pemegang kebijakan melanggar kaidah. 


Nah, disitu akan menjadi catatan bahwa kepribadian Muhammadiyah dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan persyarikatan, khususnya para pimpinan di semua level termasuk para penggerak amal usaha Muhamamdiyah di berbagi bidang.


Kepribadian Muhammadiyah selama ini masih berorientasi pada pemahaman akademis, seharusnya dibuatkan skema dan pola praktis yang aplikatif. Akhlaqi dan ihsani sebagai pembiasaan bagi seluruh pimpinan, pengurus, guru, dosen, staf dan karyawan serta warga Muhammadiyah pada tataran teknis bukan pada penguatan simbolik-spiritualistik yang jumud. 


Jangan terjai ketika berbicara tentang sikap akhlaqi dan ihsani, faktanya hanya ada dalam wacana narasi, risalah dan buku semata. Di fodium bicara bahwa warga persyarikatan harus taat dan fatsun pada aturan dan kaidah, tapi tidak terasa pemegang kebijakan melanggar. 


Tidak ketinggalan juga perbanyak kajian kemuhammadiyahan dalam forum diskusi yang menekankan pembaharuan, tetapi realitanya jauh dari pembaharuan. 


Akhirulkalam, kepribadian Muhammadiyah ialah bagian dari sikap linear dan simultan sikap warga persyarikatan yang bersesuaian antara idealita dan realita. 


Bandung, Oktober 2022