Makna Penderitaan

Notification

×

Iklan

Iklan

Makna Penderitaan

Kamis, 20 Oktober 2022 | 17:17 WIB Last Updated 2022-10-20T10:17:24Z


Oleh: Prof. KH. Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Penderitaan berasal dari bahasa sansekerta “dhra” yang artinya menanggung atau menahan. Maka, derita artinya menanggung atau menahan sesuatu yang tidak menyenangkan atau yang tidak diinginkan. 


Penderitaan adalah kenyataan dalam kehidupan yang terkadang dianggap oleh sebagian orang sebagai siksaan atau hukuman Tuhan. 


Akan tetapi, hakikatnya penderitaan itu adalah cobaan Allah yang diberikan kepada kita untuk menguji seberapa besar tingkat pengabdian dan keimanan kita kepada-Nya. 


Seringkali orang–orang yang kurang beriman menyalahkan Allah dan menganggap Allah tidak adil terhadap mereka karena mendapat penderitaan yang mereka alami. 


Padahal, semua manusia di bumi ini tanpa memandang status sosialnya juga mengalami ujian dalam bentuk yang beragam. Sifat dasar manusia memang akan cenderung menyalahkan orang lain ketika segala yang jelek menimpanya. 


Maka dari itu, tidaklah kita pantas memiliki sifat seperti itu, karena Allah Mahaadil, tidak mungkin menimpakan ujian di luar kadar kemampuan kita masing-masing.


Harus diakui, bahwa ujian berat yang kita alami, akan berdampak secara psikologis. Biasanya, hal itu berbentuk hal yang positif ataupun negatif. Dalam hal positif, ujian berat dapat mengubah cara berfikir kita menjadi lebih baik. 


Artinya, dengan menyadari kesalahan kita di masa lalu dan membuat janji atau sumpah untuk tidak mengulanginya lagi. Kemudian, memberikan pelajaran bagi kita bahwa hidup itu penuh dengan perjuangan untuk meraih apa yang kita inginkan. 


Di samping itu, ujian dapat membuat seseorang menjadi lebih dewasa dalam menyikapi suatu permasalahan. Oleh karena itu, jangan sampai ujian membuat kita putus asa mengalami phobia kekecewaan, dan bahkan hilangnya kepercayaan kita terhadap Allah.


Ujian yang kita alami jangan pernah dibiarkan maupun disesali secara berlebihan, karena ujian itu harus kita perjuangkan agar bisa lepas. Hal yang terpenting yang harus diingat bahwasannya Allah pasti memberikan jalan bagi hamba–hambaNya yang berjuang untuk lepas dari ujian hidup kita. 


Inilah yang dimaksud bahwa Allah tidak akan merubah hidup di antara kita kecuali kita yang merubahnya. Artinya, kita berusaha keras agar berubah ke arah yang lebih baik, setelah itu, barulah serahkan kepada Allah hasilnya.


Kata derita itu sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang artinya menahan. Setiap manusia pasti pernah merasakan yang namanya ujian hidup dan rasanya tidak enak, ingin segera cepat-cepat untuk mengakhiri ujian tersebut. 


Tetapi, hakikatnya semua manusia tidak luput dari penderitaan ujian hidup, di situlah manusia mulai diuji kesabarannya oleh yang Mahakuasa apakah ia sanggup untuk menghadapinya atau tidak.


Jika dikatakan bahwa manusia lebih menyukai kenikmatan dan keindahan hidup, memang benar adanya, dan kita pun bisa merasakannya sendiri. Sedangkan yang sifatnya penderitaan atau ujian yang datang tidak diduga, cenderung akan disesali, sangat dihindari di dalam kehidupan setiap manusia. 


Penderitaan dapat berupa ujian batin atupun secara lahir. Jika manusia hanya diberikan kenikmatan terus-menerus dalam hidupnya, ia akan lupa dengan Allah. Mengapa demikian? Karena kita merasa hidup itu nikmat dan sudah berhasil, tidak perlu lagi berdoa kepada Allah. 


Padahal, jika ditelaah mengenai perintah berdoa, tidak ada ukuran kapan dan sedang apa kita, berdoa harus selalu dilakukan kepada Allah. Di samping itu, orang tersebut tidak akan peduli terhadap saudara kita yang hidupnya masih kekurangan, tidak mensyukuri kenikmatannya, dan orang tersebut menjadi takabur dan sombong. 


Tetapi, dengan diberikannya ujian hidup, maka manusia menjadi lebih dekat dengan Allah dan lebih banyak mensyukuri semua nikmat.


Manusia di dunia ini mempunyai dua sisi, yaitu sisi bahagia dan penderitaan. Ada kalanya manusia merasakan sebuah kebahagiaan. Kehidupan memang tak akan lengkap jika hanya ada kebahagiaan. 


Tapi, jika hanya ada kebahagiaan saja, maka manusia itu tidak akan pernah bersyukur kepada Allah yang telah menciptakannya. Di samping terdapatnya kebahagiaan, kita juga dapat merasakan penderitaan atau ujian hidup. 


Hidup tidak selalu di atas, artinya menikmati kesuksesan dan keberhasilan, ada kalanya kita akan merasakan di bawah, artinya saat kegaglan datang menimpa.


Hikmah kita merasakan penderitaan atau ujian hidup adalah kita akan lebih bersyukur atas apa yang sudah kita dapatkan selama ini. Allah tidak akan memberikan cobaan kepada makhluknya melebihi batas kemampuannya. 


Maka dari itu, setiap cobaan yang diberikan Allah, kita dapat melewatinya dengan baik dan berbaik sangka kepada-Nya. Cobaan yang diberikan, sudah pasti ada sisi positif yang dapat kita ambil sebagai bahan renungan untuk lebih baik lagi. 


Digubah dari buku karya prof. Dadang Kahmad berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014).