Manusia yang Bersyukur

Notification

×

Iklan

Iklan

Manusia yang Bersyukur

Senin, 10 Oktober 2022 | 12:09 WIB Last Updated 2022-10-10T05:09:49Z


Oleh: Prof. KH. Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Cobalah kita bertanya pada orang di sekitar, apa makna kehidupan? Tentunya akan banyak pendapat yang diungkapkan tentang makna kehidupan. Ada orang yang menganggap “hidup adalah perjuangan,” “hidup adalah memberi,” “hidup adalah permainan,” “hidup adalah ujian,” “hidup adalah petualangan”, dan “hidup adalah bersenang-senang”. 


Pendapat mereka ini, tidaklah salah seratus persen. Karena setiap orang memiliki hak untuk memaknai kehidupan ini. 


Akan tetapi, sebagai orang yang beriman, kehidupan harus ditempatkan sebagai sebuah kawah candradimuka untuk menempa mental dan keimanan kita. Bagi orang yang hidup mewah dan mementingkan kesenangan duniawi, mereka kerap menilai bahwa hidup harus dinikmati, foya-foya, dan dimanfaatkan untuk kesenangan. 


Dengan begitu, mereka selalu mencari cara bagaimana mempertahankan kesenangan itu agar tetap langgeng. Maka, orang kaya tak beriman, takut bahwa dirinya miskin dan susah. Karena ketakutan inilah mereka kerap mencari rezeki dengan cara yang tidak halal dan baik. 


Sementara itu, orang yang terbiasa dengan kesusahan dan kesulitan, baginya hidup adalah wahana untuk bersabar, tawakal, dan tabah dalam menanggung segala penderitaan. Tak sedikit, sebagian dari mereka putus asa dan mengakhiri hidup dengan cara yang memilukan, yakni bunuh diri. 


Keimanan yang kokoh membuat kita tidak terjebak pada tindakan si orang kaya dan si miskin, yang tak beriman. Sehingga dengan demikian kita membutuhkan ketebalan iman dalam mengarungi kehidupan ini. 


Sikap tergesa-gesa karena kita tidak sabar menghadapi musibah yang mendera ialah bagian dari perbuatan syetan (minasy-syaithan). Ketergesa-gesaan juga dalam perspektif psikologi merupakan indikator kita tidak sehat secara mental dan bentuk dari ketidakdewasaan diri. 


Di dalam kesabaran terkandung kekuatan transformatif bila kita lapang dada menyikapi kehidupan yang terjadi. Bagi orang-orang yang sabar, ketika bencana kekeringan dan gempa menimpa, misalnya, dirinya tidak larut dalam kesedihan berkepanjangan tanpa melakukan usaha keluar dari musibah tersebut. 


Bagi seorang muslim sejati, musibah dipahami sebagai ujian yang wajib dilalui untuk mengokohkan keimanan pada-Nya. Allah Swt. berfirman di dalam Al-Quran, “……maka perkokohlah (berteguh hati) dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu memperoleh kemenangan.” (QS. Al-Anfal [8]: 45).  


Bagi mereka, tonggak awal perubahan hidup diawali dari seberapa piawai dirinya keluar dari impitan masalah, sehingga menerpanya menjadi individu taat, takwa, sabar, dan tawakkal. 


Dengan hal itulah umat akan lebih bijaksana menyikapi aneka musibah yang seolah tak pernah berhenti menguji keimanannya. Semoga kita tergolong orang-orang yang sabar, sebab Allah berserta orang-orang yang sabar ketika dirinya berada diambang penderitaan. 


Merintih, meratap, dan terus larut dalam kekesalan tanpa berusaha bukanlah hakikat maknawi dari kesabaran. Al-shabru, ialah sebuah kerangka ketabahan jiwa yang menyertakan optimalisasi perbuatan aktif, sehingga terjadi perubahan di dalam kehidupannya. 


Jadi, tidak salah kalau Allah menginformasikan bahwa akan terjadi perbedaan antara orang-orang yang sabar dan orang-orang tidak sabar. 


Fenomena bunuh diri, misalnya, notabene diinisiasi kelemahan jiwa dan ketidaksabaran. Karena impitan ekonomi, tak sedikit bunuh diri menjadi jalan menyelesaikan masalah kehidupan. Seorang pengusaha melakukan hal yang sama, karena sedang menghadapi kemelut masalah di perusahaannya. 


Mereka memahami hidup hanya dengan menggunakan rumus keinginan mesti berbuah kenyataan. Padahal rumus kehidupan tidak seperti itu. Adakalanya keinginan melahirkan kegagalan atau ketidaksesuaian dengan realitas hidup. 


Maka sewajibnya moralitas agama diperkokoh kembali dalam diri kita. Sehingga hidup mewujud dalam bentuk yang asyik-masyuk. Ruang dan waktu yang dijalani dengan keikhlasan penuh bahwa Dia (Allah) sedang menguji kadar keimanan kita pada-Nya. 


Ingat, lemparan batu tentu saja tidak semuanya akan mengenai target yang sama. Artinya, pengharapan adakalanya tidak sesuai dengan yang kita rancang. Pada posisi ini, kesabaran dan ketabahan merupakan benteng pertahanan yang sangat efektif meredam keinginan mengakhiri hidup kala masalah menerpa. 


Seorang muslim sejati, ialah individu yang dapat mengoptimalkan potensi diri untuk mewujudkan harapan, tanpa terpaku pada hasil. Dia (Allah) akan memberikan berkah tak terkira meskipun harapan itu gagal terwujud. 


Karena dengan kegagalan tersebut, kita dapat mempelajari kekurangan sehingga di lain waktu dapat dikurangi. Inilah letak keberkahan tak terkira. 


Kita, dengan kegagalan yang menimpa akan membentuk jiwa hingga menjadi kokoh. Alhasil, muncul sikap hati-hati, awas dan waspada ketika menyusun program kerja kehidupan. Dalam pepatah disebutkan, seorang manusia bijaksana adalah orang yang tidak akan terperosok pada lubang yang sama. 


Di dalam Al-Quran dijelaskan, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan (memberi potensi) pada jiwa kefasikan (pengingkaran terselubung) dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa dan merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 7-10).


Manusia sejati yang dicintai Allah ialah seorang individu yang selalu bersyukur dengan apa yang diperoleh di dalam hidupnya. Dengan perasaan yang syukur, sebetulnya jiwa kita diliputi dengan keridhaan yang mampu membangkitkan kita dari keterpurukan. 


Karena itu, sebesar apa pun masalah yang kita hadapi akan mampu diselesaikan karena kita memiliki jiwa optimis dan transformatif. 


Digubah dari buku karya Prof Dadang Kahmad berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014).