Iklan

UMBandung

Iklan

UMBandung
,

Iklan

Tuntunan Khutbah Idul Fitri Sesuai Sunah Nabi

Redaksi
Selasa, 09 April 2024, 19:42 WIB Last Updated 2024-04-09T12:42:20Z


JAKARTA --
Setelah menunaikan Salat ‘Id, khatib segera melangkah menuju mimbar untuk memberikan khutbah. Ini adalah saat di mana khatib, atau penceramah, memperkuat makna ibadah yang baru saja dilaksanakan dengan memberikan panduan, nasehat, dan dorongan kepada jamaah. 


Berikut beberapa Sunah Nabi Saw yang dianjurkan dalam prosesi khutbah Idul Fitri.


Hanya Satu Kali Khutbah



Khutbah ini hanya disampaikan satu kali, tanpa diselingi dengan duduk antara dua khutbah. Praktik ini sesuai dengan tuntunan yang diperintahkan oleh Rasulullah Saw, sebagaimana yang tertera dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri.


“Diriwayatkan dari Abu Sa‘id al-Khudri bahwa ia berkata: Rasulullah saw keluar pada hari raya Idul Fitri dan Idul Adlha menuju lapangan tempat salat, maka hal pertama yang dia lakukan adalah salat, kemudian manakala selesai beliau berdiri menghadap orang banyak yang tetap duduk dalam saf-saf mereka, lalu Nabi saw menyampaikan nasehat dan pesan-pesan dan perintah kepada mereka; lalu jika beliau hendak memberangkatkan angkatan perang atau hendak memerintahkan sesuatu beliau laksanakan, kemudia lalu beliau pulang.” [HR. Muttafaq ‘alaih, dan ini lafal al-Bukhari].


Dalam hadis di atas disebutkan bahwa Rasulullah Saw selalu keluar pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha menuju lapangan tempat pelaksanaan salat. Setelah menyelesaikan salat, beliau berdiri menghadap orang banyak yang tetap duduk dalam barisan mereka, untuk menyampaikan nasehat, pesan-pesan, dan perintah kepada mereka. Jika beliau hendak memberangkatkan angkatan perang atau hendak memerintahkan sesuatu, beliau akan melaksanakannya sebelum pulang.


Dari hadis ini, tergambar dengan jelas bahwa setelah menunaikan Salat ‘Id, Nabi Saw langsung memberikan khutbah tanpa adanya istirahat atau duduk di antara dua khutbah. Praktik ini menjadi contoh yang diikuti oleh umat Muslim dalam menjalankan ibadah Salat ‘Id hingga saat ini.


Khutbah Dimulai dengan Tahmid



Khutbah ‘Id dimulai dengan tahmid (membaca al-hamdu lillah), bukan dengan takbir. Hal ini didasarkan pada hadis yang juga menggambarkan praktik Rasulullah Saw dalam memberikan khutbah pada Hari Raya.


Dalam hadis yang diriwayatkan dari Jabir, disebutkan bahwa Nabi Saw memulai salat pada Hari Raya tanpa adanya azan dan iqamat sebelum khutbah. Setelah menyelesaikan salat, beliau berdiri bersandar kepada Bilal, lalu memulai dengan tahmid dan memuji Allah, serta memberikan nasehat, peringatan, dan dorongan kepada jamaah untuk patuh kepada-Nya.


Diriwayatkan dari Jabir bahwa ia berkata: Saya menghadiri salat pada suatu hari raya bersama Rasulullah saw: sebelum khutbah beliau memulai dengan salat tanpa azan dan tanpa qamat. Lalu manakala selesai salat beliau berdiri dengan bersandar kepada Bilal. Lalu ia bertahmid dan memuji Allah, menyampaikan nasehat dan peringatan untuk jamaah, serta mendorong mereka supaya patuh kepada-Nya …” [HR. an-Nasa’i].


Dengan demikian, praktik memulai khutbah dengan tahmid menjadi bagian dari tuntunan yang diberikan oleh Nabi Saw kepada umatnya. Ini juga mencerminkan kesempurnaan kepatuhan terhadap sunnah Rasulullah Saw dalam menjalankan ibadah Hari Raya.


Takbir di Sela-sela Khutbah



Tidak hanya itu, dalam hadis yang diriwayatkan dari Sa‘ad al-Mu’adzdzin, disebutkan bahwa Nabi Saw melakukan takbir di sela-sela khutbah, bahkan beliau memperbanyak takbir dalam khutbah pada dua Hari Raya. Ini menunjukkan bahwa walaupun takbir diperbanyak dalam khutbah, namun khutbah dimulai dengan tahmid, sesuai dengan tuntunan yang telah ditetapkan oleh Nabi Saw.


“Diriwayatkan dari Sa‘ad al-Mu’adzdzin bahwa ia berkata: Nabi saw bertakbir di sela-sela khutbah, beliau memperbanyak takbir di dalam khutbah dua hari raya.” [HR. Ibnu Majah].


Khutbah Diakhiri dengan Doa dan Mengangkat Jari Telunjuk


Setelah memberikan khutbah pada Hari Raya, khutbah tersebut diakhiri dengan doa. Imam mengangkat tangan jari syahadat (telunjuk) tangan kanan, serupa dengan yang dilakukan dalam khutbah Jumuah. Hal ini sesuai dengan tuntunan yang diberikan dalam hadis yang diriwayatkan dari Hushain.


“Diriwayatkan dari Hushain, bahwa Basyir bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada khutbah Jumuah di atas mimbar, kemudian dimarahi oleh Amarah Ruwaibah ats-Tsaqafi dan berkata: Rasulullah saw tidak menambah ini, dengan mengisyaratkan jari telunjuknya.” [HR. an-Nasa’i].


Dalam hadis tersebut, disebutkan bahwa Basyir bin Marwan mengangkat kedua tangannya pada khutbah Jumuah di atas mimbar. Namun, ia kemudian dimarahi oleh Amarah Ruwaibah ats-Tsaqafi karena perbuatannya tersebut. Amarah menyatakan bahwa Rasulullah Saw tidak melakukan hal tersebut, melainkan hanya mengisyaratkan dengan jari telunjuknya.


Dari hadis ini, tergambar bahwa dalam mengakhiri khutbah, Rasulullah Saw tidak mengangkat kedua tangannya seperti dalam doa, melainkan hanya mengisyaratkan dengan jari telunjuknya. Praktik ini kemudian diikuti oleh umat Islam dalam melaksanakan khutbah, baik pada Hari Raya maupun pada khutbah Jumuah.


Dengan demikian, penutupan khutbah dengan doa dan mengangkat tangan jari syahadat merupakan bagian dari tuntunan Rasulullah Saw kepada umatnya. Ini juga menjadi momen terakhir dalam ibadah Salat ‘Id di mana umat Muslim berdoa bersama-sama untuk memohon keberkahan dan rahmat dari Allah SWT.***(MHMD)

Iklan