Optimasi Berdoa

Notification

×

Iklan

Iklan

Optimasi Berdoa

Sabtu, 01 Oktober 2022 | 09:12 WIB Last Updated 2022-10-01T02:12:11Z


Oleh: Prof. KH. Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Sebagai seorang hamba-Nya, kita jangan berputus asa dan merasa bahwa doa tidak terkabul hanya karena apa yang didapatkan tidaklah sesuai dengan apa yang kita pinta. Tetaplah berprasangka baik kepada Allah. 


Boleh jadi doa itu tidak terkabul karena ia tertolak, ada syarat yang tidak terpenuhi atau ada faktor yang menghalangi. Boleh jadi pula doa itu terkabulkan dalam bentuk dan cara lain yang tidak disadari dan dimengerti kita. 


Doa yang kita panjatkan bisa dikabulkan dalam bentuk persis sesuai permintaan, tapi bisa juga digantikan dengan yang lebih baik. Dihindarkannya kita dari keburukan dan marabahaya juga salah satu bentuk dikabulkannya doa. Kalaupun tidak diberikan di dunia ini, Allah akan menyimpan doa-doa kita untuk dicatat sebagai nilai pahala di akhirat nanti. 


Salah seorang sahabat Nabi Saw. pernah berkata, “Ketika Nabi Muhammad Saw. sedang duduk di masjid, tiba-tiba datanglah seorang laki-laki masuk lalu shalat. Setelah shalat ia membaca doa. Maka waktu itu Rasulullah pun bersabda: Wahai kawan, engkau terburu-buru. Jika engkau shalat, duduklah dahulu kemudian bacalah puji-pujian kepada Allah. Karena Dia yang memiliki pujian itu. Lalu engkau baca shalawat untuk Nabi. Selanjutnya berdoalah, maka akan dipenuhi.” (HR. Tirmidzi).


Menurut Yusuf Al-Qardawi, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin doa kita dikabulkan oleh Allah:


1. Optimal dalam berdoa


Berdoa seyogyanya juga diiringi dengan usaha yang optimal. Mustahil doa itu dikabulkan oleh Allah ketika kita tidak pernah melakukan ikhtiar apapun. 


Allah Swt., berfirman, “Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tentaranya, mereka berdoa, “Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami, kukuhkanlah langkah kami, dan tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” Maka mereka mengalahkannya dengan izin Allah, dan Daud membunuh Jalut.” (QS Al-Baqarah [2]: 250-251).


Peristiwa yang diabadikan oleh Allah dalam Al Quran ini mengisyaratkan bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya ketika hamba yang berdoa berusaha. Pasukan Thalut tidak hanya berpangku tangan, tetapi mereka maju ke medan perang, berhadap-hadapan dengan orang-orang kafir (pasukan Jalut). Ini mengindikasikan bahwa untuk menjadi pemenang harus maju ke medan perang.  


2. Memelihara hubungan yang baik dengan Allah


Rasulullah Saw., bersabda, “Sungguh kalian akan terus menyeru kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar. Atau (jika tidak) maka Allah akan menjadikan orang-orang yang paling buruk diantara kalian menguasai dan memimpin kalian, sehingga ketika itu orang-orang yang paling baik diantara kalian berdoa tetapi doanya tidak dikabulkan.” (HR Al Bazzar dan Ath Thabrani). 


Dalam riwayat At Tirmidzi: “Atau (jika tidak) maka hampir-hampir Allah pasti akan menurunkan adzab-Nya, kemudian kalian berdoa kepada Allah tetapi Allah tidak mengabulkannya.”


Sama halnya ketika kita meminta kebaikan atau pertolongan kepada manusia lain, kita pun hendaknya memelihara hubungan baik dengan orang yang kita mintai pertolongan itu. Maka, ketika kita hendak berdoa kepada Allah, wajib memelihara hubungan yang baik dengan Allah. Bagaimana caranya? Jauhi kemaksiatan dan dosa-dosa besar serta tetaplah beramar makruf nahi munkar. 


3. Ikhlas


Seandainya doa-doa kita belum dikabulkan, boleh jadi belum seratus persen kita dalam meminta. Ada sekian persen keikhlasan yang terlewatkan. Ingat, keikhlasan merupakan poros semua amalan dan ibadah. Doa orang yang ikhlas akan lebih didengar dan diperhatikan oleh Allah. Apa itu ikhlas? 


Manakala gerak dan diamnya, ketika dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan selalu diniatkan karena Allah, tidak bercampur dengan nafsu, kesenangan, maupun keduniaan. Sudahkah kita ikhlas dalam berdoa? 


Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa berapa banyak orang yang berdoa tetapi tidak dikabulkan. Karena Allah tidak menerima kecuali doa yang ikhlas. Allah tidaklah mendengarkan doa seseorang yang berdoa karena riya’, sum’ah, dan main-main. 


Ikhlas merupakan hal yang paling utama diperhatikan pada sebuah amalan. Ikhlas berarti memurnikan ketaatan hanya kepada Allah semata. Salah satu dari dua syarat diterimanya amal adalah ikhlas kepada Allah, sehingga yang diinginkan semata-mata hanya ridha Allah. Ikhlas adalah rahasia antara Allah dan hamba-Nya, yang tidak diketahui oleh malaikat sehingga mencatatnya, tidak diketahui oleh setan sehingga bisa merusaknya, dan tidak diketahui oleh hawa nafsu sehingga memalingkannya.  


4. Mensucikan Allah dan mengakui kealpaan diri


Dalam Quran Surah Al-Anbiya ayat 87, Nabi Yunus berdoa Laa ilaaha illa anta, subhanaka innii kuntu minadz dzalimiin. Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzalim. 


Doa tersebut memuat tiga unsur penting yakni tauhid, pengakuan bahwa tidak ada ilah selain Allah, mensucikan Allah, dan pengakuan yang tulus bahwa ia telah berbuat dzalim. 


Kemudian dilanjutkan ayat berikutnya: “Dan demikianlah Kami menyelamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiya []: 88). Ayat ini menegaskan bahwa hal tersebut tidak hanya berlaku bagi Nabi Yunus, melainkan berlaku bagi semua orang yang beriman. 


5. Menghindari segala yang haram


Rasulullah Saw. menyebutkan seorang laki-laki yang sedang menempuh safar (perjalanan jauh), dalam keadaan lusuh dan berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dagingnya tumbuh dari yang haram. Maka bagaimana doanya akan dikabulkan?” (HR Muslim)


Sa’ad Ibn Abi Waqqash berkata kepada Nabi: “Wahai Rasulullah, doakan aku agar doa-doaku dikabulkan oleh Allah.” Maka Rasulullah berkata kepadanya, “Perbaikilah makananmu, maka doamu akan dikabulkan.” Yang dimaksud perbaikilah makananmu di sini adalah jauhilah perkara (makanan dan penghasilan) yang haram. 


6. Jangan pernah berhenti berdoa


Allah Swt. berfirman dalam Surah Yusuf ayat 87 sebagai berikut: “Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidaklah berputus asa dari rahmat Allah kecuali orang-orang kafir.” 


Ketika kita berdoa, tidak diperbolehkan tergesa-gesa yaitu mengatakan bahwa ia telah berdoa dan tidak kunjung dikabulkan sehingga ia bosan dan tidak mau lagi berdoa. Seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya bahwa barangkali doa-doa kita tidaklah dikabulkan persis seperti yang kita minta, tetapi Allah menggantinya dengan sesuatu yang lain. 


Selayaknya manusia lemah tiada daya hendak memohon sesuatu, maka ia pun harus memperhatikan adab-adabnya. Ucapkan tahmid, berdoalah dengan memuji Allah terlebih dahulu. Bukankah ketika kita meminta suatu keperluan kepada manusia lainnya pun harus dengan sopan santun? Tidak serta merta dan menggunakan bahasa perintah? Apalagi jika kita meminta pada Allah. Sudah seharusnya kita perhatikan adab dalam berdoa. 


Allah Swt., berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (QS Al-A’raf: 55-56). 


Digubah dari buku karya Prof Dadang Kahmad berjudul, Musibah Pasti Berlalu (Quanta, 2014).