Teladan Kejujuran Nabi Muhammad dalam Berdagang

Notification

×

Iklan

Iklan

Teladan Kejujuran Nabi Muhammad dalam Berdagang

Jumat, 14 Oktober 2022 | 13:28 WIB Last Updated 2022-10-14T06:33:37Z


Oleh: Ust. Robby Karman


Banyak umat Islam yang belum menyadari, bahwa kehidupan Nabi Muhammad SAW lebih banyak dihabiskan untuk berdagang dibandingkan dengan menjadi Nabi dan Rasul. 


Nabi Muhammad mulai berdagang pada usia 12 tahun dan pensiun pada usia 40 tahun. Beliau menjadi Rasul pada usia 40 tahun dan meninggal pada usia 63 tahun. 


Artinya Nabi Muhammad berdagang selama 28 tahun dan menjadi Nabi dan Rasul selama 23 tahun. Karir dagang Nabi Muhammad SAW dimulai dari magang bersama pamannya Abu Thalib. 


Di sana beliau pergi ke Syam bertemu dengan berbagai macam karakter masyarakat. Nabi Muhammad kemudian dipercaya oleh Khadijah untuk berjualan barang dagangannya. 


Karakter Nabi Muhammad SAW yang jujur membuatnya sukses dalam berdagang dan membuat Khadijah jatuh hati. Pada usia 25 tahun, mereka berdua menikah dan membangun rumah tangga.


Kejujuran Nabi Muhammad dalam berdagang membuatnya dijuluki sebagai Al Amin yang artinya dapat dipercaya. Sebelum Nabi Muhammad diangkat menjadi Nabi, beliau merupakan sosok yang dicintai oleh masyarakat Quraisy karena sifat amanahnya. 


Nabi Muhammad juga berhasil menengahi konflik yang terjadi antara klan Quraisy saat selesainya renovasi ka’bah dan ingin mengembalikan hajar aswad ke tempatnya.


Kejujuran Nabi Muhammad SAW dalam berdagang dibuktikan dengan perilaku beliau yang tidak pernah menipu baik pembeli maupun majikannya. Nabi juga tidak pernah mengurangi timbangan atau pun takaran. 


Beliau tidak pernah memberikan janji-janji yang berlebihan, apalagi bersumpah palsu. Semua transaksi dilakukan atas dasar sukarela, diiringi dengan ijab kabul.


Pernah suatu ketika Nabi Muhammad berselisih paham dengan salah seorang pembeli. Saat itu Muhammad menjual dagangan di Syam, ia bersitegang dengan salah satu pembelinya  terkait kondisi  barang yang  dipilih oleh pembeli tersebut. 


Calon pembeli berkata kepada Nabi, “Bersumpahlah demi Lata dan Uzza!” Nabi menjawab, “Aku tidak pernah bersumpah atas nama  Lata dan Uzza  sebelumnya.”


Kejujuran Rasulullah kala itu cukup sebagai prinsip kuat yang dipegang secara mandiri tanpa melibatkan Tuhan sekali pun. Karena baginya, orang akan melihat dan merasakan sendiri terhadap kejujuran yang dipegangnya selama berdagang.


Sifat jujurnya juga membuat dirinya tidak takut rugi atau dagangannya tidak laku. Saat berdagang, Nabi Muhammad SAW tidak segan-segan memberitahu harga modal barang yang dia jual. 


Setelah itu dia mempersilahkan kepada pembeli ingin menambah margin berapa untuk keuntungan Nabi Muhammad. Perilaku ini membuat konsumen senang untuk membeli barang dari Nabi Muhammad.


Kendati beliau sudah menjadi Nabi yang membuat kaum Kafir Quraisy memusuhinya, namun beliau masih bermuamalah dengan mereka. Saat akan hijrah ke Madinah, Nabi Muhammad SAW meminta Ali bin Abi Thalib untuk mengembalikan barang-barang titipan kepada kafir Quraisy. 


Hal ini membuktikan bahwa kaum Kafir Quraisy masih menganggap Nabi Muhammad sebagai Al Amin walau memusuhi dakwahnya.


Keteladanan Nabi Muhammad SAW dalam berdagang mestinya bisa ditiru oleh umatnya. Nabi Muhammad adalah teladan dalam keseluruhan hidup kita, tidak hanya soal ibadah ritual, namun juga interaksi sosial. 


Jika sudah ditiru secara konsisten oleh umatnya, maka umat Islam akan menjadi khairu ummah atau umat terbaik yang berada di depan umat-umat lainnya.