4 Metode Dakwah Muhammadiyah dalam Menjangkau Dunia Internasional

Notification

×

Iklan

Iklan

4 Metode Dakwah Muhammadiyah dalam Menjangkau Dunia Internasional

Selasa, 06 Desember 2022 | 09:51 WIB Last Updated 2022-12-06T02:51:57Z


YOGYAKARTA
– Berdiri sejak tahun 1912, kini kiprah dakwah Muhammadiyah telah berusia satu abad lebih, tepatnya 110 tahun pada November 2022. Tidak hanya usianya yang tua tetapi dakwahnya pun telah menyebar luas ke pelosok Indonesia hingga menjangkau internasional melalui Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah di 23 negara.


Kiprah tersebut tidak lepas dari metode dakwah yang digunakan Muhammadiyah sejak awal berdiri sampai saat ini dalam rangka mendidik dan mencerahkan kehidupan. Muhammad Afnan Hadikusumo menyebut dalam rangka menyebarkan dakwahnya ada empat metode yang dipakai Muhammadiyah.


Pertama dakwah bil lisan.


Dakwah yang dilakukan Muhammadiyah antara lain melalui ceramah-ceramah, khutbah, diskusi, seminar dan nasihat-nasihat. 


Kedua dakwah bil-hal.


Secara praksis yaitu metode dakwah melalui perbuatan langsung. Dalam dakwah bil-hal menurut Afnan, Muhammadiyah mempelopori adanya kepanitiaan pengelolaan zakat, infaq, shodaqah termasuk qurban untuk diperuntukan kepada para anak yatim, fakir miskin di Yogyakarta diawal berdirinya Muhammadiyah. Metode ini sekaigus implementasi dakwah Muhammadiyah dalam menjalankan perintah al-qur’an dalam surat al-ma’un.


Melalui surat al-maun, Muhammadiyah tidak hanya memaknainya tetapi mempraktikkan menjadi dakwah bil-hal yaitu menyantuni anak yatim, fakir miskin higga berdirinya penolong kesengsaraan omom (sekarang, PKU) dan pelayanan sosial berupa panti asuhan.


Praktik dakwah ini begitu kuat dan mengakar karena dicontohkan langsung oleh Kiai Dahlan bersama muridnya diawal dakwah Muhammadiyah hadir menyantuni dan memberi makan fakir miskin dan gelandangan serta mendidik anak yatim di sekitaran Kauman, Yogyakarta.


“Sehingga sejak dulu Muhammadiyah sebagaimana dicontohkan Kiai Dahlan ketika berdakwah selalu memberi tauladan seperti mendirikan penolong kesengseaan oemom atau PKO (kini, rumah sakit), pembagian zakat shodaqah dan qurban melalui panitia,” sebut Afnan yang juga cucu dari Ki Bagus Hadikusumo.


Ketiga dakwah bi-tadwin.


Metode dakwah yang dilakukan melalui tulisan. Para tokoh awal Muhammadiyah hingga ini menggunakan metode tulisan untuk menyampaikan penjelasan mengenai seruan yang hendak dismapaikan seluas-luasnya kepada warga, anggota, pimpinan Muhamadiyah dan masyarakat.


Keberadaan tradisi tulisan atau dokumentasi sampai saat ini masih bermanfaat kata Afnan, misalnya hadirnya Majalah Suara Muhammadiyah mensyiarkan mengenai puasa ada dokumentasinya di Perpustaan Leiden, Belanda dan buku-buku Kepanduan yang menjadi cikal bakal dokumentasi latihan Hizbul Wathan pada tahun 1914.


Keempat dakwah bil-hikmah.


Yaitu menyampaikan seruan secara arif dan bijaksana. Jadi kalau ingin mengingatkan Muhammadiyah cenderung menyampaikan dengan arif dan bijaksana. Bahkan, mengingatkan dengan cara ini telah menjadi tradisi di Muhammadiyah bagaimana menggunakan surat keroganisasiannya sebagai sebuah saran, krititik dan mengingatkan.


“Kadang kala muhammadiyah tidak menyampaikan kerja nyatanya di media masa atau media sosial tetapi dengan surat menyurat sudah menjadi tradisi Muhammadiyah sejak dulu, supaya diingatkan itu tidak merasa malu dan sakit hati,” jelas Afnan.