6 Hal Berikut Membatalkan Wudhu Kamu, Lho!

Notification

×

Iklan

Iklan

6 Hal Berikut Membatalkan Wudhu Kamu, Lho!

Minggu, 04 Desember 2022 | 09:41 WIB Last Updated 2022-12-04T02:41:19Z


JAKARTA
— Dalam fikih, seseorang yang tidak dalam keadaan berwudu atau batal wudunya disebut dengan hadas. Ketika seseorang dalam keadaan hadas, maka orang tersebut terhalang untuk melakukan salat atau tawaf hingga menyucikannya dengan wudhu. 


Berikut beberapa hal yang dapat membatalkan wudhu.


1. Buang air kecil atau air besar


“Apabila salah seorang dari kamu telah buang air kecil atau besar…”. (QS. Al-Maidah: 6).


2. Mengeluarkan wadi


Wadi adalah cairan berwarna putih dan kental, biasanya keluar setelah buang air kecil. Mengeluarkan wadi termasuk hadas kecil yang cara bersucinya dengan wudu berdasarkan hadis Aisyah RA, dia berkata: “Sedangkan wadi adalah cairan yang keluar setelah kencing yang seseorang harus mencuci kemaluannya dan berwudhu› tanpa harus mandi”.


3. Mengeluarkan madzi


Madzi adalah cairan bening, halus dan lengket yang keluar ketika adanya dorongan syahwat, seperti bercumbu, mengingat jima’ (persetubuhan) atau menginginkannya. Mengeluarkan madzi juga termasuk hadas kecil dan cukup berwudu, berdasarkan hadis Ali RA:


“Aku adalah seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi. Terkait hal itu, aku menyuruh seseorang untuk bertanya kepada Nabi SAW., mengingat kedudukan puterinya sebagai isteriku. Setelah orang itu bertanya, Nabi SAW. menjawab: Wudhulah dan cucilah kemaluanmu”. (H.R. Bukhari dan lainnya).


4. Mengeluarkan kentut


Berdasarkan hadis Abu Hurairah RA: ”Rasulullah SAW bersabda: Tidak akan diterima salatnya orang yang berhadas sampai ia berwudu. Kemudian seorang laki-laki dari Hadramaut bertanya: Apakah hadas itu ya Abu Hurairah? Abu Huraerah menjawab: Hadas itu kentut yang tidak bersuara atau kentut yang bersuara”. (HR. Al-Bukhari dan Ahmad).


5. Menyentuh kemaluan dengan sengaja


Berdasarkan hadis Busrah binti Safwan RA: “Rasulullah SAW bersabda: barangsiapa yang menyentuh kemaluannya maka hendaklah ia berwudhu”. (HR. Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmiidzi, an-Nasa`i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan at-Tirmidzi berkata: Hasan sahih).


6. Tidur nyenyak dengan berbaring


Tidur nyenyak berbaring, sehingga tidak merasakan datangnya hal yang membatalkan, seperti kentut, memegang kemaluan atau lainnya, membatalkan wudhu. 


Berdasarkan hadis dari Ibnu Abbas RA: “Dari Ibnu Abbas bahwa ia melihat Nabi SAW tidur dalam posisi sujud sampai ia mendengkur, kemudian ia berdiri untuk salat. Lalu saya bertanya kepada Rasulullah SAW: Wahai Rasulullah sesungguhnya engkau telah tertidur. Maka beliau bersabda: Sesungguhnya wudu itu wajib (batal) melainkan bagi orang yang tidur berbaring, karena jika berbaring maka lemaslah sendi-sendinya”. (H.R. AtTirmidzi dan Ahmad). ***