Makna Musibah di Balik Bencana

Notification

×

Iklan

Iklan

Makna Musibah di Balik Bencana

Rabu, 21 Desember 2022 | 10:54 WIB Last Updated 2022-12-21T03:54:58Z


Oleh: Prof KH Dadang Kahmad,
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


BANDUNG — Pada 21 November 2022 yang lalu telah terjadi lagi musibah gempa bumi di Cianjur, Jawa Barat. 


Musibah ini memakan korban lebih dari 300 orang tewas, ribuan korban luka-luka, lebih dari 60.000 orang mengungsi, dan ribuan bangunan rumah maupun fasilitas umum hancur atau tertimbun longsor.


Kesedihan dan kesengsaraan korban merupakan fenomena yang menggugah rasa hati untuk ikut simpati dan empati atas kejadian tersebut.


Ketetapan Allah


Banyak orang yang mengaitkan musibah dengan berbagai macam penyebab, baik teologis maupun mitos. 


Ada yang menyebut sebagai siksaan atas kedurhakaan masyarakat. Ada yang menyebut ujian atas kesabaran dan keimanan masyarakat. Ada juga yang mengaitkan dengan mitologi makhluk raksasa yang sedang bosan memikul bumi.


Baiknya sebagai kaum muslimin mencoba mengaitkan dengan sumber informasi dari Allah dalam kitab suci Al-Quran. Allah SWT dalam Al-Quran surah At-Taubah ayat 51 menyatakan:


“Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah untuk kami. Dialah pelindung kami dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.’”


Yang dimaksud ketetapan Allah adalah hukum-hukum Allah yang ditetapkan kepada alam semesta. Di bagian dunia ini banyak daerah yang rawan musibah seperti gempa bumi, gunung meletus, ataupun angin kencang.


Daerah rawan gempa bumi seperti daerah yang terletak pada pertemuan lempengan antar bagian dari bumi yang kodratnya selalu bergeser akan mengakibatkan goncangan gempa, baik kecil maupun besar.


Termasuk di dalamnya sesar patahan seperti gempa bumi di Cianjur yang merupakan gempa yang diakibatkan patahan Cimandiri bergeser dengan magnitudo 5,6 dengan kedalaman 10 kilometer sehingga membawa daya rusak yang hebat.


Belajar kepada Jepang


Menyadari kondisi tersebut, manusia diperintahkan untuk berikhtiar dan menjauhi tempat yang diduga sebagai daerah rawan gempa. Kalau tidak memungkinkan untuk pindah dan terus menetap di daerah tersebut harus diedukasi supaya bisa menyelamatkan diri jika tiba-tiba ada gempa.


Sebagaimana halnya di Jepang, mereka sangat menyadari bahwa kepulauan Jepang letak geografisnya berada di area “Cincin Api Pacific”. Wilayah ini dilalui oleh lempengan api di bawah permukaan bumi sehingga Jepang termasuk daerah rawan terjadinya gempa bumi.


Pemerintah Jepang mengadakan pendidikan kepada penduduk untuk selalu bersiap kemungkinan terjadinya gempa bumi. Diajarkan tindakan cara penyelamatan diri termasuk dibuat cara membuat bangunan yang tahan gempa sehingga jika terjadi gempa korbannya sangat minimal.


Respons cepat Muhammadiyah


Menyikapi peristiwa bencana alam di Cianjur, Muhammadiyah kembali hadir merespons secara cepat, beberapa jam setelah kejadian. 


Aksi tanggap darurat diwujudkan dengan pengiriman tenaga relawan yang tergabung dalam Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) dan pengiriman logistik bantuan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (LAZISMU).


Per 27 November telah mengadakan layanan kesehatan untuk 1.259 jiwa, layanan dapur umum 14.346 jiwa, distribusi logistik kepada 2.530 jiwa, mendirikan posyan dan hunian darurat untuk 50 jiwa di Desa Ciputri, Kecamatan Pacet. Melakukan giat SAR bagi korban yang tertimbun longsor.***