Pendapat Muhammadiyah tentang Hukum Perjudian di Piala Dunia

Notification

×

Iklan

Iklan

Pendapat Muhammadiyah tentang Hukum Perjudian di Piala Dunia

Senin, 12 Desember 2022 | 08:36 WIB Last Updated 2022-12-12T01:36:54Z


YOGYAKARTA
— Piala Dunia adalah pertandingan sepak bola internasional yang diadakan setiap empat tahun sekali. Ini adalah salah satu acara olahraga terbesar di dunia dan menarik perhatian jutaan orang di seluruh dunia. 


Karena acara ini begitu populer, seringkali terjadi maraknya perjudian yang terkait dengan Piala Dunia.


Perjudian pada Piala Dunia bisa terjadi dalam berbagai bentuk, termasuk taruhan pada hasil pertandingan, taruhan pada skor pertandingan, dan taruhan pada siapa yang akan menjadi pemain terbaik dalam pertandingan. 


Karena Piala Dunia merupakan acara yang sangat penting bagi banyak orang, taruhan yang terkait dengan acara ini bisa sangat menguntungkan bagi para pemain judi.


Namun, perjudian juga bisa menjadi masalah serius. Banyak orang yang kecanduan judi dan mengalami kerugian finansial yang besar karena terlibat dalam perjudian yang terkait dengan Piala Dunia. 


Selain itu, perjudian juga bisa menimbulkan masalah etika dan moral, karena banyak orang yang merasa bahwa perjudian tidak sesuai dengan nilai-nilai olahraga yang sehat. Oleh karena itu, penting bagi setiap orang untuk memahami risiko yang terkait dengan perjudian pada Piala Dunia.


“Islam sangat melarang perjudian dalam berbagai bentuk, karena hal ini dapat merugikan siapa pun dan sama sekali tidak mendatangkan kemaslahatan,” ucap Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Qaem Aulassyahied.


Dalam Al Quran disebutkan: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al Maidah: 90).


Oleh karena itu, hukum judi dalam Islam adalah haram. Orang-orang yang terlibat dalam perjudian dianggap telah melakukan dosa, dan diharapkan untuk menyesal dan memohon ampun kepada Allah. Namun, jika seseorang telah bertobat dan bersungguh-sungguh ingin berubah, maka Allah akan menerima tobatnya dan memaafkannya.***