5 Peran Muhammadiyah Cabang Luar Negeri Menurut PP Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

5 Peran Muhammadiyah Cabang Luar Negeri Menurut PP Muhammadiyah

Rabu, 11 Januari 2023 | 15:05 WIB Last Updated 2023-01-11T08:05:07Z


SUDAN
— Dalam pandangan Ketua PP Muhammadiyah, Agung Danarto Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) memiliki lima peran yang diharapkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah.


Lima peran tersebut disampaikan oleh Ketua PP Muhammadiyah yang membidangi kaderisasi, ideologi dan AMM ini pada, Selasa (10/1/2023) di acara silaturahmi PP Muhammadiyah dan PCIM Sudan yang digelar secara online.


Peran pertama menurutnya adalah sebagai wadah yang menghimpun kader Persyarikatan Muhammadiyah yang berdiaspora di berbagai negara. para kader yang berdiaspora ke berbagai negara dengan berbagai latar belakang perlu tempat untuk berhimpun.


“Supaya berbagai macam kesulitan, berbagai macam hal yang tidak mengenakkan itu bisa dieliminir, termasuk kekangenan dengan tanah air, keluarga dan lain sebagainya.” Ucapnya.


Kedua, menjadi tempat berhimpunnya kader Muhammadiyah di luar negeri agar tetap menjadi Muhammadiyah. Menurut Agung, jika individu berada di luar komunitas, kemungkinan besar dirinya akan tereliminasi. Maka keberadaan PCIM juga untuk menciptakan komunitas baru dalam bermuhammadiyah.


“Sehingga walaupun di luar negeri diharapkan tetap sebagai Muhammadiyah, tetap sebagai orang Muhammadiyah yang melaksanakan berbagai macam agama dan kehidupan keseharian sebagaimana dituntunkan oleh Persyarikatan Muhammadiyah,” imbuhnya.


Ketiga, peran PCIM untuk kaderisasi lebih-lebih bagi kader yang berada di luar negeri dengan tujuan untuk menuntut ilmu. PCIM juga sebagai wadah untuk melahirkan kader persyarikatan yang militant, sehingga sekembalinya ke tanah air bisa langsung aktif dan mengembangkan Muhammadiyah.


Keempat, keberadaan PCIM juga sebagai rekrutmen bagi individu yang tertarik dengan gerakan Muhammadiyah. Sebab di banyak kasus, orang-orang Indonesia justru lebih mengenal Muhammadiyah ketika mereka sedang berdiaspora di luar negeri setelah mengetahui ada perkumpulan PCIM.


“Ketika di Indonesia dia tahu dan mengenal Muhammadiyah, tetapi tidak pernah aktif. Kemudian ketika di luar negeri, di PCIM mereka gabung, kemudian aktif, kemudian juga menjadi kader, dan pulang ke tanah air menjadi pimpinan Muhammadiyah,” tutur Agung.


Kepada PCIM Sudan Agung berpesan untuk melakukan rekrutmen sebanyak-banyaknya diaspora Indonesia di Sudan. Mereka-mereka yang awalnya berangkat dari Indonesia dengan latar belakang dari sekolah umum atau pesantren umum, biasanya akan tertarik dengan Muhammadiyah.


“Bahkan Warga Negara Asing (WNA) jika ingin bergabung dengan PCIM itu saya kira hal yang sangat positif, suatu hal yang sangat bagus sekali. Ke depannya bisa memperkuat, bisa memperkokoh internasionalisasi Muhammadiyah.” Sambung Agung.


Agung menjelaskan, jika merujuk ke ART Muhammadiyah yang dikehendaki menjadi Warga Persyarikatan Muhammadiyah adalah WNI, tetapi ke depan untuk menunjang gerakan internasionalisasi Muhammadiyah, WNA juga bisa diakomodir.


Kelima, PCIM juga diharapkan perannya sebagai duta Muhammadiyah di luar negeri. Sebagai organisasi Islam di dunia yang tidak ada duanya, Muhammadiyah menurut Agung mengutip Robert W. Hefner memiliki daya tarik luar biasa bagi dunia internasional.***