Meremajakan Pimpinan Muhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Meremajakan Pimpinan Muhammadiyah

Selasa, 17 Januari 2023 | 09:09 WIB Last Updated 2023-01-17T02:09:59Z


Oleh: Amalia Irfani,
Mahasiswa Doktoral Sosiologi UMM


Tulisan singkat ini adalah analisa penulis setelah melihat, membaca dan mencermati geliat persyarikatan Muhammadiyah yang memang membutuhkan suntikan semangat baru dari kader mudanya. 


Persoalan regenerasi bukanlah persoalan baru, bukan pula tidak menjadi perhatian segenap pimpinan pusat dan wilayah, tetapi memang sepertinya agak susah mencari kader muda yang bisa terus bertahan dengan deru ombak tak pasti, sedangkan yang sepuh lebih memahami medan, dengan emosi terjaga.


Dalam buku "Meremajakan Pimpinan Muhammadiyah" terbitan Suara Muhammadiyah dan Lembaga Informasi PP Muhammadiyah yang dihimpun oleh Imron Nasri, dan terbit tahun 2010, mengulas rekam jejak pemikiran tokoh dan pimpinan Muhammadiyah yang sudah sejak lama berpikir keras agar eksistensi kader dan masa depan Muhammadiyah terjaga dan terjadi berkesinambungan dengan harmonis.


AR Fachrudin (Pak AR), menawarkan gagasan agar pimpinan Muhammadiyah diserahkan kepada kaum muda, dengan kisaran usia 40-55 tahun. Usia tersebut jika dikaji memang usia emas manusia untuk lebih memahami kondisi dan akan jauh lebih tangguh dalam berjuang sebab telah ada pengalaman sebagai pijakan bergerak. Di rentang usia 40-55 tahun biasanya manusia akan lebih bijak. 


QS Al Ahqaf ayat 15, menerangkan pada usia 40 tahun diterangkan, manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi maupun spiritualnya. Kita pun sering mendengar life begins at 40 ini sejatinya diucapkan sebagai semangat kepada siapa saja yang sudah memasuki usia "kepala 4". 


Walaupun demikian bukan berarti usia terbaik hanya dimiliki oleh individu berusia 40 tahun, sebab di zaman Rasulullah, banyak sahabat penghafal Alquran, pemimpin perang diusia relatif muda, 18 tahun-30 tahun. 


Ini menandakan bahwa usia tidak menjadi patokan utama, yang muda belum tentu tidak bisa berkarya dan yang tua belum tentu pula bisa mengemban amanah jika kematangan fisik menjadi kategori penilaian. 


Kerja Ikhlas dalam Muhammadiyah


Membicarakan pemimpin ideal memang bukan perkara sepele dan mudah untuk dicari indikator yang baik. Indikator yang baik hanya ada pada  Rasulullah SAW, pemimpin umat dan masyarakat. Kita mungkin hanya bisa mengikuti dan mencontoh beberapanya saja. Memimpin hakikatnya berbakti atau mengabdikan diri. 


Memimpin menurut MH. Mawardi, Mantan Rektor UM Yogyakarta,  bermakna bertekad menyerahkan hidupnya atau sebagian dari hidupnya untuk kepentingan yang dipimpin. Tanpa mengharapkan pujian, dan  imbalan. Kerja berat, harus ikhlash namun akan dibalas dengan banyak kebaikan dan kemuliaan oleh Allah.


“Hidup-hidupilah Muhammadiyah tetapi jangan cari penghidupan di Muhammadiyah”, merupakan kalimat warisan Kiai Ahmad Dahlan yang menggambarkan seperti itulah yang harus dilakukan oleh para kader untuk menjaga Muhammadiyah. Ikhlash tanpa embel-embel kepentingan, kalau pun ada kepentingan, tidak melenceng dari manhaj dan khittah ber-Muhammadiyah.


Menjaga Generasi Tangguh


Masa depan ditentukan dengan apa yang kita lakukan sekarang (tomorrow is today). Menjaga generasi tangguh akan selalu menjadi pekerjaan rumah yang tidak kunjung selesai. 


Perubahan sosial, semakin canggih teknologi, mudah dan murah informasi didapat akan menyebabkan pergeseran-pergeseran nilai di masyarakat, termasuk didalamnya nilai beragama. 


Maheswari dalam bukunya The Concept  Of Social Change (2016), berujar, perubahan sosial di masyarakat terjadi karena modifikasi dalam pola hidup manusia. Ini menandakan bahwa perubahan sosial tidak dapat dihindari, salah satunya terjadi pertukaran budaya yang memaksa adanya kesamaan (convergence), misalnya kesamaan berpakaian, hobi atau makanan. Jika ini tidak dapat terkontrol maka akan menyebabkan degradasi moral generasi yang akhirnya menjadi identitas diri. 


Maka, penting dijadikan sebuah tujuan (istiqamah) untuk menjaga generasi bangsa agar tidak melenceng dari alur beragama yang sesungguhnya. Pemahaman dan pengalaman agama yang baik harus sejak dini ditanamkan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Orang tua pun wajib hukumnya untuk mengedukasi diri agar dapat terus “melek” informasi. 


Hal ini oleh Persyarikatan Muhammadiyah sudah sejak lama dijadikan sebuah dakwah jamaah. Secara formal anak dicerdaskan melalui pendidikan di sekolah, sedangkan orang tua melalui kajian rutin (pengajian) yang diadakan oleh Pimpinan Wilayah, Pimpinan Kota, Pimpinan Cabang dan Ranting. 


Hanya saja memang harus masih terus ditingkatkan, dijadikan kebiasaan dan akhirnya menjadi kebutuhan dalam kehidupan sosial beragama.***