Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah, Kaderisasi Keulamaan Berkemajuan!

Notification

×

Iklan

Iklan

Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah, Kaderisasi Keulamaan Berkemajuan!

Jumat, 06 Januari 2023 | 13:57 WIB Last Updated 2023-01-06T07:59:11Z


YOGYAKARTA
— Terkait dengan kelangkaan ulama di Muhammadiyah, sebenarnya telah ditanggulangi dengan adanya Pendidikan Ulama Tarjih Muhammadiyah (PUTM). 


Namun demikian, PUTM masih perlu untuk dikembangkan hingga menyamai Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (PTMA) yang lain.


Rencana pengembangan kaderisasi ulama Muhammadiyah tersebut diketahui setelah Sekretaris Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhammad Sayuti mengungkapkannya pada, Kamis (5/1/2023) di acara Launching dan Bedah Buku Muhammadiyah “Wawasan dan Komitmen” yang diadakan Suara Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD).


Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah periode 2015-2022 ini menjelaskan, selain memberikan fasilitas fisik dan manajemen pendidikan yang memadai bagi kaderisasi ulama Muhammadiyah, menurut Sayuti yang tidak kalah penting adalah adanya lingkungan yang kondusif untuk mendukung lahirnya ulama Muhammadiyah.


Hemat Sayuti, kaderisasi adalah pelibatan dalam banyak kegiatan Persyarikatan Muhammadiyah sebagai wadah untuk memunculkan kader-kader. Lebih teknis Sayuti menyebut, kepanitian event Muhammadiyah menjadi jalan yang nyata untuk kemunculan kader, lebih-lebih untuk jenjang perkaderan di Organisasi Otonom (Ortom).


“Dan itu tes bagi kader itu adalah di kepanitiaan itu. Jadi saya setuju dalam konteks, di mana perlu dimunculkan (kader),” ungkapnya.


Untuk menyeimbangkan daya kritis kader yang aktif di Ortom, katanya, kader perlu diberi proyek real seperti penyantunan kaum dhuafa’-mustadh’afin. Dengan demikian diharapkan, ketika sudah beranjak pada jenjang selanjutnya, kader tersebut tidak hanya berhenti pada daya kritisisme, tetapi juga harus memiliki aksi nyata.


Kembali Sayuti menegaskan, bahwa kaderisasi ulama bukan hanya melalui gedung-gedung yang besar dan megah, tetapi juga lingkungan yang mendukung kaderisasi ulama Muhammadiyah tersebut. Hal itu diharapkan ulama Muhammadiyah memiliki sensitivitas dengan problematika real yang dihadapi masyarakat.


“Tetapi bagaimana dibangun environment agar wacana, agar ulama kita itu kenyang dengan perdebatan-perdebatan di masyarakat.” Ungkap Sayuti.


Sebagai ulama Muhammadiyah tidak boleh berjarak dengan masyarakat, mengurus administrasi memang diperlukan akan tetapi ulama Muhammadiyah juga harus terjun dan berbaur dengan masyarakat. 


Artinya ulama Muhammadiyah harus memiliki dua kompetensi sekaligus, yaitu manajerial organisasi dan metode pendekatan dengan seluruh lapisan masyarakat.***