Sejarah Dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Utara

Notification

×

Iklan

Iklan

Sejarah Dakwah Muhammadiyah di Sulawesi Utara

Selasa, 17 Januari 2023 | 18:34 WIB Last Updated 2023-01-17T11:34:09Z


JAKARTA
– Berdirinya Persyarikatan Muhammadiyah pada 1912 disambut gembira oleh kaum muslimin yang sepaham dengan misi tajdid. Tidak lama setelah berdiri di Kauman, Yogyakarta, Muhammadiyah mulai terbesar luas tidak hanya di pulau Jawa saja.


Pada awal 1920-an, para pegiat Muhammadiyah sudah tiba di pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua (1926) untuk merintis Cabang Resmi. Di Sumatera, Cabang Resmi Muhammadiyah pertama di luar pulau Jawa berhasil berdiri pada 1925.


Semangat berdakwah sebagai jihad fi sabilillah terus dibawa oleh para anggota Muhammadiyah. Di kawasan paling utara Indonesia yang berbatasan dengan Filipina, yakni Kepulauan Talaud, Muhammadiyah telah menjejakkan kaki pada tahun 1928. Kala itu, masyarakat setempat menjuluki mereka sebagai Muhammadiyah Tersiar.


Bagaimana Muhammadiyah tiba di Sulawesi Utara?


Status sebagai organisasi non politik menguntungkan posisi Muhammadiyah untuk leluasa bergerak. Di samping pada 1920-an, pengaruh Sarikat Islam dan PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia) yang saat itu populer semakin redup akibat aktivitas politiknya yang dianggap mengganggu pemerintah kolonial.


Ibrahim Polontalo dalam karyanya berjudul Muhammadiyah di Sulawesi Utara 1928-1990 (1995) mencatat bahwa Muhammadiyah masuk ke Sulawesi Utara melalui beberapa jalur, misalnya: putra daerah yang pulang kampung setelah belajar di Yogyakarta dan datangnya guru-guru Muhammadiyah.


Selain itu, tersiarnya kabar Muhammadiyah ke Sulawesi Utara ditengarai akibat surat kabar dan majalah dari Jawa yang didatangkan dari pelabuhan-pelabuhan Laut Donggala, Poso, Luwuk, Gorontalo, Kwandang, dan Manado.


Selain menjangkau daerah padat penduduk seperti Manado, pada masa itu Muhammadiyah juga sampai di daerah terluar di kawasan paling utara Manado dan Indonesia, yakni di Talaud dan Kepulauan Sangihe. Muhammadiyah di sana memiliki nama baru: Muhammadiyah Tersiar.


Bambang Suwondo dalam Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Sulawesi Utara (1978) menulis bahwa pengertian Muhammadiyah Tersiar adalah di mana saja anggota Muhammadiyah itu berada, mereka memiliki kewajiban untuk menyebarluaskan maksud-maksud organisasi. Sehingga meski kantor dan kepengurusan ada di Manado, mereka tetap wajib mendakwahkan Muhammadiyah di manapun berada.


Diaspora Kader Merupakan Misi Pimpinan Pusat Muhammadiyah


Tersebarnya misi Muhammadiyah sampai wilayah terjauh menurut catatan Bambang Suwondo merupakan misi integral dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang kala itu bernama Pengurus Besar (hoofdbestuur).


Terbukti, tahun 1930 pengurus pertama di Sulawesi Utara diserahkan kepada Ibrahim Katjou yang memimpin sampai 1932 dan digantikan oleh Tom Oli’i. Misi yang diserahkan oleh PB Muhammadiyah antara lain adalah memperjuangkan revolusi dalam agama di mana apa yang boleh dan tidak boleh harus sesuai dengan Alquran dan Hadis.


Tahun 1934, kepengurusan baru terbentuk dengan Ketua Jusuf Harisah, Wakil Ketua Hadji Salim Dunggio dan sekretaris ialah Raden Van Gobel, dibantu Abdurrahcamn Wakid dengan anggota waktu itu berjumlah 17 orang.


Di Manado dan luar Manado, kepemimpinan Muhammadiyah juga tersebar luas menurut catatan Bambang Suwondo. Misalkan Aldjazi Poli di Sario, Abdullah Saro dan Hadji Bakkari Darise di Kampung Islam, Abdullah Lahilote di Kampung Arab, Abdurrachman Latada di Komo Luar, Ibarahim Pakaja dan Jabela Talib di Komo Dalam dan Nusi Tutju di Kampung Ketang.


Tidak Mudah Menjadi Anggota Muhammadiyah


Lebih lanjut, Bambang Suwondo menulis bahwa untuk memperoleh keanggotaan Muhammadiyah, mereka yang berminat bergabung dengan Persyarikatan diberi masa percobaan satu tahun. Jika lulus, maka mereka akan didaftarkan sebagai anggota penuh Muhammadiyah.


Syarat ini nampaknya sebagai strategi sekaligus seleksi agar Muhammadiyah dapat tersebar lebih luas. Aktivisme para anggota untuk menyiarkan Muhammadiyah nampaknya menjadi pertimbangan tersendiri.


Setelah Muhammadiyah berdiri di sana, Muhammadiyah juga mendirikan Kepanduan Hizbul Wathan yang kelak bubar saat Jepang masuk ke Indonesia. Selain itu juga didirikan sekolah dan madrasah Muhammadiyah.


Tahun 1934, Muhammadiyah Manado mendirikan madrasah diniyah di kampung Arab dengan menyewa rumah milik warga Tionghoa yaitu Tan Bek Hok. Tahun 1935, sekolah ini pindah karena Muhammadiyah telah memiliki tanah sendiri. Namun, sekolah itu kemudian hancur oleh bom sekutu pada tahun 1942.


Ketika petinggi Belanda berkunjung ke Manado pada 1946 mengetahui peristiwa ini, dia menawarkan ganti rugi untuk membangun gedung sekolah baru. Namun Kepala Sekolah Muhammadiyah saat itu, Tahir Rungkali dengan tegas menolaknya.


Cabang Resmi Muhammadiyah Sulawesi Utara Berdiri


Lebih lanjut, Bambang Suwondo mencatat bahwa pada awal 1930-an Muhammadiyah segera menyebar ke berbagai tempat di wilayah Sulawesi Utara. Misalnya di Ratatotok, Minahasa Selatan hingga di Pulau Bunaken dengan pimpinan bernama Aminullah Paransa. 


Di Amurang, Muhammadiyah berdiri dipelopori Salim Bachdim dan Ali Bachdim yang mengangkat Mohammad Dochmi sebagai penasehat.


Ibrahim Polontalo dalam Muhammadiyah di Sulawesi Utara 1928-1990 (1995) bahkan mencatat pendirian Cabang Manado pada tahun 1934 dihadiri oleh tokoh-tokoh utama Muhammadiyah dari Pusat seperti Kiai Muchtar, Siti Badilah Zubir dari ‘Aisyiyah, dan Asi Nardjo dari Pemuda Muhammadiyah.


Penulis: Afandi

Editor: Fauzan AS

Sumber: muhammadiyah.or.id