UMY Sukses Kembangkan Teknologi Padi Apung, Jawab Masalah Krisis Lahan

Notification

×

Iklan

Iklan

UMY Sukses Kembangkan Teknologi Padi Apung, Jawab Masalah Krisis Lahan

Sabtu, 07 Januari 2023 | 19:11 WIB Last Updated 2023-02-26T04:19:13Z


YOGYAKARTA
– Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) sukses mengembangkan inovasi demplot padi apung. Dengan inovasi ini, maka krisis lahan untuk budidaya padi bisa teratasi.


Seperti diketahui, penyusutan lahan pertanian terjadi sebanyak 124 hektar per bulan. Penyusutan itu karena konversi lahan menjadi bangunan dan ruas jalan. Selain itu, inovasi ini bisa diterapkan di tanah gambut. Bahkan UMY telah berhasil mengujicobakan di Kalimantan Timur dan berhasil dua kali panen dengan mendapatkan konversi 4-5 ton beras per hektare.


“Kita harus hati-hati membuka lahan gambut karena kandungan C yang bisa jadi CO2 ketika terbuka. Karbon bisa berubah menjadi CO2. Nah padi apung ini ditanam di atas tanah gambut sehingga tidak melepas C yang ada,” puji Rektor UMY, Gunawan Budiyanto.


Guru Besar Fakultas Pertanian UMY ini selanjutnya mengatakan bahwa padi apung yang dikembangkan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) ini selaras dengan impelementasi program SDGs dalam pengentasan kelaparan (Zero Hunger).


Bahan pembuatan padi apung pun terjangkau. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal seperti kompos bulu ayam dan kotoran burung, inovasi demplot padi teknologi apung, LPM UMY berhasil memanen padi hasil budidaya jenis Rojo Lele Gepyok.


“Istimewanya dari padi apung kita ini seluruh seratus persen menggunakan sumber daya lokal. Tapi memanfaatkan botol bekas plastik air mineral yang cukup banyak di sana, kemudian menggunakan sumber daya kesuburan dari berbagai macam bentuk ada yang dari kotoran burung dan sedimen air sungai itu juga membawa kesuburan,” imbuh Gunawan di Fakultas Pertanian UMY, Rabu (04/01/2023).


Menyambung Gunawan, Ketua LPM UMY, Gatot Supangkat mengatakan inovasi pertanian ini muncul setelah melihat hasil panen padi di desa Muhuran, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara dan Desa Minta, Kutai Barat, Kalimantan Timur yang sering gagal.


“Saat kami datang ke sana, warga mengeluhkan gagal panen dan produksi padi yang tidak optimal. Warga memanfaatkan area rawa yang surut sebagai lahan tanam padi. Namun, lahan ini sering kali mendapat luapan air sungai Mahakam, akibatnya padi terpendam air yang mengakibatkan gagal panen,” ujarnya.


Gatot menjelaskan, sektor pertanian memang sangat rentan terhadap perubahan iklim, terutama faktor intensitas hujan karena berpengaruh terhadap pola tanam, waktu tanam, produksi, dan kualitas hasil.


“Karena itu diperlukan suatu teknologi inovasi terkait sistem pertanian. Salah satu inovasi teknologi budidaya pada lahan rawan banjir dan rawa yaitu dengan menerapkan sistem pertanian terapung yang UMY kembangkan ini,” lanjutnya.


Gatot mengklaim teknologi ini sangat tepat dan cocok diterapkan di desa Muhuran dan desa Minta yang memiliki area penuh rawa. Dengan demikian metode ini bermanfaat bagi peningkatan hasil produksi dan pendapatan bagi para petani karena adanya peningkatan nilai ekonomi dari lahan tersebut.***