![]() |
Oleh: Tarqum Aziz, SHI, M.Pd
Purwokerto | Ahad, 11 januari 2026 ~ Pembinaan Pesantren Muhammadiyah (PesantrenMu) yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Pesantren (LP2) Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada 7–10 Januari 2026 bukanlah sekadar agenda rutin peningkatan mutu kelembagaan. Ia merupakan ikhtiar ideologis Muhammadiyah untuk meneguhkan kembali peran pesantren sebagai pusat tajdid pemikiran Islam, ruang kaderisasi kepemimpinan umat, sekaligus episentrum dakwah pencerahan di tengah perubahan zaman yang kian kompleks.
Di tengah menguatnya pragmatisme Pendidikan ketika lembaga pendidikan kerap direduksi menjadi sekadar pabrik ijazah, Pesantren Muhammadiyah mengambil posisi yang tegas dan berjarak. Pesantren tidak ditempatkan hanya sebagai ruang transmisi pengetahuan agama, melainkan sebagai wahana pembentukan manusia seutuhnya: beriman secara mendalam, berakal kritis, berakhlak mulia, serta memiliki kepekaan dan tanggung jawab sosial. Di sinilah pesantren menemukan makna strategisnya sebagai institusi yang merawat nilai, membentuk karakter, dan menyiapkan generasi penggerak peradaban.
Pembinaan regional PesantrenMu di Jawa Tengah yang melibatkan pesantren dari Karesidenan Pekalongan, Pati-Semarang, Kedu–Banyumas, dan Surakarta mencerminkan kesadaran kolektif bahwa kualitas pesantren tidak ditentukan oleh kuantitas santri atau kemegahan fisik bangunan. Mutu sejati justru bertumpu pada tata kelola yang sehat, kurikulum yang terintegrasi, serta nilai-nilai keislaman yang hidup dalam budaya keseharian santri, pendidik, dan pengelolanya. Pesantren hidup bukan karena temboknya, tetapi karena nilai yang mengalir di dalamnya.
Dalam konteks ini, Pesantren Muhammadiyah ditantang untuk mampu mendialogkan warisan keilmuan Islam klasik dengan ilmu pengetahuan modern. Tradisi tidak ditinggalkan, tetapi dirawat dan diperbarui melalui dialog kreatif dengan realitas kekinian. Inilah hakikat tajdid yang menjadi identitas Muhammadiyah: pembaruan yang tidak memutus masa lalu, tetapi memperbarui cara berpikir, cara mendidik, dan cara mengelola lembaga agar tetap relevan dan berdaya guna menghadapi masa depan yang lebuh mencerahkan.
Pembaruan tersebut tidak dapat dilepaskan dari agenda kaderisasi. Pesantren Muhammadiyah diharapkan menjadi ruang lahirnya ulama-intelektual dan pemimpin sosial, generasi yang mampu membaca kitab sekaligus membaca zaman. Mereka tidak hanya piawai dalam teks-teks keagamaan, tetapi juga peka terhadap persoalan kemanusiaan, keadilan sosial, serta tantangan kebangsaan yang terus berubah.
Ketua LP2 PP Muhammadiyah, Dr. KH. Maskuri, M.Ed, dalam arahannya menegaskan bahwa Pesantren Muhammadiyah memiliki posisi strategis sebagai pusat pendidikan, dakwah, dan kaderisasi umat. Menurutnya, pembinaan yang berkelanjutan merupakan kunci untuk menjaga mutu sekaligus memastikan pesantren tetap berjalan dalam koridor nilai dan visi Muhammadiyah. Pesantren, tegasnya, tidak boleh kehilangan arah ideologis dan terjebak pada rutinitas administratif yang kering dari makna.
Dalam pandangan Maskuri, Pesantren Muhammadiyah harus diletakkan sebagai laboratorium kader ulama-intelektual, tempat bertemunya keilmuan yang mendalam, spiritualitas yang membumi, dan etos pengabdian sosial yang nyata. Integrasi ketiganya hanya mungkin terwujud melalui pengelolaan yang profesional, kepemimpinan yang visioner, serta komitmen ideologis yang kokoh. Profesionalisme, dalam konteks ini, bukan teknokratisme yang hampa nilai, melainkan ikhtiar sungguh-sungguh untuk menghadirkan pesantren yang unggul sekaligus berkarakter.
Penegasan ideologis tersebut diperkuat oleh pandangan Ketua Dewan Pakar Pesantren Muhammadiyah, yang menekankan pentingnya pembinaan berkelanjutan, inovasi, dan kemandirian kelembagaan sebagai prasyarat keberlanjutan pesantren di era modern. Pesantren dituntut adaptif terhadap perubahan sosial, teknologi, dan tantangan global, namun tidak larut hingga kehilangan jati diri keislaman dan ruh tajdid Muhammadiyah sebagai fondasi gerakannya. Adaptasi harus berjalan seiring dengan keteguhan prinsip, dan inovasi harus bertumpu pada nilai.
Forum dialog antar pimpinan pesantren yang berlangsung dalam pembinaan ini juga mencerminkan watak kolektif dan musyawarah Muhammadiyah. Melalui ruang dialog yang setara, berbagai pengalaman dibagikan, persoalan dirumuskan bersama, dan arah pengembangan pesantren ditentukan secara partisipatif. Budaya musyawarah inilah yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan, tumbuh, dan terus relevan lebih dari satu abad.
Ke depan, tantangan pesantren tidak semakin ringan. Disrupsi teknologi, krisis nilai, dan fragmentasi sosial menuntut lembaga pendidikan Islam untuk tampil bukan hanya sebagai tempat belajar agama, tetapi sebagai penyangga moral dan rujukan etika publik. Pesantren ditantang untuk hadir sebagai pusat pencerahan yang memberi arah, bukan sekadar reaksi atas perubahan.
Karena itu, pembinaan Pesantren Muhammadiyah harus dipahami sebagai ikhtiar jangka panjang dan investasi peradaban, bukan sekadar kegiatan seremonial. Dari pesantren inilah diharapkan lahir generasi yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga berdaya secara sosial, matang secara intelektual, dan bertanggung jawab sebagai warga bangsa. Di jalan pembaruan itulah Pesantren Muhammadiyah menemukan relevansi dan perannya, hari ini, esok, dan di masa depan.
*Penulis adalah Kapontren MBS Bumiayu periode 2015-2017, Mudir MBS Cilacap periode 2017-2019 dan Wakil Mudir MBS Purwokerto periode 2019-2022.



