Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah Jawa Barat

Notification

×

Iklan

Iklan

Gagasan Pembaharuan Muhammadiyah Jawa Barat

Jumat, 24 Februari 2023 | 18:29 WIB Last Updated 2023-02-24T11:29:14Z


Oleh: Dr. Zaini Abdul Malik, MA
 


CIREBON - Muhammadiyah telah menyelesaikan hajat 5 (lima) tahunannya. Pada tahun 2022 yang lalu, tetapatnya di Solo, November 2022, Muktamar Muhammadiyah ke-48 berjalan dengan sukses dan meriah. Dengan mengusung tema ‘Memajukan Indonesia, Mencerahkan Semesta’, lebih dari jutaan orang ikut memeriahkan acara akbar ini. Demikan juga dengan Aisyiyah yang bermuktamar bersamaan dengan Muhammadiyah.  


Sejak berdirinya di Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) Muhammadiyah merupakan sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta. 


Gagasan pembaruan Muhammadiyah untuk mengaktualisasikan Islam rahmatan lil alamin yang secara praktis organisatoris diwadahi dalam bentuk Persyarikatan atau perkumpulan.  Kelahiran Muhammadiyah mampu memadukan paham Islam yang ingin kembali pada Al-Quran dan Sunnah Nabi dengan orientasi tajdid yang membuka pintu ijtihad untuk kemajuan, sehingga memberi karakter yang khas dari kelahiran dan perkembangan Muhammadiyah sampai hari ini. 


Muhammadiyah memiliki cita-cita membebaskan umat Islam dari keterbelakangan dan membangun kehidupan yang berkemajuan melalui tajdid (pembaruan) yang meliputi aspek-aspek ibadah, mu’amalah, penanaman nilai-nilai akhlak dalam kehidupan dan memperkokokoh ajaran tauhid. 


Hal lain dari wujud Islam Rahmatan lil alamin yang diperjuangkan Muhammadiyah, adanya langkah yang bersifat ”reformasi” dalam merintis pendidikan ”modern” yang sistematis dan tersktur misalnya mengunakan system klasikal dalam pembelajaran,  adanya kurikulum yang memadukan pelajaran agama dan umum dan lain sebagainya. Kemudian, gagasan dan pelajaran tentang Surat Al-Maun, merupakan contoh lain tentang Islam rahmatan li alamin yang berorientasi pada amal sosial-kesejahteraan, yang kemudian melahirkan lembaga Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKU).


Kepeloporan pembaruan Muhammadiyah, ditunjukkan dengan merintis gerakan perempuan ‘Aisyiyah tahun 1917, yang ide dasarnya dari pandangan Kyai agar perempuan muslim tidak hanya berada di dalam rumah, tetapi harus giat di masyarakat dan secara khusus menanamkan ajaran Islam serta memajukan kehidupan kaum perempuan.  


Karena itu, Muhammadiyah memulai gerakannya dengan meluruskan dan memperluas paham Islam untuk diamalkan dalam sistem kehidupan yang nyata. Umat Islam itu harus mencari kebenaran yang sejati, berpikir mana yang benar dan yang salah, tidak taklid dan fanatik buta dalam kebenaran sendiri, menimbang-nimbang dan menggunakan akal pikirannya tentang hakikat kehidupan, dan mau berpikir teoritik dan sekaligus beripiki praktik. 


Oleh karena itu Muhammadiyah Jawa Barat yang akan melaksanakan musyawarah wilayah pada tanggal 25 – 26 Pebruari  2023 di Universitas Muhammadiyah Cirebon tidak hanya melaksankan kegiatan rutinitas lima tahunnan, tetapi harus lebih banyak melahirkan gagasan-gagasan pembaharuan yang berkemajuan sebagai manipestasi ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin,  diantaranya sebagai berikut :


Pertama, Peneguhan Paham Keislaman dan Ideologi Muhammadiyah.  


Peneguhan ini dianggap penting karena selama ini masih banyak kader dan anggota yang tidak sejalan dengan ideologi Persyarikatan. Padahal, dokumen resmi soal pandangan Muhammadiyah amat lengkap, mulai dari, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah, Khittah Muhammadiyah, Manhaj Tarjih, Gerakan Jamaah Dakwah Jamaah,Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah, Dakwah Kultural, Pernyataan Abad Kedua, Negara Pancasila Darul Ahdi Wa Syahadah, dan lain-lain.  


Kedua, Memperkuat dan Memperluas Basis Umat di Akarrumput dalam bentuk pengembangan cabang dan ranting.  


Sejak masa Kiai Ahmad Dahlan, komunitas menjadi nyawa Muhammadiyah di desa maupun kota dengan masjid dan ranting sebagai pusat gerakannya. Muhammadiyah pun telah merumuskan panduan lewat strategi Gerakan Jamaah dan Dakwah Jamaah (GJDJ) (1968), Dakwah Kultural (2002) dan Dakwah Komunitas (2015). 


Ketiga, Berdakwah bagi Milenial, Generasi Z dan Generasi Alpha.  


Jumlah ketiga generasi tersebut dalam piramida penduduk Indonesia sangat tinggi, menurut Sensus Penduduk Indonesia tahun 2020 total 173,48 juta jiwa atau 64,69% dari total penduduk. Ketiga generasi baru tersebut produk dunia dan alam pikiran “android” serta sebagaimana ditengarai oleh Noah Harari menjadi bagian dari generasi “Homo Deus” yang mendewakan  teknologi, artificial intelligence (AI), dan revolusi bioteknologi yang canggih sehingga bila tidak tersentuh oleh pendidikan nilai agama yang benar dapat menjadi generasi  yang agnostik, sekuler, dan liberal. Muhammadiyah penting hadir di tengah komunitas tiga generasi baru itu dengan pendekatan baru, terutama lewat Angkatan Muda.


Keempat, Memperkuat Lembaga Lazismu sebagai sumber dana persyarikatan. 


Lazismu sebagai lembaga zakat nasional mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam menopang gerakan dakwah muhammadiyah Jawa Barat yang berkemajuan. Lazismu dapat menghimpun sumber dana berupa zakat, infak shadaqah, dan dana sosial keagamaan secara ritail dari warga muhammadiyah dan simpatisan, dan dari korporat. Dana yang terhimpun tersebut bisa digunakan dalam pembiayaan program-program Muhammadiyah Jawa Barat yang diajukan oleh Muhammadiyah, Majlis, Lembaga, Badan dan ortom disetiap pimpinan. Semua elemen Muhammadiyah bersinergis dan kolaborasi dalam menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi mungkar yang dimediasi oleh Lazismu. 


Kelima, Mengembangkan AUM Unggulan dan Kekuatan Ekonomi.  


Sebagai ciri Muhammadiyah, amal usaha dianggap perlu membangun peta jalan untuk memajukan keunggulan dan kualitas setiap AUM. Dalam bidang ekonomi, Muhammadiyah diharapkan menjadi pelaku dan bukan sekadar menjadi pengamat. Dalam lima tahun ke depan, Muhammadiyah diharapkan mengembangkan berbagai pemberdayaan, bisnis dan ekonomi memperkuat UMKM secara lebih gigih, masif, dan tersistem. Pada saat yang sama bisnis berskala menengah ke atas mulai digarap dan dikembangkan, dengan dikoneksikan dengan unit-unit usaha di berbagai amal usaha Muhammadiyah yang ada.


Keenam, Reformasi Kaderisasi dan Diaspora Kader ke Berbagai Lingkungan dan Bidang Kehidupan.  


Muhammadiyah saat ini berfastabiqul-khairat dengan berbagai pihak dalam mengisi ruang struktur dan ekosistem kehidupan dengan menempatkan kader-kadernya yang berintegritas dan berkeahlian tinggi di berbagai aspek kehidupan. Lima tahun ke depan, Haedar (Ketua PP Muhammadiyah) menyatakan bahwa perlunya reformasi kaderisasi Muhammadiyah untuk mempersiapkan diaspora kader di berbagai struktur dan lingkungan di luar maupun ke dalam, sehingga gerakan Islam ini mengalami perluasan melalui peran para kadernya. 


Ketujuh, Digitalisasi dan Intensitas Internasionalisasi Muhammadiyah.  


Digitalisasi merupakan proses yang niscaya bagi Muhammadiyah saat ini dan ke depan. Proses digitalisasi juga menjadi penting satu paket dengan gerakan literasi Muhammadiyah untuk mencerdaskan, memajukan, dan mencerahkan kehidupan umat, bangsa, dan kemanusiaan semesta. 

Wallahu ‘alam