Muhammadiyah Pilar Kemajuan Pendidikan dan Perkembangan Sains-Teknologi di Indonesia

Notification

×

Iklan

Iklan

Muhammadiyah Pilar Kemajuan Pendidikan dan Perkembangan Sains-Teknologi di Indonesia

Sabtu, 25 Februari 2023 | 09:22 WIB Last Updated 2023-02-25T02:22:43Z


Oleh: Prof. Dr. Wahyu Srigutomo, M.Si


CIREBON - Gerakan Muhammadiyah adalah gerakan sosial dan keagamaan yang didirikan pada tahun 1912 oleh KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Indonesia. Gerakan ini bertujuan untuk memperbaiki dan memajukan kehidupan umat Islam melalui pendidikan, dakwah, kesehatan, dan kesejahteraan sosial. 


Muhammadiyah memiliki jaringan lembaga pendidikan dan kesehatan yang luas di Indonesia, termasuk universitas, sekolah, rumah sakit, dan pusat kesejahteraan sosial. Gerakan ini juga aktif dalam upaya-upaya pemberdayaan ekonomi umat Islam dan mempromosikan keadilan sosial. Muhammadiyah adalah salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam masyarakat dan politik Indonesia.


Muhammadiyah telah berkembang pesat dan memiliki banyak cabang di seluruh Indonesia, bahkan juga di beberapa negara lain. Muhammadiyah tetap konsisten dalam mengedepankan prinsip-prinsip keagamaan yang moderat, seperti pemberdayaan masyarakat, pendidikan, kesehatan, dan kemanusiaan. Muhammadiyah juga terus berupaya untuk memadukan ajaran Islam dengan perkembangan zaman, dengan memperhatikan perubahan sosial, budaya, dan teknologi. 


Muhammadiyah aktif terlibat dalam berbagai isu sosial dan politik, seperti hak asasi manusia, keadilan, dan demokrasi. Muhammadiyah juga memiliki banyak lembaga pendidikan dan kesehatan yang terus berinovasi dan berkembang, sehingga dapat memenuhi kebutuhan masyarakat modern. Secara keseluruhan, Muhammadiyah dapat dikatakan sebagai salah satu organisasi Islam yang berperan penting dalam membangun masyarakat modern yang berkarakter Islami, sekaligus memperjuangkan kesejahteraan umat dan bangsa.


Bagi kita yang aktif terlibat secara struktural maupun kultural dalam dinamika perjalanan Muhammadiyah, menjadi anggota Muhammadiyah memiliki banyak privilege yaitu kebanggaan atau keistimewaan, di antaranya: 


1. Mempunyai jaringan sosial yang luas dan solidaritas yang tinggi: Muhammadiyah memiliki jaringan sosial yang luas dan solidaritas yang tinggi antar anggota, sehingga dapat memudahkan anggota dalam berbagai kegiatan atau mendapatkan dukungan dalam berbagai hal.


2. Kesempatan untuk mengembangkan diri secara personal dan profesional: Muhammadiyah memberikan kesempatan bagi anggotanya untuk mengembangkan diri secara personal dan profesional melalui berbagai kegiatan, seperti pelatihan, seminar, kursus atau pertemuan. 


3. Menjadi bagian dari gerakan dakwah dan kemanusiaan yang besar: sebagai organisasi Islam terbesar kedua di Indonesia, di mana keluarga besar Muhammadiyah berjumlah sekitar 30 juta jiwa, Muhammadiyah menjadi bagian dari gerakan dakwah dan kemanusiaan yang besar dan memiliki pengaruh yang signifikan dalam masyarakat. 


4. Kesempatan mendapatkan akses pendidikan yang berkualitas: Muhammadiyah memiliki banyak sekolah dan perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Indonesia, sehingga anggotanya dapat memanfaatkan akses pendidikan yang berkualitas dan terjangkau. 


5. Keterlibatan dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan: Muhammadiyah sangat aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan, sehingga anggotanya dapat terlibat dalam berbagai program dan inisiatif yang membantu masyarakat yang membutuhkan. 


6. Berkontribusi untuk kemajuan umat dan bangsa: Melalui partisipasi aktif dan kontribusinya dalam kegiatan Muhammadiyah, anggota dapat berkontribusi untuk kemajuan umat dan bangsa, dan dapat merasa terpanggil untuk melakukan perubahan positif dalam masyarakat.


Namun demikian, selain kebanggaan dan kehormatan tersebut di atas, menjadi anggota Muhammadiyah ternyata juga menyisakan beberapa tantangan yang mungkin dihadapi, antara lain:


1. Pentingnya senantiasa menjaga konsistensi dalam amalan dan perilaku sehari-hari: sebagai organisasi Islam, Muhammadiyah menganjurkan anggotanya untuk menjaga konsistensi dalam amalan dan perilaku sehari-hari yang sesuai dengan nilai dan prinsip Islam. Hal ini dapat menjadi tantangan bagi anggota, terutama jika dihadapkan pada situasi atau tekanan yang mempengaruhi perilaku atau amalan.


2. Kemauan untuk terus mengembangkan keterampilan dan pengetahuan: Muhammadiyah mengadakan berbagai program pelatihan dan pengembangan diri untuk anggotanya, sehingga dapat menjadi tantangan untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan dalam bidang-bidang yang dianggap penting. 


3. Menjaga keseimbangan dalam kegiatan organisasi dan kehidupan pribadi: sebagai organisasi dengan aktivitas yang padat, Muhammadiyah dapat memakan waktu dan energi yang cukup besar bagi anggotanya. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan antara kegiatan organisasi dan kehidupan pribadi dapat menjadi tantangan tersendiri.


4. Potensi menghadapi perbedaan pandangan dan pendapat: Muhammadiyah merupakan organisasi yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat dengan latar belakang dan pandangan yang berbeda-beda. Dalam berbagai diskusi atau kegiatan organisasi, mungkin muncul perbedaan pendapat dan pandangan yang harus dihadapi dan diselesaikan dengan cara yang tepat. 


5. Keterampilan menjaga hubungan dengan masyarakat dan pemerintah: sebagai organisasi sosial, Muhammadiyah memiliki hubungan dengan masyarakat dan pemerintah yang harus dijaga dan dikelola dengan baik. Ini dapat menjadi tantangan, terutama jika terjadi perbedaan pandangan atau pendapat dengan masyarakat atau pemerintah dalam isyu-isyu penting dan krusial.


Namun tentu kita tidak perlu terlalu khawatir dengan keniscayaan tantangan-tangan tersebut. Asalkan tersedia kesadaran dan komitmen yang kuat, anggota Muhammadiyah dapat mengatasi tantangan ini dan tetap menjalankan peran dan tanggung jawabnya sebagai anggota Muhammadiyah.


Dalam dunia modern di mana setiap kinerja program atau kegiatan tidak terlepas dari asesmen resiko, maka sebetulnya ber-Muhammadiyah juga mengandung potensi-potensi resiko yang harus disadari atau diantisipasi oleh anggota. Potensi resiko tersebut dapat berbentuk beberapa hal di bawah ini:


1. Terganggu dalam urusan pribadi: terkadang, kegiatan atau aktivitas yang dilakukan sebagai anggota Muhammadiyah dapat mengganggu urusan pribadi dan pekerjaan, terutama jika terlalu banyak waktu dan energi yang dikeluarkan untuk kegiatan-kegiatan tersebut. Terbatasnya jaringan di luar Muhammadiyah: Meskipun jaringan sosial dalam Muhammadiyah sangat luas, tetapi anggota Muhammadiyah mungkin terbatas dalam mengembangkan jaringan sosial di luar organisasi, sehingga terkadang sulit memperluas perspektif atau wawasan.


2. Terpengaruh dalam pandangan politik atau sosial tertentu: Keterlibatan aktif dalam Muhammadiyah juga dapat mempengaruhi pandangan politik atau sosial seseorang, terutama jika anggota terlalu sering terpapar dengan pandangan yang sama dan kurang mengakses informasi dari sumber lain. Ber-khittah kepada prinsip-prinsip pergerakan Muhammadiyah tentu harus, namun memiliki dan mempraktekkan pandangan yang sempit tentu harus dihindari.


3. Dikaitkan dengan stereotip tertentu: dalam masyarakat Indonesia, Muhammadiyah sering dikaitkan dengan stereotip tertentu, terutama terkait dengan identitas agama dan politik. Sebagai anggota, seseorang mungkin harus siap menghadapi persepsi dan penilaian negatif dari masyarakat di luar Muhammadiyah.


Semua potensi resiko ini dapat diminimalkan atau diatasi dengan tetap menjaga keseimbangan dalam kegiatan dan aktivitas di Muhammadiyah serta terbuka terhadap pandangan yang berbeda. Selain itu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi dengan prinsip “ud’uu ilaa sabiili rabbika bilhikmati walmauizhatil hasanati, wajaadilhum billatii hiya ahsan” menjadi sangat penting.


Dalam menghadapi tantangan dan memenuhi kebutuhan masyarakat di era modern, pengetahuan dan pemahaman tentang sains dan teknologi dapat membantu pimpinan Muhammadiyah untuk memperluas wawasan dan mengembangkan program-program yang relevan dan inovatif. 


Namun, di sisi lain, pemahaman tentang ilmu agama dan nilai-nilai Islam juga sangat penting untuk memastikan bahwa kegiatan Muhammadiyah selalu sesuai dengan prinsip-prinsip Islam dan memberikan manfaat bagi masyarakat secara holistik. 


Oleh karena itu, seorang pimpinan Muhammadiyah sebaiknya memiliki pemahaman yang seimbang tentang ilmu agama dan sains dan teknologi, serta kemampuan untuk mengintegrasikan keduanya dalam kepemimpinannya.


Muhammadiyah telah memberikan kontribusi yang signifikan pada bidang STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika) di Indonesia melalui lembaga-lembaga pendidikannya. Universitas Muhammadiyah Malang, misalnya, telah melahirkan banyak lulusan yang berhasil di bidang STEM, termasuk ilmuwan, insinyur, dan teknologi informasi. 


Selain itu, Muhammadiyah juga memiliki program-program pendidikan STEM di sekolah-sekolahnya, yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan keterampilan siswa di bidang STEM. Muhammadiyah juga telah mengembangkan pusat-pusat riset dan inovasi STEM, termasuk juga kerjasama penilitian antara Universitas Muhammadiyah Bandung dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) pada beberapa bidang penelitian dan inovasi di bidang STEM. Melalui kontribusinya di bidang pendidikan, riset, dan inovasi STEM, Muhammadiyah berperan penting dalam memajukan perkembangan sains dan teknologi di Indonesia.


Sekarang, marilah kita menilik pada diri kita sendiri. Sebagai organisasi yang memiliki jumlah anggota yang cukup besar di Jawa Barat, Muhammadiyah di wilayah ini masih dihadapkan pada beberapa masalah dan tantangan, antara lain:


1. Keterbatasan akses ke fasilitas dan infrastruktur pendidikan: meskipun Muhammadiyah memiliki sekolah-sekolah di seluruh wilayah Jawa Barat, beberapa daerah masih memiliki keterbatasan akses ke fasilitas dan infrastruktur pendidikan yang memadai. Hal ini dapat membatasi kemampuan siswa dan guru untuk mengembangkan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan. 


2. Kekurangan tenaga pengajar dan guru yang berkualitas: Muhammadiyah di Jawa Barat masih mengalami kesulitan dalam merekrut tenaga pengajar dan guru yang berkualitas di berbagai jenjang pendidikan, termasuk di bidang STEM. 


3. Perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat yang berdampak pada pendidikan: Perkembangan teknologi dan perubahan pola hidup masyarakat dapat mempengaruhi pendidikan, termasuk di sekolah-sekolah Muhammadiyah di Jawa Barat. Hal ini memerlukan penyesuaian dan pengembangan strategi pembelajaran yang inovatif dan adaptif.


4. Tantangan dalam menyeimbangkan antara pendidikan agama dan umum: Sebagai lembaga pendidikan yang berbasis keislaman, Muhammadiyah di Jawa Barat dihadapkan pada tantangan untuk menyeimbangkan antara pendidikan agama dan umum dalam kurikulum dan strategi pembelajaran.


5. Keterbatasan dana dan sumber daya: Muhammadiyah di Jawa Barat masih mengalami keterbatasan dana dan sumber daya untuk mengembangkan dan meningkatkan kualitas pendidikan di sekolah-sekolahnya.


Adalah sudah menjadi DNA warga Muhammadiyah untuk selalu berusaha menghadapi tantangan dengan berbagai inisiatif kreasi dan inovasi. Secara bersama segenap unsur Muhammadiyah Jawa Barat terutama pinpinannya Muhammadiyah dapat melakukan beberapa langkah untuk mengatasi masalah-masalah terkait pengembangan pendidikan berbasis STEM, antara lain:


1. Membangun jejaring dan kerja sama dengan pihak-pihak terkait, seperti universitas dan lembaga riset, untuk mengembangkan program pendidikan STEM yang berkualitas dan memadai.


2. Memberikan pelatihan dan pengembangan bagi guru dan tenaga pengajar STEM di sekolah-sekolah Muhammadiyah, termasuk pelatihan dalam hal penggunaan teknologi pendidikan terbaru dan pengembangan kurikulum STEM yang inovatif. 


3. Mendorong pengembangan pusat-pusat riset dan inovasi STEM di wilayah Jawa Barat untuk memfasilitasi penelitian dan inovasi di bidang STEM, serta mengembangkan hubungan dengan sektor industri untuk memfasilitasi transfer teknologi dan peningkatan lapangan kerja di bidang STEM. 


4. Mengembangkan program-program kampanye/sosialisasi untuk meningkatkan kesadaran tentang pentingnya STEM di kalangan siswa dan orang tua di wilayah Jawa Barat, termasuk seminar, workshop, dan kegiatan-kegiatan lainnya. 


5. Mengumpulkan dana dan sumber daya lainnya untuk mendukung pengembangan program STEM di sekolah-sekolah Muhammadiyah di wilayah Jawa Barat. 

Dengan melakukan langkah-langkah ini, Muhammadiyah Jawa Barat dapat memberikan kontribusi yang lebih besar pada pengembangan pendidikan berbasis STEM di Indonesia dan membantu meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang STEM.


Upaya-upaya di atas pada ujungnya diharapkan menghasilkan outcome proses pendidikan dan pengembangan STEM yang tidak hanya berdampak pada Gerakan Muhammadiyah itu sendiri, namun juga bagi peningkatan kualitas dan keunggulan unsur-unsur masyarakat di Indonesia, baik individual maupun komunal yang memiliki karakteristik berikut: 


1. Mampu berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam yang bersifat universal dan abadi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan zaman dan kebutuhan masyarakat modern. 


2. Memiliki pemahaman yang seimbang tentang agama, yakni mengkombinasikan pengetahuan dan praktik keagamaan dengan pemahaman yang rasional dan kritis. 


3. Menjunjung tinggi nilai-nilai keadilan, toleransi, kesetaraan, dan kemanusiaan. 


4. Memiliki kesadaran sosial yang kuat dan aktif dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat serta berkontribusi positif untuk kemajuan umat dan bangsa. 


5. Memiliki kemampuan dan keterampilan yang memadai dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, teknologi, ekonomi, politik, dan budaya, sehingga mampu bersaing di era globalisasi.


Bandung, Februari 2023