Iklan

Iklan

,

Iklan

UMBandung

Spirit Tajdid Bagi Muhammadiyah Jawa Barat!

Redaksi
Jumat, 24 Februari 2023, 15:35 WIB Last Updated 2023-02-24T08:35:19Z


Oleh: Dr. Ayi Yunus Rusyana, M.Ag 


BANDUNG - Jika hidup kita terasa monoton dan tertinggal dari orang lain, barangkali ada sesuatu yang menghilang atau, paling tidak, melemah dari diri kita. Entah itu ghairah, passion, spirit, semangat juang, dan mungkin jiwa yang ikhlas. 


Gerakan Muhammadiyah di Jawa Barat, menurut sebagian orang kini mengalami kemandegan, jalan di tempat, dan agak kedodoran mengimbangi perkembangan Muhammadiyah di provinsi lain, terutama di Pulau Jawa. 


Padahal, sumberdaya dan kader penggerak Muhammadiyah di Jawa Barat sesungguhnya sangat melimpah. Amal usaha, seperti Lembaga Pendidikan, Lembaga Kesehatan, maupun Lembaga sosial cukup banyak. Tidak heran jika tidak sedikit orang bertanya-tanya ada apa dengan Muhammadiyah Jawa Barat?


Sejak kelahirannya di tahun 1912, banyak orang yang menyebut Muhammadiyah sebagai organisasi Muslim modernis. Bagaimana tidak, di saat akses Pendidikan masih terbatas bagi keturunan bangsawan dan ningrat, Muhammadiyah sudah menegaskan program “education for all”, Pendidikan untuk semua. Jikapun ada sekolah rakyat, sistemnya sangat tradisional, duduk lesehan, dan biasanya belajar agama saja.


Tetapi Muhammadiyah mendirikan sekolah untuk warga dengan kurikulum dan fasilitas yang lebih modern. Meskipun banyak dituduh kafir karena sekolahnya mirip sekolah Belanda, Kyai Dahlan sejatinya sedang memperbaharui system Pendidikan sekaligus beradaptasi dengan dunia yang sedang berubah. 


Sang kyai mengajarkan kita untuk selalu  ber-tajdid, mereformasi gagasan, program, maupun eksistensi persyarikatan, supaya tidak tergerus oleh perkembangan zaman.


Karakteristik modernitas Kyai Dahlan juga terlihat dari pemikiran maupun pemahaman teologinya yang rasional. Di saat banyak orang percaya tahayul, bid’ah dan churafat (sering disebut TBC), Sang Kyai menentangnya dan lebih memilih cara berfikir yang lebih masuk akal. 


Purifikasi doktrin dan ajaran Islam, terutama masalah aqidah, ibadah dan akhlak, karenanya menjadi pesan penting supaya umat Islam selalu “on the track” berada di jalur kehidupan yang membebaskan dan mencerahkan, di tengah-tengah rumitnya problem yang dihadapi umat Islam.


Dalam konteks social-budaya, tidak sedikit masyarakat yang pasrah “nrimo” penjajahan dan kemiskinan, namun sang Pencerah berusaha sekuat tenaga melawannya. Karena, baginya, hidup yang bebas dan sejahtera adalah hak setiap manusia yang paling asasi. 


Melalui Gerakan dakwahnya, Kyai Dahlan ingin membebaskan rakyat Indonesia dari penjajahan, kemiskinan dan kebodohan. Dia layak disebut Sang Pencerah, karena dakwahnya memberikan solusi dan menghujam langsung kepada jantung persoalan yang sedang dihadapi umat Islam saat itu.


Gerakan dakwahnya pun tampak melampaui zamannya. Di saat orang lain hanya sibuk menghapal ayat-ayat al-Quran dan Hadits, Kyai Dahlan selalu mengajak murid-muridnya untuk menginternalisasi nilai-nilai luhurnya serta langsung mengamalkannya. Seolah mendahului “taksonomi Bloom”, ajaran Islam bagi Sang Pencerah bukan sekedar urusan kognitif, melainkan afektif dan psikomotorik. 


Setelah 1 Abad


Berkat refleksi yang mendalam atas berbagai teks, dakwah kyai Dahlan mewujud ke dalam bentuk sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan bahkan organisasi yang memiliki tata Kelola modern. 


Bukan hanya memiliki lebih dari 100 perguruan tinggi, Muhammadiyah kini mulai mendirikan sekolah dan perguruan tinggi di mancanegara, sehingga keberadaan, fungsi dan program persyarikatan dapat dirasakan oleh semua orang. Muhammadiyah ingin mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta. 


Secara khusus, James L. Peacock memberikan apresiasi tinggi kepada Muhammadiyah, setelah melakukan penelitian terhadap dinamika Muhammadiyah sejak 1970-an hingga kini. 


Menurut antropolog dari University of North Carolina ini, Muhammadiyah termasuk organisasi yang unggul karena telah berhasil berjuang dan bertahan (survive) setelah lebih dari satu abad. 


Selain itu, Muhammadiyah menurut Peacock, telah berjasa besar dan berkontribusi terhadap dunia pendidikan dan sosial, termasuk kehadiran universitas, rumah sakit, dan lembaga-lembaga sosial lainnya di Indonesia. Di samping itu, Muhammadiyah juga terlibat dalam banyak isu nasional dan global, mulai dari demokrasi hingga urusan lingkungan.


Kita, tentu saja tidak boleh terlena dengan banyaknya apresiasi terhadap kinerja Muhammadiyah, maupun capaian kuantitatif amal usaha yang tersebar di mana-mana di berbagai daerah di Indonesia. Tapi kita perlu membuka mata kita lebar-lebar untuk mencermati kondisi existing Muhammadiyah di Jawa Barat. 


Di tatar pasundan ini, berapa sekolah atau pesantren Muhammadiyah unggulan yang memiliki prestasi menjulang? Di beberapa tempat, masih terdengar ada sekolah Muhammadiyah yang “hidup segan mati tak mau.” Lembaga Kesehatan dan amal usaha serta unit bisnis yang kita miliki, apakah semuanya sudah unggul dan berkembang pesat? Mungkin ada, tapi sebagian ada yang masih berjuang untuk bertahan hidup.


Beberapa majelis dan Lembaga yang ada di persyarikatan, berapakah jumlahnya yang masih aktif? Apakah banyak warga persyarikatan yang terlibat dan mendapatkan manfaat? Apakah manfaatnya juga dirasakan oleh masyarakat umum. Di tempat lain, pengurus majelis dan Lembaga hanya tercantum di struktur organigram saja. Baru disebut-sebut Ketika musyawarah. 


Setelah itu? Wallahu a’lam!?! Padahal, ujung tombak program persyarikatan ada di majelis dan Lembaga, selain organisasi otonom. Kata seorang teman, hanya “majelis atau Lembaga mata air” yang biasanya aktif, sementara “majelis atau Lembaga air mata” nyaris tak terdengar, hehe…  Apa artinya? Saya harus nanya teman.


Selain amal usaha, yang perlu disoroti dalam tulisan ini adalah tingkat literasi sebagian warga persyarikatan. Seorang cendekiawan muda Muhammadiyah pernah menginformasikan hasil penelitiannya tentang wawasan kemuhammadiyahan di berbagai daerah. 


Dia cerita, bahwa hasil penelitiannya sangat mengejutkan. Banyak jamaah yang lebih mengidolakan Habib Rizieq dibandingkah tokoh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. What!?!


Saya juga pernah ada di dalam suatu grup medsos warga persyarikatan. Banyak isu yang dibahas. Salahsatunya masalah pandemi covid-19. Anehnya, masih ada anggota yang tidak percaya dengan covid dan vaksin, di tengah perjuangan dan pengorbanan persyarikatan yang luar biasa menguras energi dan biaya. Padahal pimpinan pusat sudah membentuk lembaga khusus untuk menangani covid: Muhammadiyah Command Covid Centre (MCCC). 


Di berbagai kota, Rumah sakit Muhammadiyah harus berjuang extra demi menanggulangi korban covid ini. Pada saat yang sama, Majelis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan fatwa dan pedoman untuk merespon pandemic covid-19 ini. 


Tapi masih ada warga persyarikatan yang menutup mata. Informasi di medsos yang berseliweran lebih dipercaya dibandingkan kerja nyata Muhammadiyah.


Benarkah Masih Modernis?


Jadi, mencermati fakta di atas, benarkah Muhammadiyah, mulai dari pimpinan, pengurus AUM, tenaga pendidik, anggota, layak disebut modernis? Apakah mereka, termasuk kita,  mulai lupa cara berfikir rasionalis dan reformis-nya Kyai Dahlan? Jangan-jangan label “modernis, rasionalis, reformis” itu hanya tepat disematkan kepada para penggerak Muhammadiyah di masa-masa awal saja. 


Atau paling untung, kita hanya mewarisi atau menduplikasi setengah dari cara berpikir, cara berorganisasi dan cara belajar para pendiri dan penggerak Muhammadiyah di zaman dahulu. Setengahnya lagi? 


Bisa jadi kita masih berfikir dan bergerak secara tradisionalis.


Misalnya, sekolah dikelola asal-asalan, atau hanya mengikuti kebiasaan sebelumnya yang turun-temurun sejak beberapa puluh tahun yang lalu. Tidak ada keinginan untuk membenahi tata Kelola, beradaptasi dengan perkembagan zaman, membuat terobosan, dan belajar banyak supaya tidak ketinggalan.


Pimpinan persyarikatan, jangan-jangan masih meng-copy paste program periode sebelumnya, padahal periode sebelumnya pun meniru program periode sebelumnya. Tidak ada usaha untuk memahami masalah, menelusuri akar masalahnya, dan merencanakan Langkah-langkah pemecahannya, yang mewujud menjadi program kerja. 


Ujung-ujungnya membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Gerak organisasi modern ini, jika begitu, sangat bertumpu pada tradisi. 


Para aktivis Muhammadiyah tampaknya harus selalu update, eager to learn (memiliki semangat belajar), adaptive, mau dan mampu beradaptasi dengan hal-hal yang baru, serta memiliki spirit tajdid seperti yang ditunjukkan Kyai Ahmad Dahlan. Demi Muhammadiyah Jawa Barat yang unggul dan berkemajuan!


*Tulisan ini dikembangkan dari artikel penulis “Setengah Modernis, Setengah Tradisionalis” yang diterbitkan di dalam buku “Kado Muktamar Muhammadiyah ke-48 dari Muhammadiyah Kota Tasikmalaya”

Iklan