Iklan

UMBandung

Iklan

UMBandung
,

Iklan

Adab dan Doa Berbuka Puasa Ramadan

Redaksi
Kamis, 23 Maret 2023, 08:36 WIB Last Updated 2023-03-23T01:36:03Z


YOGYAKARTA
— Seperti ibadah lainnya, puasa memang memiliki dimensi zahir yang harus ditaati agar terpenuhi syarat sahnya. Dimensi zahir ini penting untuk diketahui, dan sudah dijelaskan di dalam kitab-kitab fikih. 


Namun, kita tak ingin puasa hanya sah secara hukum fikih saja, tapi nihil nilai di hadapan Allah. Di dalam karangan ringkasnya al-Adabu fi al-Din, Imam al-Ghazali menulis dengan singkat senarai adab puasa sebagai berikut: meninggalkan pertengakran (al-mira’), kemunafikan (al-mura’),  gibah dan kedustaan; tidak menyakiti orang lain; menjaga seluruh anggota tubuh dari perbuatan tercela. 


Dengan menjalankan adab-adab ini, puasa diharapkan bisa melampaui puasa ‘awam yang hanya mencukupkan diri dari yang membatalkan sah-nya puasa saja. Selain itu, ada pula adab puasa yang lebih praktis dari Abu Hasubah sehingga diharapkan puasa kita bisa lebih paripurna.


Berdoa ketika berbuka puasa baik dengan doa berbuka puasa maupun dengan doa-doa lainnya sebab mustajabnya waktu buka puasa. Imam Nawawi juga menganjurkan memperbanyak doa selama berpuasa.


       ثﻼﺙ ﻻ ﺗﺮﺩ ﺩﻋﻮﺗﻬﻢ ﺍﻟﺼﺎﺋﻢ ﺣﺘﻰ ﻳﻔﻄﺮ ﻭﺍﻹﻣﺎﻡ ﺍﻟﻌﺎﺩﻝ ﻭ ﺍﻟﻤﻈﻠﻮﻡ


Ada tiga doa yang tidak tertolak. Doanya orang yang berpuasa ketika berbuka, doanya pemimpin yang adil, dan doanya orang yang terzhalim  (HR. Tirmidzi)


Doa Buka Puasa


Berdoa ketika berbuka puasa, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menganjurkan doa ini karena memiliki landasannya dalam hadis:


ذَهَبَ الظَّمَـأُ، وابْــتَلَّتِ العُرُوقُ، وثَــبَتَ الأَجْرُ إِن شَاءَ اللهُ


Hal ini disebutkan dalam hadis: “Dari Ibnu Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Apabila Rasulullah saw berbuka, beliau berdoa: Dzahabazh-zhama’u wabtallatil-‘uruqu wa tsabatal-ajru insya Allah [Hilanglah rasa haus dan basahlah uraturat (badan) dan insya Allah mendapatkan pahala]” [HR. Abu Dawud].


Pada bulan puasa juga sangat dianjurkan memperbanyak shadaqah, membaca dan mempelajari Al-Qur’an, mendekatkan diri kepada Allah dengan cara iktikaf di masjid, terutama pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Berdasarkan hadis: “Dari Ibnu Umar r.a. (diriwayatkan bahwa) ia berkata: Rasulullah saw selalu beri‘tikaf pada sepuluh hari yang penghabisan di bulan Ramadan.” [Muttafaq ‘Alaih]. ***

Iklan