Memaknai Rezeki dan Gaji di Bulan Ramadan

Notification

×

Iklan

Iklan

Memaknai Rezeki dan Gaji di Bulan Ramadan

Kamis, 16 Maret 2023 | 12:45 WIB Last Updated 2023-03-16T05:45:32Z


JAKARTA
– Bendahara Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hilman Latief menuturkan bahwa, transferan gaji dan saldo di rekening yang jumlahnya melimpah, mobil yang berderet di parkiran rumah itu bukan rezeki jika pemilik tidak atau belum menggunakannya.


Menurutnya, konsep rezeki dalam Islam sudah jelas, yaitu apapun yang diberikan Allah dan yang menerima itu bisa menikmatinya itu merupakan rezeki. Maka, sebanyak apapun uang dan harta lain yang melimpah, jika tidak atau belum digunakan itu bukan rezeki.


Demikian disampaikan Hilman pada, Rabu (15/3/2023) di acara Tarhib Ramadan 1444 H yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih. Dirjen Haji dan Umroh ini menuturkan, transferan gaji itu juga belum tentu rizki.


“Karena yang disebut rezeki itu sesuatu yang kita nikmati. Kalau menerima bingkisan, menerima transferan, rumah besar, mobil banyak kalau tidak digunakan oleh bapak atau ibu, maka itu menjadi rezeki orang lain.” Ungkap Hilman.


Namun demikian, yang paling penting menurut Hilman adalah doa dan pengharapan kepada Allah SWT agar senantiasa diberikan rizki yang baik dan halal. Karena untuk apa transferan gaji yang menumpuk di tabungan jika itu tidak baik dan halal, baik dari cara mendapatkan dan membelanjakan.


Sementara itu, menyambut bulan Ramadan yang sebentar lagi datang, Hilman mengajak supaya umat muslim menyambutnya dengan gembira. Menyambut bulan Ramadan dengan gembira, sebagaimana yang dianjurkan dan ditradisikan dalam Islam.


Menjelang datangnya bulan Ramadan, banyak hal yang harus disiapkan, lebih-lebih fisik dan hati. Sebab, di antara lima perintah yang ada dalam Rukun Islam, puasa ini menjadi ibadah yang berat untuk dijalankan oleh seorang mukmin, lebih-lebih bagi mereka yang kadar keimanannya rencah.


Namun demikian, muslim yang bisa merasakan Puasa Ramadan harus tetap bersyukur. Hilman menganalogikan, bahwa keimanan seorang muslim akan turun atau mendekati habis ‘lowbat’, dan Ramadan ini adalah kesempatan untuk mengisi atau mencharger daya iman kembali.***