Iklan

Iklan

,

Iklan

Wacana Keilmuan! Ini 5 Kelemahan Kesarjanaan Islam Kontemporer

Redaksi
Kamis, 16 Maret 2023, 12:35 WIB Last Updated 2023-03-16T05:35:01Z


YOGYAKARTA
— Tidak dapat dipungkiri bahwa Islam pernah menjadi pusat wacana keilmuan. Namun saat ini, umat Islam berada dalam posisi yang memprihatinkan. 


Dalam upaya membangun kembali tradisi keilmuan, Muhamad Rofiq Muzakkir menguraikan lima kelemahan kesarjanaan Islam kontemporer. Kelima poin ini diambil dari Jasser Auda dalam buku yang berjudul Re-envisioning Islamic Scholarship: Maqasid Methodology as a New Approach.


Pertama, imitasi (taqlid). 


Auda mengajak para sarjana Islam kontemporer untuk berani memposisikan karya-karya intelektual Islam terdahulu sebagai partner diskusi, bukan standar referensi. Setidaknya terdapat tiga implikasi dari imitasi: 1) Absennya pemahaman mengenai etika perbedaan pendapat, karena tidak berani berbeda dengan pendahulu; 2) Mengabaikan normativitas wahyu sebagai kriteria kebenaran ilmu; dan 3) Hilangnya paradigma kritis terhadap sejarah Islam.


Menurut Rofiq, pandangan Auda di atas memperlihatkan dirinya sebagai seorang revisionistik sejati. Seorang revisionis selalu mengajak untuk kembali melakukan interpretasi ulang terhadap Al Quran dan Al Sunah, tanpa harus terbebani pemikiran dari masa lampau. Sayangnya, kalangan revisionis ini tidak selalu menampilkan turast sebagai sumber inspirasi, bahkan seringkali mereka tidak memberikan apresiasi yang memadai.


Kedua, parsialisme (tajzi). 


Salah satu kontributor utama pemikiran parsialistik dalam Islam serta pemikiran manusia secara lebih luas ialah adanya batasan keilmuan yang terlalu sempit dan over-specialism. Misalnya, krisis pandemi Covid-19 hanya dapat didekati melalui lensa medis murni dan berbasis farmasi. Padahal, dampak dari pandemi tidak hanya kesehatan, namun juga politik, sosial, ekonomi, psikologi, pendidikan, dan lain-lain.


Selain itu, pemikiran parsialistik telah sangat diperkuat oleh budaya digital. Mereka saling berbagi informasi yang terfragmentasi dan terlalu disederhanakan. Membaca pemikiran yang kompleks dalam sebuah tweet yang singkat, menyimak gagasan besar hanya dalam potongan video pendek, dan lain-lain.


“Fenomena ini mengurangi rentang fokus pada suatu gagasan dan pemikiran. Akibatnya, banyak remaja muslim yang tidak mampu membaca buku yang berbobot dengan intensitas waktu yang lebih panjang,” ucap anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini di Universitas Muhammadiyah pada Sabtu (11/03/2023).


Ketiga, apologisme (tabrir). 


Para apologis tetap meyakini bahwa Islam memiliki seperangkat pandangan hidup yang komprehensif. Namun, secara tidak sadar, mereka sekadar menampilkan ketundukan pada realitas kontemporer, tanpa visi islami. Terkadang dengan memberikan sentuhan islami pada bagian permukaan, tetapi secara substansial isinya masih berpijak pada asumsi Barat sekuler.


Keempat, kontradiksi (tanaqud). 


Tidak sedikit sarjana Islam kontemporer menggunakan sumber-sumber pengetahuan yang kontradiktif. Auda, kutip Rofiq, menyebut fenomena ini sebagai epistemological schizophrenia: yaitu menggabungkan sumber-sumber pengetahuan yang berasal dari pandangan dunia yang berbeda.


Kelima, dekonstruksionisme (tafkik). 


Dekonstruksionisme dalam disiplin ilmu tidak muncul dari landasan epistemologi Islam melainkan dari cara pandang post-modernisme. Menurut ROfiq, sebagai proyek untuk mengkritisi pemikiran modern, filsafat post-modernisme mengembangkan pemikiran anti otoritas dan kemapanan, delegitimasi, desentralisasi.


Tujuan akhir dari proyek filosofis dekonstruksionis adalah untuk menghilangkan otoritas Firman Tuhan itu sendiri. Contoh dari proyek dekonstruksionisme ialah adanya identitas gender di luar laki-laki dan perempuan atau yang biasa disebut dengan queer. Biasanya, queer adalah istilah umum yang digunakan untuk orientasi dan komunitas bagi mereka yang ada di dalam spektrum LGBT.


Itulah daftar lima kelemahan kesarjanaan Islam kontemporer menurut Jasser Auda yang dikutip Rofiq. Identifikasi kelemahan ini merupakan upayanya untuk menghidupkan kembali tradisi intelektual Islam dengan memposisikan Al-Qur’an dan al-Sunah sebagai sumber ilmu pengetahuan tertinggi. 


Ketiadaan rujukan langsung kepada Al-Qur’an dan Sunnah yang dilakukan sebagian besar sarjana Islam kontemporer sebagai standar dan dasar kritik adalah hal yang ironi.***

Iklan