Gerakan Muhammadiyah dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Notification

×

Iklan

Iklan

Gerakan Muhammadiyah dalam Mitigasi Perubahan Iklim

Kamis, 01 Juni 2023 | 17:58 WIB Last Updated 2023-06-01T10:58:32Z


SLEMAN
– Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan kegiatan Forum Dewan Pakar Lingkungan dengan tema “Peran dan Penguatan Gerakan Muhammadiyah dalam Mitigasi Perubahan Iklim”, Selasa (30/5/2023).


Dilaksanakan secara hybrid berpusat di Ruang Sidang lantai 2 Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta Pusat, acara dibuka oleh Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Anwar Abbas. Ada 150 peserta yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat dari seluruh Indonesia.


Dalam penyampaiannya, Anwar Abbas menegaskan posisi dan pandangan kritis sekaligus positif Muhammadiyah terhadap isu lingkungan, baik yang berskala nasional hingga global. Posisi ini, dia minta untuk dipertegas oleh Majelis Lingkungan Hidup.


“Muhammadiyah sebagai organisasi besar harus memiliki standing position yang memiliki pengaruh besar pada isu lingkungan hidup baik nasional bahkan hingga internasional. MLH PP Muhammadiyah memiliki tanggung jawab besar untuk itu sebagai representasi Muhammadiyah dalam bidang lingkungan hidup,” pesannya.


Dalam rangka menjaga kelestarian lingkungan hidup di lingkup nasional, Muhammadiyah menurutnya memposisikan diri pada pemerintah sebagai mitra dan berpijak pada pedoman nilai Pancasila serta UUD 1945 untuk mengawasi kebijakan-kebijakannya.


Menyahut seruan itu, Ketua MLH PP Muhammadiyah, Azrul Tanjung menegaskan komitmen MLH terhadap gerakan pelestarian lingkungan.


“MLH PP Muhammadiyah memiliki berbagai pakar dan praktisi lingkungan, yang menjadi modal besar gerakan lingkungan hidup Muhammadiyah. Tentu dengan orientasi kelestarian lingkungan,” kata dia. Diskusi ini adalah salah satu komitmen tersebut.


Diskusi Forum Dewan Pakar Lingkungan MLH PP Muhammadiyah ini selanjutnya akan rutin dilaksanakan tiap sebulan sekali. Berbagai pakar lingkungan hidup akan terus dihadirkan dengan komitmen menyebarkan kesadaran lingkungan yang lebih optimal untuk seluruh masyarakat


Sementara itu, para pemateri dalam diskusi kali ini adalah para pakar lingkungan hidup. Antara lain mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S, Guru Besar Universitas Sebelas Maret, Prof. Dr. Ir. Prabang Setyono, M.Si., dan guru besar Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Ir. Susamto W. Somowiyarjo, M.Sc.


Dalam materinya, Prof. Rokhmin Dahuri menjelaskan mengenai kondisi iklim secara global dalam rentang waktu yang lama hingga hari ini. Oleh karena itu, Muhammadiyah dalam rangka memitigasi dan juga mengadaptasikannya dianjurkan melaksanakan tujuh peran, antara lain;


1) Inovasi teknologi ramah lingkungan dan low carbon, 2) Peningkatan kesadaran, 3) Peningkatan Kapasitas, 4) Advokasi di tingkat daerah, nasional, dan global, 5) Advokasi nilai-nilai Islam, 6) Pengembangan pilot project sebagai role models, dan yang terakhir 7) Advokasi good governance dan law enforcement.


Selanjutnya, Prof. Prabang menjelaskan tentang harmonisasi Gerakan Kolektif Kolegial demi Penguatan Muhammadiyah dalam Mitigasi Perubahan Iklim. Cara efektif dalam memitigasi ini adalah dengan meningkatkan “Kesadaran Iklim” berupa local knowledge (pengetahuan lokal), local genius (kecerdasan lokal), dan local wisdom (kearifan lokal).


Adapun Prof. Susamto menekankan implementasi dari pemahaman Gerakan lingkungan yang harus dimulai dari hal-hal kecil, utamanya terkait infrastruktur dan fasilitas publik.


Prof. Susamto juga menyayangkan kurangnya infrastruktur pemerintah dalam mendirikan fasilitas yang ramah lingkungan serta dapat meningkatkan segala aktifitas yang ramah lingkungan. Seperti contohnya pada jalan khusus bagi pesepeda yang terlihat minim. Padahal, sepeda sendiri bisa menjadi alternatif yang baik pengganti kendaraan bermotor yang terus-menerus menyuplai emisi gas beracun dan mengganggu kelestarian lingkungan.


“Terdapat banyak hal sederhana yang bisa kita lakukan bersama, dan itu berdampak besar pada pelestarian lingkungan dan keseimbangan iklim,” pungkasnya.***