Iklan

Iklan

,

Iklan

Haedar Nashir: Mubaligh Muhammadiyah Nggak Boleh Anti Media Sosial!

Redaksi
Sabtu, 15 Juli 2023, 09:19 WIB Last Updated 2023-07-15T02:19:23Z


YOGYAKARTA
– Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Haedar Nashir, M.Si mengatakan, pada era revolusi teknologi, media sosial (medsos) bukan lagi menjadi realitas maya, tapi realitas nyata. 


Ketika realitas kehidupan ini sangat dipengaruhi teknologi dengan segala derivasinya, maka Muhammadiyah tidak akan lepas dari era tersebut. 


Pernyataan Haedar ini terungkap pada saat memberikan amanat dalam rapat kerja nasional (rakernas) Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta, Jumat (14/7/2023).


“Muhammadiyah tidak akan lepas dari era itu (revolusi teknologi) dan harus bisa hidup dengan melahirkan karya kemajuan yang mempengaruhi realitas tersebut, bukan dipengaruhi,” ujar Haedar. 


Oleh karena itu, lanjut Haedar, Muhammadiyah harus adaptif tapi tidak larut di dalam sistem. Khususnya dalam dakwah, Muhammadiyah perlu adaptif dengan memperbanyak mubaligh selain mendalam ilmunya juga keren tampilan dan pembawaan materinya.


“Kita harus adaptif tapi tidak membuat kita larut di dalam sistem,” tuturnya.


Ia menjelaskan, Muhammadiyah sebagai organisasi modern dan maju bisa membangun Indonesia dengan kekuatan yang dimilikinya. “Kemampuan kita mengintegrasikan digital di Muhammadiyah ke dalam kemampuan kepemimpinan,” katanya.


Dengan demikian, ia menambahkan, kemampuan memelihara pola yang sudah dibangun harus dirawat. Dalam hal ini, MPI menjadi organ Muhammadiyah yang bisa mendinasmisasikan dan mengkapitalisasi proses baru di era saat ini. MPI bisa memproduksi berbagai macam konten, sajian dan karya yang bersifat inovatif, inspiratif, informatif bagi ruang publik.


“Kita perlu bikin karya-karya inspiratif. Sekarang ini eranya itu,” kata Haedar.


Sehingga, Muhammadiyah perlu juga melahirkan mubaligh keren untuk anak- anak muda di berbagi platform media terkini. 


“Tampilannya jangan jadul, speaker yang bagus,” katanya.


Dalam pandangan Haedar, mubaligh Muhammadiyah juga harus adaptif dengan tetap pada ruh atau substansi dakwah, tidak terseret arus media sosial. Pesan-pesan agama disampaikan secara keren berbasis kokohnya ilmu pengetahuan.


Media sosial sebagai realitas kehidupan, mubaligh Muhammadiyah tidak boleh mengabaikan atau bahkan anti media sosial. Berbagai platform harus diisi dengan konten-konten positif yang sarat nilai.*** (mhmd)

Iklan