Sunda-Kalapa Jadi Jayakarta

Notification

×

Iklan

Iklan

Sunda-Kalapa Jadi Jayakarta

Kamis, 13 Juli 2023 | 10:02 WIB Last Updated 2023-07-13T03:02:21Z


Oleh: SOPAAT RAHMAT SELAMET,
Sejarawan dan Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung.


JAKARTA - Lima Abad kurang empat tahun yang lalu, 22 Juni 1527. Sultan Hasanudin bin Sunan Gunung Jati (Syarif Hidyayatullah) menyiapkan kekuatan untuk mengusir bangsa Peranggi (Portugis) yang sudah berada di kota Sunda-Kalapa. 


Bukan saja dari Cirebon dan Demak, kekuatan untuk menghadapi dan mengusir mereka didatangkan pula dari kalangan ulama, syekh atau waliyullah lainnya di tatar Sunda saat itu.


Konon selain Ki Mas Jung dan Ki Mas Jo, pula hadir salahsatu teman Kanjeng Sunan Kalijaga yaitu Syech Merah (Syech Merak). Beliau dikenal luas sebagai Syech Jamaluddin Al-Anshari. Waliyullah yang satu ini saat itu berjalan dari arah timur, hingga sempat berdiam di hutan di tengah tanah Pasundan. 


Di lembah yang berada di tengah-tengah yang dikelilingi gunung. Di sinilah beliau menanam pepohon sejenis beringin yang disebut dengan “Kiara”. pepohon Kiara ini tumbuh rimbun di tempat tersebut.


Di sebuah titik dimana tumbuh pohon Kiara yang condong ke arah barat, Jamaluddin al-Anshari–yang kemudian dikenal pula sebagai Syech Kiara–menancapkan tongkat di atas tanah. Sebagai penanda untuk niatnya membangun masjid untuk beribadah kepada Allah.


Ilmu yang populer sebagai ikon-nya Kanjeng Sunan Kalijaga,”tongkat” atau patok itulah sebagai penanda yang kokoh menancap di dalam bumi. Hampir 5 abad usianya, berada dalam tanah di titik tersebut.


Di sinilah kemudian mula awal dikenal daerah hutan belantara dikenal dengan hutan “Kiaracondong”. Hutan yang lekat dengan nama Syech Kiara, seorang waliyullah yang mengembara.


Terpaut jarak terhalang gunung diantara lembah yang kini dikenal sebagai “Bandung” (Bendung), sebelah timur-selatannya dataran lembah seperti ceruk lebih kecil dari lembah “Bandung” pun masih hutan belantara. 


Baru di abad ke-19 awal, dikenal sebagai ibukota baru Limbangan (Garut). Abad 17 masih dikenal sebagai kerajaan Timbanganten, yang runtuh karena guguran letusan gunung gede (Guntur).


Di tepi gunung Guntur inilah sebelah selatannya merupakan pelabuhan pesantren dimana murid-murid dari Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) membuka dan mengembangkan dakwah. Pesantren dan perkampungan tua itu dikenal sebagai Pesantren Tanjung (Tanjungsingguru).


Di antara tokoh pemuka dari pesantren ini adalah Syech Rohmatullah, yang mendapat undangan dari Sultan Maulana Hasanudin (Banten) untuk bergabung dalam kekuatan bersama menghadapi kekuatan asing, bangsa Peranggi (Portugis) yang mengawali untuk menancapkan kekuatannya untuk menguasai sumber ekonomu perdagangan (rempah-rempahan) dari negeri Timur (nusantara). Yang mana pulau Jawa sebagai pusat kekuasaannya. relasi kesultanan di Jawa dengan kesultanan lainnya di pulau luar terjalin kuat, dengan pulau Sumatera, Borneo (Kalimantan), Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan sekitarnya.


Peristiwa 22 Juni 1527 itulah menandai terusirnya bangsa Peranggi (Portugis) yang bersekutu dengan Pajajaran (saat itu). Sehingga mundurlah bangsa Peranggi (Portugis) itu ke bagian atas, ke selat antara Samudera (Sumatera) dan kesultanan Malaka. 


Di kesultanan Malaka inilah mereka bercokol, yang sebelumnya sudah dikuasai mereka sejak tahun 1511. Kemenangan bangsa Muslim yang dipimpin Sultan Maulana Hasanudin–putera Kanjeng Sunan Gunung Jati–serta bantuan dari kesultanan Cirebon dan Demak.


Konon dengan mengutip surat Al-Fath, kalimat fathan mubina (kemerdekaan yang paripurna), nama Sunda-Kalapa itu kemudian diubah namanya menjadi Jaya-karta sebagai terjemahan dari kalimat fathan mubina. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Ilahi rabi atas keberhasilan memperjuangkan Sunda-kalapa bebas dari pengaruh penguasaan bangsa asing pertama (Portugis).


Nama Jaya-karta tersebut di atas memberikan makna bagi kemenangan umat Muslim, yang identik dengan kemandirian hidup, kemerdekaan dari penguasaan asing. Itu bertahan hingga kedatangan bangsa asing (Barat) berikutnya yaitu Belanda, yang mendarat di Banten tahun 1596 dan menguasai Jaya-karta dan mengubah nama tersebut menjadi Batavia sejak tahun 1602. Dengan pemimpinnya Jan Pieter Zoon Coen.


Zaman beralih setelah munculnya bangsa Belanda. Kompeni (serikat dagang bangsa Belanda), singkatan dari Vereeniging Oostdische Company. Sebuah kongsi dagang swasta milik Belanda yang berhasil menduduki (mengkoloni) sejumlah kota pelabuhan di seluruh nusantara, satu per satu ditundukannya. kekuatan ekonomi yang dipersenjatai. 


Politik devide et impera (pecah belah dan kuasai) slogan yang diterapkan kompeni saat itu. nafsu kekuasaan dan egois kedaerah yang ada, menjadi faktor internal keruntuhan para sultan.


Sementara bangsa Belanda dengan kelicikan akal bulusnya, strategi devide et impera berhasil memukul kekuatan muslim dengan senjatanya serta dengan bujukrayu ekonomi (berbagi keuntungan). Maka runtuhlah riwaya kekuatan para sultan di nusantara oleh kekuatan kompeni (VOC), yang diteruskan oleh pemerintah koloni Belanda sejak tahun 1800-1942.,


Spirit kemandirian (kemerdekaan) itu pula yang mendorong bangsa-bangsa Nusantara era modern, sepanjang satu abad setengah berupaya bangkit. terutama sejak awal abad ke-19 para pemuka di luar Jawa dan di pulau Jawa–seperti Pangeran Diponegoro–bangkit menggaungkan harga diri, kemerdekaan umat dan bangsa. 


Ratusan Kiai dan Haji-lah pemuka perlawanan terhadap koloni Belanda di Jawa yang dipimpin Pangeran Diponegoro (1825-1830). lalu perlawanan rakyat Banten, 1888 yang juga dipimpin para pemuka Kiai Haji dan pesantren.


Bahkan pula di awal abad ke-19 perlawanan sering dipimpin para pemuka agama, kiai dan haji. Dampak selanjutnya, pemerintah kolonial Belanda menerapkan para pemuka agama, para Kiai terutama yang sepulang menunaikan ibadah dari Mekah dan Medinah, para jemaah haji itu diwaspadai.


Mereka itulah kemudian diidentifikasi sebagai para pemuka yang harus diawasi. untuk itulah para jemaah haji dari bumi nusantara, atau tanah melayu, dikenal pula sebagai bangsa Jawi; pemerintah Belanda yang membuka konsul di Jedah sejak abad ke19 (terutama setelah kepulangan Snouck Hurgronje) yang memberikan advis supaya mengawasi para haji. 


Para jemaah haji sejak itulah dilabeli dalam data nama-nama jemaah haji dari Melayu, khususnya dari nusantara (yang berpusat di Jawa).***