Memaknai Perintah Iqra!

Notification

×

Iklan

Iklan

Memaknai Perintah Iqra!

Senin, 25 September 2023 | 11:42 WIB Last Updated 2023-09-25T04:43:44Z


Oleh: Prof. KH. Dadang Kahmad
| Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah


BANDUNG — Ada hubungannya antara ayat pertama Al-Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan perlakuan pertama Allah SWT kepada Nabi Adam AS setelah diciptakan.


Ayat pertama Al-Quran diturunkan adalah “iqra” yakni perintah untuk membaca dan perlakuan pertama Allah SWT kepada Adam AS adalah “alama” yang berarti belajar.


Maksud dari kedua peristiwa tersebut adalah sebagai isyarat bahwa kaum muslimin harus menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang modal dasarnya adalah belajar dan membaca.


Bangsa yang mengalami kemajuan dalam penguasaan ilmu pengetahuan adalah bangsa yang menerapkan kebiasaan membaca dan belajar.


Seperti negara-negara di Eropa, Amerika, dan Jepang yang dikenal sebagai negara maju dalam berbagai aspek kehidupan karena mereka berhasil menanamkan kebiasaan membaca dan belajar pada anak-anak mereka.


Sebaliknya, bangsa-bangsa yang tidak berhasil membiasakan rakyatnya membaca dan belajar menjadi negara tertinggal dalam peradaban dan kemajuan zaman.


Salah seorang mualaf dari Amerika Serikat, Jeffrey Lang, mengungkapkan hasil telaah kepada Al-Quran secara mendalam bahwa misi utama diciptakannya manusia adalah supaya manusia menjadi orang terpelajar, cerdas, dan menguasai ilmu pengetahuan.


Dengan kemampuannya itu manusia bisa berperan sebagai khalifah untuk memakmurkan bumi. Dengan ilmu pengetahuan itu juga manusia bisa memilih mana yang benar dan mana yang salah, mana yang baik dan mana yang buruk.


Sayangnya pada kenyataan, kaum muslimin termasuk yang lemah dalam minat membaca dan juga malas buntuk belajar.


Oleh karena itu, masyarakat muslim tertinggal dalam penguasaan dan pengembangan ilmu pengetahuan dibandingkan dengan beberapa masyarakat yang beragama lainnya.


Kebiasaan membaca Al-Quran di kalangan masyarakat muslim tidak otomatis menjadi kebiasaan untuk membaca buku-buku karya ilmuwan. Banyak negara muslim indeks minat baca rakyatnya sangat rendah.


Contoh masyarakat Indonesia yang mempunyai minat membaca yang rendah, menurut UNESCO, hanya 0,001 persen dari jumlah penduduk.


Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assesment (PISA) tahun 2019 juga dikatakan bahwa tingkat literasi Indonesia pada penelitian di 70 negara itu berada di nomor 62, berarti berada pada urutan 10 terendah minat bacanya.


Muhammadiyah sejak awal berdiri menyadari akan perlunya masyarakat untuk melek huruf dan punya minta baca yang tinggi. Oleh karena itu, didirikannya sekolah-sekolah umum dan dibentuknya Majelis Pustaka sejak awal bedirinya yakni pada 1920.


Yang dalam program kerjanya mencetak selebaran-selebaran dan majalah serta buku-buku yang akan disebarkan kepada segenap penduduk.


Dengan adanya Majelis Pustaka dan sekolah menjadi bukti bahwa Muhammadiyah menginginkan masyarakatnya menjadi pembelajar dan sekaligus sebagai pembaca.


Agenda ke depan dari Majelis Pustaka dan Informasi adalah lebih meningkatkan kualitas umat harus melalui revitalisasi lembaga-lembaga yang ada hubungannya dengan peningkatan minat baca dan belajar.


Misalnya penyediaan perpustakaan besar dan lengkap di setiap perguruan tinggi dan sekolah serta mendidikan taman-taman baca di setiap ranting dan cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah.


“… niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman dan di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui dengan apa yang kamu lakukan.” (QS Al-Mujadilah [58]: 11).***


Sumber: Suara Muhammadiyah