Sampah Makanan, Perilaku Mubazir dan Lingkungan Kita

Notification

×

Iklan

Iklan

Sampah Makanan, Perilaku Mubazir dan Lingkungan Kita

Rabu, 06 September 2023 | 14:21 WIB Last Updated 2023-09-06T07:21:08Z


BANDUNG
— Menurut data global, sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang setiap tahunnya. Angka ini begitu mencengangkan, terutama ketika kita mengulas data dari tahun 2000 hingga 2019 yang mencatat antara 23 hingga 48 juta ton makanan terbuang setiap tahunnya di Indonesia, setara dengan 115 hingga 184 kg per kapita, seperti yang dilaporkan oleh Bappenas.


Tahun 2019 sendiri, mencatat angka yang mencengangkan ketika sebanyak 931 juta ton atau setara dengan 17 persen dari total makanan yang dihasilkan terbuang. Bayangkan saja, jumlah ini setara dengan 23 juta truk, masing-masing dengan berat 40 ton. Data ini menyoroti tingginya tingkat pemborosan yang terjadi dalam rantai pasokan makanan kita.


Perilaku Mubazir


Sebagai salah satu negara yang turut berkontribusi dalam masalah pemborosan makanan, Indonesia tercatat sebagai salah satu dari lima besar negara penghasil sampah makanan. Sebuah fakta yang harus menjadi peringatan bagi kita semua.


Dalam Gerakan Subuh Mengaji pada Rabu (30/8/2023), Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat Ayi Yunus Rusyana menyampaikan bahwa untuk mengatasi masalah yang terus berkembang ini, diperlukan upaya nyata untuk menghindari perilaku mubazir dalam pengelolaan makanan. 


Menurut Ayi, langkah pertama yang perlu dilakukan adalah menanamkan pendidikan dasar di keluarga. Keluarga adalah tempat pertama di mana nilai-nilai dan sikap terbentuk. Oleh karena itu, penting untuk mengajarkan kepada setiap anggota keluarga pemahaman bahwa perilaku pemborosan adalah tindakan yang sangat merugikan. Pemborosan makanan adalah setara dengan menghamburkan rezeki yang telah diberikan oleh Allah swt.


Selanjutnya, Ayi mengatakan perlunya membangun rasa simpati dan empati terhadap fakir-miskin yang serba kekurangan. Dengan memahami bahwa makanan yang kita buang dapat membantu mereka yang membutuhkan, umat Islam akan lebih berpikir dua kali sebelum membuang makanan yang masih layak konsumsi.


“Berpandangan bahwa hak orang lain juga terdapat di harta yang dimiliki adalah prinsip yang penting dalam menghindari perilaku mubazir. Ini berarti kita harus berbagi dan memberikan kepada mereka yang membutuhkan,” ucap dosen Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati ini.


Ayi mengajak agar selalu mengingat bahwa semua harta adalah pemberian Allah dan merupakan amanah dari-Nya adalah cara lain untuk menghindari perilaku mubazir. Dengan menyadari bahwa kita hanya menjadi pemegang sementara harta ini, kita akan lebih berhati-hati dalam mengelolanya.


“Akhirnya, kita harus membiasakan diri untuk selalu merasa cukup (qana’ah) sehingga hawa nafsu akan kepemilikan harta bisa terus diredam. Sikap bersyukur atas segala jenis kenikmatan juga akan membantu kita menjaga diri dari sikap mubazir,” ucap Ayi.


Dengan langkah-langkah ini, Ayi optimis dapat bergerak menuju pengelolaan makanan yang lebih bijak dan berkelanjutan, sehingga dapat mengurangi pemborosan makanan yang begitu merugikan bagi masyarakat dan planet bumi.*** (MHMD)