Iklan

UMBandung

Iklan

UMBandung
,

Iklan

Tafsir At-Tanwir, Haedar Nashir: Produk Penafsirannya Harus Mencerahkan

Redaksi
Sabtu, 11 November 2023, 18:06 WIB Last Updated 2023-11-11T11:11:47Z


SURAKARTA
— Muhammadiyah telah mengambil langkah strategis dengan mengadakan Konferensi Mufasir di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Jumat (10/11/2023). Konferensi ini menjadi wadah penting bagi para cendekiawan Muhammadiyah untuk merencanakan penyelesaian Tafsir At Tanwir, sebuah karya yang diharapkan akan memberikan pencerahan dalam memahami Al-Qur’an.


Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dengan tegas mendukung penyelesaian segera Tafsir At Tanwir, penting bagi Muhammadiyah memiliki referensi atau rujukan pemahaman yang lengkap dan menyeluruh terkait tafsir Al Quran.


“Konferensi ini memiliki kejelasan, yaitu mempercepat penulisan Tafsir At Tanwir. Jika Tafsir At Tanwir bisa selesai, maka tidak mengapa tidak melaksanakan yang lain. Satu lagi Kalender Islam Global bisa selesai. Kalau perlu, silahkan studi banding ke Mesir supaya segera terlaksana dan rampung 30 juz,” ucap Haedar.


Haedar Nashir menekankan pentingnya penyusunan tafsir yang tidak hanya dalam kedalaman pemahaman, tetapi juga dalam bahasa yang menarik dan memikat. 


“Tafsir pun harus menarik. Cara menyusun kalimat kalau tidak ahli bakal asal panjang, tapi isinya tidak sampai. Dari tata kalimat harus. Kadang bikin kalimat itu tidak menarik. Diksi yang digunakan harus baik,” ujar Haedar. 


Beliau juga menyarankan agar penulis Tafsir At Tanwir mengambil contoh dari berbagai tafsir klasik dan kontemporer yang sudah ada, seperti karya-karya Hamka, Quraisy Shihab, dan Hasbi Ash-Shiddieq. 


“Ada banyak tafsir klasik dan kontemporer yang bisa dijadikan bagian dari sampel, mana yang menarik dan mana yang tidak,” tambah Haedar.


Haedar Nashir memberikan arahan khusus mengenai kekhasan Tafsir At Tanwir, “Harus betul-betul At Tanwir, benar-benar mencerahkan. Harus menghadirkan pendekatan bayani, burhani, irfani. Kalau hanya bayani, mudah, tidak perlu membuat tafsir. Harus lengkap. Biarpun disusun para penulis yang beragam, mesti menghadirkan tiga pendekatan ini.”


Pentingnya kekhasan ini tidak hanya ditujukan kepada para cendekiawan, tetapi juga kepada pembaca awam. Haedar Nashir menyadari bahwa tugas ini tidak mudah, namun ia yakin bahwa dengan pendekatan yang tepat, Tafsir At Tanwir akan menjadi sumber pencerahan bagi semua lapisan masyarakat.


“Tafsir At Tanwir harus terwujud pada periode ini. Dengan mengucap bismillah kita buka Konferensi Mufasir Muhammadiyah ini secara resmi,” harap Haedar Nashir.


At-Tanwir penting bagi Muhammadiyah


Tafsir At Tanwir menjadi penting karena Muhammadiyah memiliki dasar ajaran yang kuat dalam Al-Quran dan As-Sunnah. Sebagai gerakan dakwah Islam amar makruf nahi munkar dan tajdid, pemahaman Al-Quran melalui tafsir merupakan langkah strategis untuk melaksanakan misi dan tugas gerakan Persyarikatan.


Dalam Konferensi Mufasir Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Surakarta pada Sabut (11/11/2023), Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Syamsul Anwar mengatakan bahwa ada dua corak tafsir di lingkungan Muhammadiyah. 


Corak pertama, Tafsir Tatbiqi, memberikan penekanan pada implementasi ajaran Al-Quran dalam bentuk kegiatan nyata. Sebagai contoh nyata, KH. Ahmad Dahlan menginspirasi tafsir ini melalui tindakan nyata seperti menyantuni fakir miskin dan anak yatim. Tafsir Tatbiqi menggambarkan kesesuaian antara ajaran suci dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.


Corak kedua, Tafsir Maktub, mencerminkan warisan pemikiran yang tertuang dalam tulisan. Salah satu tafsir tertua atau generasi pertama, “Tafsir Al-Qoerän,” selesai hanya dalam 1 juz, menjadi bukti kontribusi tulisan dalam mengartikan Al-Quran di lingkungan Muhammadiyah. Menggunakan sumber-sumber tafsir dari berbagai zaman, tafsir ini menunjukkan keanekaragaman pendekatan dalam menggali pemahaman ajaran suci. 


Misalnya, tafsir ini menggunakan sumber-sumber tafsir cukup banyak, baik yang tua maupun modern. Referensi yang paling tua ialah Tafsīr at-Tusturī, ditulis oleh Abū Muḥammad Sahl Ibn ‘Abdillāh at-Tusturī (w. 283/896). Sementara kitab tafsir paling muda yang menjadi rujukan ialah Jawāhir al-Qurān (1359/1940) dan Tafsīr Al-Manār (1358/1939). Selain itu juga menggunakan sumber-sumber non tafsir seperti kalam, tasawuf, fikih, dan lain-lain.


Tafsir generasi kedua, seperti Tafsir Tematik Al-Quran Tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama, menciptakan ketegangan dan kontroversi di kalangan warga Muhammadiyah. Meskipun ditolak oleh sebagian, tafsir ini memberikan pemahaman mendalam mengenai hubungan antarumat beragama dalam konteks Al-Quran.


“Tafsir generasi kedua ini merupakan tafsir yang cukup kontroversial yang ditolak sebagian warga Muhammadiyah. Terlepas dari itu, ini perlu dibuka lagi bagi yang akan menafsirkan ayat-ayat yang berhubungan dengan antar umat beragam,” ucap Syamsul.


Syamsul mengungkapkan bahwa dalam Tafsir Tematik Al-Quran Tentang Hubungan Sosial Antarumat Beragama ini memuat empat tema utama, di antaranya: Tentang prinsip-prinsip hubungan antar umat beragama; Menjaga hubungan baik dan Kerjasama antar umat beragama; Tentang Ahli Kitab; dan Perkawinan Beda Agama Dalam Al-Quran.


Generasi selanjutnya, Tafsir At-Tanwir, yang masih dalam proses penyusunan, diarahkan sebagai tafsir tahlili kum tematis dari al Fatihah hingga Al-Nas. Tahlil kum tematis adalah pendekatan dalam penafsiran Al-Quran yang fokus pada analisis tema atau isu tertentu yang merentang dari surah Al-Fatihah hingga Al-Nas. Dalam konteks Tafsir At-Tanwir, pendekatan ini bertujuan untuk menggali makna dan petunjuk Al-Quran terkait tema-tema spesifik secara mendalam.


Dengan pendekatan tahlili kum tematis, tafsir ini menetapkan empat etos, yaitu 1) etos ibadah, yakni membangkitkan ibadah spiritual sekaligus sosial; 2) etos ekonomi, yakni hendaknya menjadikan manusia berdisiplin, menghormati waktu, bekerja profesional, tidak menjadi manusia yang merugi, dan lain-lain; 3) etos sosial, yakni menyemarakkan infak, zakat, hibah, wakaf dan lain-lain dengan berprinsip pemberdayaan sosial; dan 4) etos keilmuan, yakni menggairahkan kembali wacana keilmuan di antara kaum beriman.


Sesuai namanya, At-Tanwir diharapkan menjadi oase yang mencerahkan, mengiringi agenda pencerahan yang menjadi fokus Muhammadiyah di abad kedua. Proyek menggarap Tafsir At-Tanwir lengkap 30 juz ini dicanangkan akan selesai tahun 2027 mendatang sebagai kado 1 abad berdirinya Majelis Tarjih dan Tajdid. Sejak 2018 hingga saat ini, Tafsir At-Tanwir menjadi bahasan tema bersambung “Pengajian Tarjih” pada setiap Rabu malam.***(MHMD)

Iklan