Ilmiah BerMuhammadiyah

Notification

×

Iklan

Iklan

Ilmiah BerMuhammadiyah

Jumat, 08 Desember 2023 | 12:32 WIB Last Updated 2023-12-08T05:32:17Z


JAKARTA
-- Dalam buku bertajuk Ilmu Amaliah Amal Ilmiah kumpulan gagasan karya Djazman Al-Kindi,  pendiri Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan tokoh kunci pendirian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), mengurai banyak hal salah satu  yang menarik tentang pentingnya kader permasyarikatan untuk berpikir, bergerak berkemajuan. 


Hidup harus memiliki ilmu agar bermanfaat, dengan tetap bersandar kepada keilmiahan untuk melintasi zaman ketika ilmu tersebut dibagikan/ditransfer ke orang lain.


Walau tidak pernah bersua, membaca ide brilian Djazman Al-Kindi, membuat siapapun bagian dari persyarikatan Muhammadiyah-'Aisyiyah akan belajar dan kembali tersemangati. 


Beliau dikenal sebagai bapak pengkaderan yang telah terbukti memberikan arah baru di persyarikatan dengan mendirikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). IMM merupakan kumpulan para akademisi muslim yang berakhlak mulia, berintegritas untuk mencapai tujuan muhammadiyah, IMM berdiri pada tanggal 14 Maret 1964 M/ 29 syawal 1384 H di Yogyakarta.Keberadaan IMM menjadi pelengkap keberadaan pendidikan Muhammadiyah yang bertujuan mencerahkan.


Memang sangat perlu penerus estafet perjuangan organisasi dengan mainstream berkemajuan untuk selalu me-recharge energi agar tetap awet berjuang, kembali menemukan ide dan gagasan segar agar dapat terus memberikan hal baik. 


Djazman Al-Kindi adalah sosok revolusioner Muhammadiyah pada zamannya, manfaat ide dan gerakan yang ia cetuskan telah melampaui ekspektasi yang mungkin di awal diniatkan. Namun kerja ikhlash dan berharap hanya kepada Allah SWT, membuat apa yang ia usahakan untuk menjaga dan mencetak generasi Rabbani Muhammadiyah hingga detik ini masih terjaga dan dilanjutkan oleh generasi sesuai zamannya. 


Muhammadiyah Gerakanku


Usia Muhammadiyah tidak lagi muda, telah 111 tahun menurut perhitungan masehi. Namun lihatlah gerakan, inovasi dan gebrakan para kader militan yang ada dipenjuru negeri, lihatlah ketulusan mereka yang tidak perlu pengakuan, pujian hingga tanda jasa, para pejuang tersebut meyakini biarlah Allah yang menilai, sebab semua pun akan kembali padaNya jua.


Berbagai inovasi dan gerakan yang dilakukan oleh para kader militan Muhammadiyah adalah sebuah kecintaan yang tidak biasa. Ia tumbuh dan besar karena diselimuti keyakinan, keikhlasan kepada Allah SWT.


Pertanyaannya apakah gerakan tersebut dapat terjaga sepanjang masa? atau akankah selalu ada inovasi tiap generasi yang bisa dibangun untuk melengkapi/melingkupi kebutuhan manusia yang tidak terbendung? 


Dua pertanyaan yang menurut penulis sederhana tetapi sangat sulit dijawab sebab diakui atau tidak, pengkaderan masih menjadi masalah krusial di Muhammadiyah-'Aisyiyah. Maka penguatan ketahanan berMuhammadiyah harus menjadi perhatian utama oleh seluruh pimpinan dari tingkat pusat hingga ranting. 


Memahami ideologi, khittah dan ciri khas gerakan harus dipahami dan diamalkan oleh warga persyarikatan. Muhammadiyah adalah gerakan Islam, gerakan dakwah Islam amar ma'ruf nahi munkar dan gerakan tajdid.


Mengenal Muhammadiyah 


Mengenal seperti apa Muhammadiyah, bagaimana gerakannya yang telah melintasi zaman, dapat dilihat dan terukur dari banyak tokoh yang hidupnya berMuhammadiyah, dengan amal ilmiah sepanjang hidupnya. 


Walaupun demikian apakah seluruh kader memahami doktrin berMuhammadiyah? Atau melaksanakan keputusan yang telah ditetapkan oleh pimpinan pusat Muhammadiyah? Jawabannya tentu saja tidak. Muhammadiyah seperti organisasi lain juga mengalami pasang surut dalam dinamika pergerakan. 


Serupa dengan organisasi lain yang masih ada pimpinan yang kurang ghirah untuk membesarkan, egoisme mendominasi segelintir orang dalam berorganisasi atau karena tidak memahami bagaimana berMuhammadiyah yang ilmiah. 


Orang-orang ini walaupun ada ditubuh Muhammadiyah-'Aisyiyah, tetapi tidak dapat menggrogoti semangat kader militan lainnya, mereka malah lebih dulu tersisih. Bahkan ada diantara mereka yang akhirnya ikut menjadi pejuang militan karena bertemu dengan kader yang mampu mengayomi dengan sikap dan tutur kata. 


Fenomena menarik yang menurut penulis unik ada di suatu organisasi, karena biasanya organisasi akan turun kelas jika ada anggota demikian, tetapi hal ini tidak berlaku di organisasi berkemajuan yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan. 


Penulis: Amalia Irfani

LPPA PWA Kalbar