Iklan

UMBandung

Iklan

UMBandung
,

Iklan

Dadang Kahmad: Al-Quran Inspirasi Perubahan Masyarakat dari Jahiliyah ke Modern

Redaksi
Kamis, 28 Maret 2024, 20:52 WIB Last Updated 2024-03-28T13:52:29Z


JAKARTA —
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan bahwa turunnya Al-Quran sebagai mukjizat untuk Nabi Muhammad SAW menjadi petanda dari perubahan pola pikir masyarakat dari yang jahiliah menjadi masyarakat modern.


Dadang mengatakan hal tersebut saat peringatan Nuzulul Qur’an di Masjid At Tanwir PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya Nomor 62, Jakarta Pusat, pada Selasa lalu.


Kata Dadang, Al-Quran berbeda dengan mukjizat-mukjizat yang diterima oleh nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.


“Al-Quran sebagai mukjizat ini mendorong manusia dalam menggunakan akal untuk mengembangkan sains,” katanya.


Guru Besar Sosiologi Agama UIN Bandung ini mencontohkan, bukti dari yang dia sampaikan itu ada dalam Al-Quran surah Al-Alaq ayat 1 tentang perintah untuk membaca.


Membaca atau literasi tersebut, tambah Ketua Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Bandung ini, menjadi pondasi awal untuk orang berpengetahuan.


“Ayat pertama padahal itu sangat kunci dalam kehidupan ini, zaman modern seperti sekarang. Ini disuruh oleh Allah SWT untuk membaca,” tutur Dadang.


Perintah membaca ini tidak dikhususkan hanya kepada Nabi Muhammad SAW. Namun, merupakan perintah yang umum untuk seluruh umat Islam.


Namun, sangat disayangkan karena dalam praktiknya, kata Dadang, umat Islam di Indonesia khususnya memiliki daya literasi yang rendah.


Tinggi ataupun rendahnya peringkat literasi, ujar Dadang, berpengaruh kepada kualitas ilmu pengetahuan.


Hal itu dapat disaksikan dari negara-negara modern dan maju di dunia yang rata-rata tingkat literasinya tinggi.


“Padahal, iqra itu bukan hanya diturunkan tanpa sengaja oleh Allah SWT. Betul-betul diturunkan untuk generasi modern sekarang,” ungkap Dadang.


Al-Quran sebagai mukjizat ini, kata Dadang, sangat rasional dan dapat dipelajari oleh semua orang. Hal itu berbeda dengan mukjizat dari nabi-nabi sebelumnya yang khawariqul adah atau mukjizat di luar kebiasaan atau di luar nalar.


Alasan Al Quran Diturunkan secara Bertahap


Jangka waktu turunnya Al-Quran dihitung berdasarkan masa hidup Nabi Muhammad SAW. Beliau dianugerahi kenabian pada usia 40 tahun dan meninggal pada usia 63 tahun. Pada periode 23 tahun inilah umat manusia diberkati dengan wahyu Al-Quran.


Muncul pertanyaan mengapa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap, dan tidak sekaligus. Faktanya, para penentang dakwah Nabi Muhammad Saw di Makkah juga mengajukan pertanyaan ini. Oleh karena itu, marilah kita menganalisis alasan-alasan turunnya Al-Qur’an secara bertahap.


1. Respon terhadap Situasi Tertentu


Nabi Muhammad Saw bersama para pengikutnya menghadapi berbagai kesulitan dan ketidakpastian dalam perjuangan dakwa Islam. Dari penganiayaan di Makkah yang sangat politeistik hingga pendirian komunitas Muslim di oasis Madinah, mereka menghadapi berbagai jenis masalah agama, sosial, politik, ekonomi, dan militer. Oleh karena itu, bimbingan Ilahi diperlukan untuk mengatasi masalah-masalah khusus yang dihadapi umat Islam awal.


2. Jawaban atas Pertanyaan dan Keraguan


Ketika Nabi Muhammad Saw berdakwah untuk beribadah hanya kepada Allah dan memproklamirkan kenabiannya sendiri, orang-orang mengajukan berbagai pertanyaan, argumen, dan tantangan yang perlu dijawab. Orang-orang yang lebih terpelajar akan bertanya kepadanya tentang peristiwa-peristiwa sejarah dan tokoh-tokoh yang mereka rasa tidak mungkin diketahui olehnya. Oleh karena itu, bimbingan ilahi diperlukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.


Dalam Al Quran disebutkan: “Dan mereka (orang-orang kafir itu) tidak datang kepadamu (membawa) sesuatu yang aneh, melainkan Kami datangkan kepadamu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS. Al Furqan: 33).


3. Bertahap dalam Menegakkan Hukum Allah


Beberapa prinsip dan hukum yang diturunkan Allah dilaksanakan secara bertahap untuk memudahkan masyarakat. Sebagai contoh, alkohol sangat populer di masyarakat Arab pra-Islam; oleh karena itu, pelarangannya diterapkan dalam tiga tahap untuk membantu masyarakat menerima hal tersebut:

Ayat pertama yang melarang salat dalam keadaan mabuk: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengerjakan salat dalam keadaan mabuk,


Ayat kedua, yang diturunkan setelah beberapa waktu, menunjuk pada bahaya yang terkait dengan minuman keras: “Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan perjudian. Katakanlah, ‘Di dalamnya terdapat dosa yang besar dan ada manfaatnya bagi manusia. Namun dosa mereka lebih besar dari manfaatnya.’” (QS. Al-Baqarah: 219).


Ayat terakhir sama sekali melarang minuman beralkohol: “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji (dan) termasuk perbuatan setan. Maka, jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.” (QS. Al-Ma’idah: 90).


4. Menguatkan Mental Kesiapan Rasulullah


Jeda antar wahyu yang turun diperlukan untuk memastikan bahwa Nabi Muhammad Saw dan para sahabat siap menerima, menyebarkan, dan bertindak berdasarkan setiap rangkaian ayat berikutnya. Terlebih lagi, turunnya Al-Qur’an secara sebagian juga memperkuat tekadnya untuk menghadapi segala kesulitan yang ada.


Dalam Al Quran disebutkan: “Dan orang-orang kafir berkata, “Mengapa Al-Qur’an itu tidak diturunkan kepadanya sekaligus?” Demikianlah, agar Kami memperteguh hatimu (Muhammad) dengannya dan Kami membacakannya secara tartil (berangsur-angsur, perlahan dan benar).” (QS. Al Furqan: 32).


5. Memperkuat Pesan Al-Quran


Sebuah pesan yang diperkuat selama bertahun-tahun melalui pengingat yang terus-menerus kemungkinan besar akan memiliki dampak yang jauh lebih besar dibandingkan pesan serupa yang hanya disampaikan satu kali saja. Oleh karena itu, turunnya Al-Quran dalam porsi tertentu menghidupkan kembali keimanan umat Islam awal yang menghadapi tekanan besar dari masyarakat untuk kembali ke jalan musyrik.


Perintah yang diulang-ulang dalam Al-Qur’an untuk tidak mempersekutukan Allah memungkinkan umat Islam untuk lebih kuat menegakkan Tauhid. Orang-orang beriman juga diingatkan oleh Allah, melalui wahyu-wahyu yang berturut-turut, untuk merenungkan alam semesta dan banyaknya tanda-tanda-Nya di dalamnya, guna mencapai keimanan yang lebih dalam.


6. Memudahkan Belajar Al-Quran


Turunnya Al-Qur’an secara bertahap memungkinkan Nabi Muhammad Saw dan para pengikutnya lebih mudah menyampaikannya kepada orang lain. Selain itu, beberapa umat Islam awal mampu menghafal seluruh Al-Quran yang terbukti sangat membantu pada saat kompilasi resminya dalam bentuk kitab utuh setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw. Jika seluruh Al-Quran diwahyukan sekaligus, orang-orang mungkin akan kesulitan memahami bahkan ajaran dasarnya.


Dalam Al Quran disebutkan: “Dan Al-Qur’an (Kami turunkan) berangsur-angsur agar engkau (Muhammad) membacakannya kepada manusia perlahan-lahan dan Kami menurunkannya secara bertahap.” (QS. Al-Isra: 106).


7. Bukti Al-Qur’an adalah Wahyu Allah


Salah satu bukti asal muasal Al-Qur’an adalah meskipun diturunkan dalam kurun waktu 23 tahun, namun tidak ada inkonsistensi di dalamnya. Jika Al-Qur’an adalah hasil karya manusia, pasti ada kontradiksi dalam isinya. 


Allah berfirman, “Maka tidakkah mereka menghayati (mendalami) Al-Qur’an? Sekiranya (Al-Qur’an) itu bukan dari Allah, pastilah mereka menemukan banyak hal yang bertentangan di dalamnya.” (QS. Al-Nisa :82). Keajaiban Al-Quran ini tidak akan terwujud jika diturunkan sekaligus.***

Iklan