Iklan

Iklan

,

Iklan

Model Dakwah Efektif untuk Generasi Milenial dan Gen Z

Redaksi
Kamis, 21 Maret 2024, 10:51 WIB Last Updated 2024-03-21T03:51:34Z


YOGYAKARTA –
Daí Muda Muhammadiyah Irfan Rizki Haas mengatakan bahwa ciri-ciri seseorang yang bertakwa ialah yang suka dan gemar dengan dakwah. Irfan menyebutkan salah satu platform untuk berdakwah yang saat ini digemari oleh masyarakat ialah media sosial.


Hal ini sejalan dengan data yang mengungkapkan bahwa Indonesia menjadi negara yang penduduknya paling lama menggunakan internet di dunia pada tahun 2022 yakni 5,7 jam per hari. Dan fungsi utama smartphone berdasarkan data disebutkan 59 persen digunakan untuk browsing internet, khususnya media sosial.


Irfan menyebutkan, berdasarkan fakta tersebut maka model dakwah yang saat ini digemari oleh masyarakat khususnya pada kelompok generasi milenial dan generasi z ialah dakwah yang efektif, efisien, dan hemat.


“Generasi saat ini menyukai dakwah yang memiliki powerfull narasi dan ucapan. Dan dari berbagai platform  media sosial yang paling tinggi digunakan ialah tiktok, instagram, dan youtube,”jelas Irfan dalam Pengajian Ramadan 1445 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Sabtu (16/3/2024) bertempat di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). 

 

Melihat fenomena tersebut, Irfan mengajak kader-kader muda Muhammadiyah untuk berperan aktif dan menyemarakkan dakwah Muhammadiyah di media sosial. Salah satunya yang dapat dilakukan yakni memproduksi konten video ceramah singkat yang kemudian dapat diupload di media sosial.


“Jika satu Pimpinan Ranting saja dapat memproduksi lima konten video per harinya maka Muhammadiyah akan mewarnai ribuan konten dakwah di media sosial, belum lagi melalui jalur ortom dan juga Amal Usaha Muhammadiyah,”jelas Irfan.


Selain soal jumlah konten, Irfan juga menegaskan bahwa diperlukan isi dakwah yang sesuai dengan zamannya.


“Generasi milenial dan generasi z saat ini haus akan konten-konten dakwah, dan Muhammadiyah harus mengambil peluang tersebut,”ujar Irfan.


Kekhawatiran Generasi Milenial


Prof Ahmad Najib Burhani Wakil Ketua Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengatakan bahwa generasi milenial saat ini digambarkan sebagai sosok dengan nilai-nilai kosmopolitan yang terbuka dengan perbedaan dan meyakini nilai kemanusiaan yang universal.


“Generasi milenial saat ini percaya bahwa gagasan yang baik dapat diambil dari mana saja terlepas dari akar-akar primordialnya,”tutur Najib dalam Pengajian Ramadan 1445 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Sabtu (16/3/2024) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).


Najib juga mengungkapkan bahwa generasi milenial saat ini berada pada kondisi prime atau masa terpenting dari karir dan kehidupannya yang merupakan penentu bagi masa depan bangsa ini.


“Generasi milenial berada di tampuk kepemimpinan pada sejumlah bisnis, budaya, ekonomi, dan tentunya politik. Namun mereka ini adalah kelompok yang paling sering tak dipahami atau disalahpahami, terutama oleh generasi yang lebih tua. Inilah yang sering disebut sebagai “intergenerational gap”,”jelas Najib.


Najib menyebutkan terdapat tiga fenomena yang menyebabkan “intergenerational gap”antara generasi muda dengan generasi tua, yakni perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, keterhubungan dengan dunia luar yang menjadi tak terelakkan, dan juga fungsi internet yang tidak hanya membuat orang mendapatkan informasi secara instan, dan bahkan akhirnya kebanjiran informasi (infodemic).


“Karena saat ini banyaknya informasi yang ada atau istilahnya banjir informasi maka yang viral itu lah yang dianggap benar,”ungkap Najib.


Seharusnya dengan derasnya informasi atau berita yang masuk, baik dari kelompok generasi tua dan generasi muda harus memunculkan daya kritis terhadap informasi atau berita yang diterima. Melihat fenomena tersebut, Najib berharap dakwah Muhammadiyah dapat berperan aktif untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat, memberikan pencerahan, dan menyesuaikan segmentasi dakwah.


Bersinggungan dengan tema pengajian “Memahami Perilaku Sosial dan Keagamaan Kalangan Millenial dan Gen-Z”, Najib menyebutkan bahwa secara psikologis kaum muda milenial masih berada pada fase peralihan dan memiliki banyak kerentanan.


“Generasi milenial itu sudah bukan anak-anak, tapi belum dewasa. Istilahnya adolescence. Fase ini ditandai oleh adrenalin yang gampang naik,”jelas Najib.


Selain itu, generasi milenial memiliki pola berpikir yang kadang pendek dan sempit. Bahkan karena mengedepankan rasa jaim (jaga image), kelompok milenial ini jadi mudah diprovokasi.


“Secara fisik kaum muda milenial masih kuat jadi suka akan petualangan, dan kelompok ekstrimis mengetahui kalau mereka terekrut bisa jadi laskar mereka. Makanya jarang kelompok ekstrimis mengincar generasi tua, umumnya kaum muda milenial,”jelas Najib.


Secara keagamaan, Najib mengungkapkan bahwa kaum muda milenial mulai mencari dan menyadari makna hidup. Dan secara sosiologis, kaum muda milenial itu pada dasarnya butuh teman, butuh perhatian dan kadang-kadang menyukai sesuatu yang heroik.


“Dalam kondisi seperti itu kalau mereka (generasi milenial) ketemu perekrut ekstrimis bisa jadi sasaran empuk. Tinggal kasih perhatian dan dibesarkan hatinya, maka melelehlah jiwa muda milenial mereka. Ini lalu jadi starting-point atau titik awal untuk memanfaatkan mereka sebagai laskar dan atau martir kelompok ekstrimis,”tutur Najib.


Kedekatan generasi milenial dengan internet juga menjadi kekhawatiran tersendiri pada generasi ini.


“Kelompok milenial intensitas main internetnya tinggi. Masalahnya literasi digital mereka kadang-kadang belum bagus dan internet banyak menarik mereka ke dalam ruang yang sangat private (susah dikontrol dan diawasi). Di sinilah internet menjadi media strategis dan efektif kelompok ekstrim untuk propaganda ideologi mereka dan juga merekrut kaum muda milenial,”jelas Najib. ***

Iklan