Iklan

UMBandung

Iklan

UMBandung
,

Iklan

Muhammadiyah, Persija dan Otto Iskandardinata

Redaksi
Selasa, 09 April 2024, 12:52 WIB Last Updated 2024-04-09T05:52:30Z


Oleh: Sopaat Rahmat Selamet, S.Hum, M.Hum
| Dosen UM Bandung


JAKARTA -- Muhammadiyah sejak awal mula begitu peduli terhadap semangat anak muda. Hobi kegemaran anak muda pada zamannya disikapi dengan bijak. Maka kelahiran Panvinder Moehammadijah tahun 1918 yang kemudian dikenal sebagai Hizbul Wathan (HW) bukti kepedulian KHA Dahlan terhadap kaderisasi. Strategi pemberdayaan manusia dari berbagai aspek kehidupan.


Maka tidaklah heran di Kauman, Yogyakarta, bertumbuh kegemaran anak muda, Sepakbola. sekitar tahun 1915 di Kauman berdiri Kauman Vootball Club 21 (KVC). Klub sepakbolal ini dipimin Djabir, anggotanya warga Kauman dan serdadu Belanda yang bermarkas di Pracimarsono. Kraton Yogyakarta.


Sebentar saja KVC mengalami surut. Beberapa waktu kemudian organisasi kepemudaan Muhammadiyah, Hizbul Wathan (HW) tumbuh tahun 1918.


Pada tahun 1920 HW membentuk klub sepakbola HW, dipimpin Djaziri dan Djili. Demikian mengutip Sejarawan Kauman, Ahmad Adaby Darban (2000:65).


Selain HPS HW, dibentuk pula Muhammadiyah Vootball Club (MVC), dipimpin Dalhar B,K.N dan Hadi. Kedua perkumpulan sepakbola itu milik Muhammadiyah, bukan milik khusus warga Kauman.


Dalhar BKN ini, seorang guru Muhammadiyah yang dikagumi oleh Ir. Ahmad Noeman, Arsitek Masjid Salman ITB), yang juga hoby main sepakbola, saat sekolah di Muallimin Yogyakarta di tahun 1940-an. Demikian penuturan langsung Arsitek Masjid Salman itu kepada penulis sekitar tahun 2009-2010.


Selanjutnya di kota Yogyakarta, dikenal lapangan sepakbola Mandala Krida, yang menjadi pusatnya klub Sepakbola Mataram, PSIM.


PSIM Yogyakarta tidak bisa dikesampingkan dalam perkembangan sepak bola di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. PSIM merupakan pionir bagi persepakbolaan di wilayah kerajaan Mataram. Nama PSIM Yogyakarta begitu melegenda sebagai klub besar dan penuh sejarah di DIY.


Sejarah terbentuknya PSIM dimulai pada 5 September 1929 dengan lahirnya organisasi sepak bola yang diberi nama Perserikatan Sepak Raga Mataram atau disingkat PSM.


Nama Mataram berasal dari keberadaan Yogyakarta yang merupakan pusat kerajaan Mataram. PSM kemudian berubah menjadi PSIM yang merupakan singkatan dari Perserikatan Sepak Bola Indonesia Mataram, yang bertahan sampai saat ini.


PSIM menjadi identitas kekuatan sepak bola di DIY, jauh sebelum lahirnya tim-tim di wilayah sekitarnya. Dengan warna kebesaran biru, PSIM pernah menjadi kekuatan besar sepak bola Indonesia, terutama saat kompetisi era perserikatan.


Tim yang berjuluk Laskar Mataram dan Naga Jawa ini mengalami periode naik turun. Persoalan klasik tim era perserikatan yang berkaitan dengan pendanaan, membuat PSIM lebih lama berada di kasta kedua, meski perjuangan kembali ke masa kejayaan nyaris berhasil.


Keberadaan PSIM tak bisa dipisahkan dari lahirnya organisasi sepak bola Indonesia yakni PSSI pada 1930. Satu tahun setelah PSIM terbentuk, PSSI lahir di Yogyakarta, yang ikut diinisiasi oleh enam tim legendaris lainnya, yaitu Persija Jakarta, Persis Solo, Persib Bandung, PSM Madiun, PPSM Magelang, dan Persebaya Surabaya.


Dicetuskannya PSSI tak lepas dari pertemuan yang digelar di Yogyakarta pada waktu itu. Perwakilan dari tiap-tiap Bond atau klub sepak bola di masa itu menyumbangkan gagasan dan ide hingga lahirnya PSSI, yang pertama kali dipimpin Soeratin Sosrosugondo.


Sebagai buktinya monumen PSSI atau dikenal juga dengan wisma Soeratin masih berdiri kokoh di Jalan Mawar Kota Yogyakarta, hanya beberapa meter dari Stadion Mandala Krida. Bangunan yang penuh sejarah, sebagai saksi biksu lahirnya PSSI.


PSIM sebagai sebuah warisan bersejarah, menjadi hal yang membanggakan terutama bagi wilayah Kota Yogyakarta. Slogan Tansah Bungah Marang Warisane Simbah, selalu menjadi semboyan bagi jiwa muda di Kota Gudeg akan keberadaan PSIM.


Slogan yang mengandung arti selalu bangga dan gembira dengan apa yang sudah diwariskan pendahulu. PSIM yang penuh sejarah selayaknya wajib dijaga dan diirawat oleh para penerusnya, baik pemerintah daerah, manajemen klub, skuad, hingga para pendukungnya.


PSIM sudah eksis saat kompetisi sepak bola Indonesia untuk pertama kalinya bergulir pada era 1930-an. Dengan format kompetisi masih bernama Perserikatan, PSIM pernah mencicipi gelar juara pada edisi 1932.


PSIM mengungguli Persija Jakarta pada laga final. Sekaligus menjadi satu-satunya gelar juara yang pernah direngkuh oleh PSIM pada era perserikatan.


Beberapa tahun sebelum lahir PSSI oleh Soeratin. Seperti di Jogyakarta muncul PSIM September 1929, di Bandung cikal bakal Persib muncul, Persebaya Surabaya, PPSM Magelang, Persis Solo, PSM Madiun, enam klub legendaris. Di kota Jogyakarta lah dimulai rencana pembentukan PSSI. Perwakilan tiap-tiap Bond atau klub sepak bola masa itu menyumbangkan gagasan dan ide hingga lahirnya PSSI, yang pertama kali dipimpin Soeratin Sosrosugondo.


Jejak bersejarah ini masih bisa kita temui kalau jalan-jalan ke pusat kota Jogyya menelusuri jalan Gondosuli, sebelah timur masuk Jalan Mawar, tepat di belakang Stadion. Berdiri Wisma Soeratin, hanya beberapa meter dari Stadion Mandala Krida.


Tahun 1930-an itulah bergulir kompetisi sepakbola yang dikenal populer sebagai zamannya Perserikatan, belum disebut Liga. Pada tahun 1932 PSIM menjadi juara mengungguli Persija di laga Final. (Dikutip dari:Gia Yuda Pradana, “PSIM Yogyakarta: Kiprah Klub Legendaris dari Tanah Mataram, ” 5 Juli 2020 Bola.com)


Menarik dicermatik, dari mana narasi atau diksi “Perserikatan” itu muncul? Tampaknya istilah ini hanya muncul di zaman pergerakan (perjuangan), seperti halnya munculnya Sarikat Islam, dan Persarikatan Muhammadiyah (lihat AD ART Moehammadijah awal), Muhammadiyah itu secara lengkapnya dinamakan Persarikatan Moehammadijah.


Adakah hubungan antara Muhammadiyah dengan PSSI, dengan diksi Perserikatannya? Boleh jadi. Kabarnya kader-kader Muhammadiyah pun gemar dalam olahraga sepakbola baik di PSHW ataupun MVC di tahun 1920-an. Konon PSIM itu sendiri masih memiliki keterkaitan dengan kader Muhammadiyah yang suka sepakbola.


“Persija” dan Muhammadiyah?


Sementara itu di Jakarta, tak jauh dari Sumpah Pemuda 1928, keberminatan angkatan muda pada sepakbola muncul. Voetbalbond Indonesische Jacatra,VIJ lahir dari dua ide ketua dua klub bernama klub STER dan klub Setiaki. A. Alie dari STER dan Soeri dari Setiaki mempunyai keinginan membuat bond yang khusus untuk para pesepak bola dan klub lokal di Batavia.


Dalam rapat-rapat pendirian bond itu, A. Alie dan Soeri tak sendiri merumuskan ide tersebut. Akhirnya Alie mengundang Batamsche Studeendeu dan Persatoean Medan Sport (PMS) yang diwakili A. Hamid dan A. Gaul.


Mengutip Ario Yosia (20 Nov 2015),” Persija-Muhammadiyah” dalam bola.com:


Tujuan lain dari pembentukan bond tersebut adalah menjadi wadah persatuan klub-klub lokal yang sudah banyak tersebar di Batavia (nama lama Jakarta).


Sekaligus menjadi salah satu alat perjuangan menuju kemerdekaan melalui jalur sepak bola yang kian populer di berbagai penjuru Nusantara.


Propaganda-propaganda VIJ tak pernah berhenti. Usaha keras Soeri dan Soekardi bertemu Ir. Soeratin di Jakarta pada bulan Oktober 1929 menimbulkan suatu pergerakan baru: Indonesia merdeka lewat sepak bola!


Selain itu, lewat rapat propaganda di gedung sekolah Muhammadiyah Kramat, Batavia-Centrum (kini Jakarta Pusat), tanggal 20 Oktober 1929 yang juga dihadiri Otto Iskandardinata, makin memantapkan organisasi VIJ di tanah sendiri, yaitu tanah Betawi.


Rapat tertanggal 20 Oktober 1929 yang dihadiri Mohammad Hoesni Thamrin, dan pendiri VIJ, Soeri adalah wujud Muhammadiyah membantu perjuangan Bangsa Indonesia melawan penjajah lewat sepak bola.


Di Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), Otto tidak masuk dalam jajaran pengurus, melainkan bergerak mandiri dengan mengelola Majalah olahraga yang aktif memberitakan kegiatan PSSI sejak 1930 dengan bumbu nasionalisme.


Gedung Sekolah AMS Moehammadijah sendiri sudah berdiri sejak tahun 1926 dan Otto Iskandar Dinata sebagai Guru dan Kepala Sekolahnya. Bahkan dikemudian waktu ia yang mengajak Ir.Juanda supaya gabung menjadi guru di AMS Muhammadiyah, yang berlokasi di jalan Kramat Raya No.49 kawasan Senin Jakarta Pusat tersebut.


Kini Gedung Sekolah itu menjadi SMA Muhammadiyah 1 Jakarta.


Otto Iskandar Dinata sendiri, tokoh perjuang pergerakan nasional asal Bojongsoang Bandung, Lahir 31 Maret 1897. Menjelang tahun 1928, dirinya berusia 30 tahun. Otto bergabung dengan Muhammadiyah dan menjadi guru SMA Algemene Middelbare School (AMS) Muhammadiyah di Jalan Kramat Raya 49.


Otto Iskandar Dinata dan Hobby Sepakbola


Orangtua Otto Iskandar Dinata adalah Nataatmaja dan Nyi Raden Siti Hatijah. Sepulang haji ayahnya berganti nama menjadi Haji Adam Rachmat dan sebagai kepala Desa Bojong Soang. ia memiliki dua saudara: Ating Atmadinata dan Pandu Prawiradinata. Otto sendiri adalah anak yang ketiga dan yang bungsu.


Sepak bola atau bola kaki ialah cabang olah raga yang paling disukainya. Otto Iskandar Dinata itu memperkuat kesebelasan sekolahnya. Ia sering bertanding melawan kesebelasan sekolah lain.


Sebelumnya Otto Iskandar Dinata sendiri menimba relasi intelektualnya dengan sekolah di Sekolah Guru di Bandung (1917), kemudian di Purworejo sampai lulus tahun 1920. Kemudian bertugas sebagai guru di Banjarnegara dan Pekalongan. Bahkan berkenalan dengan muridnya, Raden Ajeng Sukriah, putri asisten wedana di Banjarnegara.


Mereka harus dipisahkan jarak, karena Otto Iskandar Dinata dipindahkan ke Bandung pada tahun 1921.  Mereka saling berhubungan dengan perantara surat-menyurat. Pada April 1923 di Bandung berlangsunglah pesta pernikahan Otto Iskandar Dinata.


Untuk melaksanakan cita-citanya itu Otto terus mengikuti kegiatan politik. Pada tahun 1924 Otto Iskandar dipindahkan ke Pekalongan. Jawa Tengah. Di kota batik ini ia giat membina rakyat agar mempunyai kesadaran nasional denagn kedudukan sebagai Wakil Ketua Cabang Budi Utomo, dan Komisaris Budi Utomo.


Ketika bertugas di Pekalongan ini, Otto tak segan mengkritik pejabat pemerintah yang merugikan rakyat. Sehingga otto terkenal saat itu dan disegani. Bahkan kemudian Otto Iskandar Dinata dipindahkan ke Jakarta tahun 1928.


Di Jakarta Otto Iskandar Dinata bertugas sebagai guru muhammadiyah. Sejak itu perhatian Otto betul-betul tercurah ke lapangan politik. Di tempat inilah, dirinya menjadi Kepala Sekolah dan mengajak kader Muhammadiyah lain yang juga pahlawan nasional, Ir. Djuanda Kartawidjaja mengabdi menjadi guru pada tahun 1933.


Bahkan yang kemudian memberi rekomendasi Djuanda untuk menjadi direktur atau kepala sekolah di AMS Muhammadiyah tersebut.


Demikian mengutip tulisanArya Ajisaka dalam Mengenal Pahlawan Indonesia (2008).


Muhammadiyah sendiri sudah hadir di Batavia (Jakarta) sejak tahun 1921. Tahun 1923 untuk yang pertama kalinya Muhammadiyah Cabang Jakarta berhasil membuka sekolah Kweekschool di gang kenari (Jakarta Pusat) yang dikepalai oleh R. Hidajatullah. Sementara murid-muridnya kebanyakan berasal dari luar Jawa, seperti dari Bengkulu, Liwa, Baturaja, Menggala, Palembang, Lahat, dan lain-lain.


Sekolah Algemene Middelbare School (AMS) yang merupakan sekolah Muhammadiyah, berlokasi di Jl. Kramat Raya 49, amat terkenal sewaktu di bawah pimpinan Ir. Djuanda dan Mr. Maria Ulfa. Rakhmad Zailani Kiki (Kepala Divisi Pengkajian dan Pendidikan Jakarta Islamic Centre) https://islamic-center.or.id/muhammadiyah-di-betawi).


Selama di Jakarta, Otto juga menjadi tokoh kunci Paguyuban Pasundan. Sebagai sosok pecinta sepakbola, Otto menggunakan olahraga ini sebagai salah satu alat perjuangan kemerdekaan.


Keterkaitan VIJ dengan pergerakan nasionalis semakin jelas terlihat dengan hadirnya Mohamad Hoesni Thamrin sebagai beschermheer (pelindung) dari VIJ. Tak berhenti di situ, beberapa tokoh penting nasional seperti Sastroamidjojo, Mr. Hadi, Koesoemah Atmadja ataupun Dr. Moewardi menjadi pelengkap organisasi VIJ.


Pergerakan VIJ tak main-main, apalagi setelah mereka berhasil memaksa M. H. Thamrin membeli sebuah lapangan di Pulo Piun yang masih kawasan Laan Trivelli, atau yang sekarang dikenal dengan Lapangan Petojo. Tahun 1930 Thamrin membangun pagar-pagar di lapangan itu dengan biaya mencapai 2.000 gulden.


Pada 28 November 1928, lahirlah VBB sebagai perserikatan awal yang ada di Batavia. Namun, setelah bond tersebut berdiri, banyak triksi di jajaran elite organisasi. Lepas dari rasa takut akan ancaman Belanda saat menggunakan nama Indonesia, akhirnya pada tanggal 30 Juni 1929 para pengurus sepakat mengganti nama VBB menjadi VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra).


Tahun 1928 sendiri tetap dipakai sebagai tahun kelahiran dari VIJ oleh para pengurus. Dalam buku 60 Tahun Persija dijelaskan bahwa lahirnya bond VIJ diprakarsai Soeri (Setiaki), A. Alie Soebrata (STER), A. Hamid (MOS), A. Soerodjo (Setiaki), Tamerin (BSVC), R. Soekardi (STER), dan M. E. Asra (STER).


Bulan Oktober, usaha perjuangan VIJ untuk bisa menjadi wadah sepak bola bagi klub lokal seantero Jakarta terus digelorakan. Selain itu mereka terus berkorespondesi dengan bond-bond daerah lain seperti Bandung, Solo, Mataram, dan Surabaya, VIJ juga melakukan pergerakan dengan tokoh nasional lainnya, yaitu Ir. Soeratin, Otto Iskandardinata, dan Mohamad Hoesni Thamrin


Uniknya Persija Jakarta dan Muhamadiyah sama-sama merayakan HUT pada bulan November. Tim Macan Kemayoran berdiri pada 28 November 1928. ***(SRS)

Iklan