Iklan

Iklan

,

Iklan

Inilah Perbedaan Pendekatan Memahami Islam Antara Salafi dan Muhammadiyah

Redaksi
Jumat, 17 Mei 2024, 12:24 WIB Last Updated 2024-05-17T05:24:19Z


JAKARTA
-- Diskusi tentang status halal atau haram musik, yang melibatkan Ustaz Adi Hidayat (UAH) dan beberapa dai serta ustaz yang diidentifikasi sebagai bagian dari gerakan Salafi, telah menarik minat masyarakat luas.


Kontroversi muncul ketika banyak dari kalangan tersebut tidak setuju dengan pendapat UAH yang menghubungkan Surah As-Syu’ara dengan musik. Selanjutnya, Direktur Quantum Akhyar Institute itu juga menjelaskan bahwa hukum mengenai musik bisa bervariasi dari halal hingga haram, menurut pandangan ulama yang ada dari tiga aspek. Ada yang mengharamkan mutlak, ada yang menghalalkan mutlak, dan ada yang menghalalkan dengan catatan.


Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: Apa itu gerakan Salafi? Bagaimana perbedaannya dengan gerakan seperti Muhammadiyah di Indonesia yang juga berupaya kembali kepada ajaran Alquran dan Sunnah?


Gerakan Salafi dan Muhammadiyah merupakan dua entitas dalam Islam yang sering dibandingkan. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yaitu mengembalikan umat Islam kepada ajaran Alquran dan Sunnah, namun cara pendekatannya berbeda. 


Berikut adalah gambaran umum mengenai latar belakang dan perbedaan antara gerakan Salafi dan Muhammadiyah dikutip dari berbagai sumber pusat resmi Muhammadiyah dan laman Rumaysho.


Asal Usul Gerakan Salafi


Gerakan Salafi muncul sebagai reaksi terhadap apa yang dipandang sebagai kemerosotan dalam pemahaman dan praktik Islam setelah jatuhnya Baghdad di tangan bangsa Mongol pada tahun 1258 M. Ini adalah masa ketika umat Islam, menurut beberapa cendekiawan, mulai terjebak dalam praktek syirik dan bid'ah karena jauh dari ajaran asli Islam yang bersumber dari Alquran dan Sunnah.


Salafiyah, yang berarti "pendahulu" atau "yang telah berlalu", bertujuan untuk menghidupkan kembali ajaran dari tiga generasi pertama umat Islam—yaitu Sahabat Nabi, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabi'in—yang dianggap sebagai zaman keemasan pemahaman Islam yang murni.


Di sisi lain, Muhammadiyah, yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912 di Yogyakarta, Indonesia, adalah gerakan pembaruan Islam yang juga menekankan kembali kepada Alquran dan Sunnah tetapi dengan pendekatan yang berbeda. 


Muhammadiyah dikenal dengan penerapan Islam yang rasional dan modern serta terbuka terhadap kemajuan dan adaptasi budaya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam.


Perbedaan Fundamental


1. Pemahaman Teks Keagamaan:


Salafi: Cenderung mengambil pemahaman literal dari teks keagamaan. Muhammadiyah: Menggunakan pendekatan rasional dan kontekstual dalam memahami teks keagamaan.


2. Sikap Terhadap Modernitas:


Salafi: Berhati-hati dalam menerima modernitas, menerima teknologi tetapi menolak elemen budaya yang dianggap bertentangan dengan ajaran Islam. Muhammadiyah: Lebih terbuka dalam menerima modernitas dan integrasi dengan nilai-nilai Islam, selama tidak bertentangan dengan dasar ajarannya.


3. Budaya dan Tradisi Lokal:

  

Salafi: Cenderung menolak budaya lokal yang tidak sesuai dengan tradisi Islam Arab. Muhammadiyah: Berusaha mengislamkan budaya lokal yang bertentangan dengan Islam dan menerima yang lainnya.


4. Peran Perempuan:


Salafi: Memiliki pandangan yang lebih tradisional terhadap peran perempuan, yang lebih banyak di rumah dan peran publik terbatas. Muhammadiyah: Mendorong pendidikan dan peran aktif perempuan di masyarakat, termasuk dalam pekerjaan dan pendidikan tinggi.


5. Pendekatan Terhadap Bid'ah dan Amal Kebajikan:


Salafi: Sangat ketat dalam menolak bid'ah dan menekankan pentingnya mengikuti sunnah Nabi secara ketat. Muhammadiyah: Lebih fleksibel, menggunakan pendekatan yang sistematis dan terstruktur dalam melaksanakan amal kebajikan dan pengembangan masyarakat.


Perbedaan ini tidak hanya menunjukkan keanekaragaman dalam praktik Islam tetapi juga bagaimana kedua gerakan ini menanggapi tantangan kontemporer dengan cara yang berbeda. 


Gerakan Salafi dan Muhammadiyah sama-sama berperan penting dalam diskursus Islam modern, terutama di Indonesia, dengan memberikan kontribusi yang signifikan dalam pendidikan, keagamaan, dan kegiatan sosial.***

Iklan